Program Homecare Jember Dinilai Mulia, tapi IDI Minta Beban Kerja Nakes Tak Diabaikan


Radar Jember – Layanan kesehatan tak selalu bisa dikejar pasien. Bagi warga dengan keterbatasan mobilitas, justru tenaga medis yang harus mendatangi rumah.
Skema inilah yang membuat program Homecare dinilai memiliki manfaat besar bagi masyarakat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember dr M. Ali Shodikin mengatakan Homecare dapat menjadi jawaban bagi warga yang kesulitan mengakses faskes.
Baca Juga: Bongkar Potensi Bahaya Jalur Gumitir Jember: Pohon Tua Tumbang Dan Ancaman Tanah Longsor!
Terutama pasien yang secara kondisi fisik tidak memungkinkan datang langsung ke puskesmas maupun layanan kesehatan lainnya.
Namun, kemudahan yang diterima masyarakat itu memiliki konsekuensi di sisi lain. Beban kerja nakes berpotensi bertambah seiring dengan aktivitas pelayanan yang harus dilakukan di luar fasilitas kesehatan.
“Program ini tentu sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sasaran. Kendati demikian, konsekuensinya adalah peningkatan volume kerja bagi para petugas medis,” ujar dr. Ali.
Karena itu, menurut dia, pengaturan beban kerja menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan. Dokter, perawat, bidan hingga tenaga gizi yang terlibat harus memiliki pembagian tugas dan jam kerja yang jelas.
Terlebih bagi nakes yang berstatus aparatur sipil negara (ASN). “Perlu ada pengaturan jam kerja dan beban tugas yang presisi agar aspek profesionalisme serta regulasi jam kerja ASN tetap terjaga,” katanya.
Baca Juga: Helm Bukan Pajangan! Satlantas Polres Jember Beberkan 29 Kasus Kecelakaan Sepeda Motor Sepekan
Selain urusan tenaga, keberlangsungan Homecare juga sangat bergantung pada dukungan anggaran. Pemkab Jember perlu memastikan kebutuhan lapangan, mulai obat-obatan, peralatan medis portabel, sarana transportasi hingga insentif atau honorarium bagi petugas dapat terpenuhi secara layak.
Untuk kasus tertentu, keterlibatan dokter spesialis melalui telemedicine dinilai bisa membantu nakes di lapangan.



