alexametrics
29.3 C
Jember
Tuesday, 30 November 2021

Hari Kesehatan Nasional, Semua Nakes Kerja Iklas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seminar nasional memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) dilangsungkan kemarin. Pada kesempatan itu, Bupati Jember Hendy Siswanto mengurai sejumlah tantangan yang masih menjadi PR di Jember dan perlu diselesaikan. Beberapa di antaranya adalah urusan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan stunting. Di sisi lain, adanya kemiskinan dan pandemi Covid-19 yang belum berakhir harus tetap diperhatikan.

Menurut Bupati Hendy, semua pihak perlu bergandengan tangan untuk menyelesaikan sejumlah hal yang kompleks tersebut. “Menurut saya, kita harus lebih banyak berintropeksi diri,” kata Bupati Hendy dalam seminar tersebut.

Dia menjelaskan, di Jember ada sebanyak 16 perguruan tinggi, 3 rumah sakit besar, dan rumah sakit swasta. Namun demikian, AKI/AKB dan stunting masih cukup tinggi. Bahkan, di beberapa lokasi juga ada kasus buta aksara. Belum lagi, kemiskinan di Jember yang masih berada pada kisaran angka 300 ribu warga miskin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hendy menegaskan, guna menuntaskan permasalahan yang sedemikian kompleks, maka negara harus hadir. Semua pihak, baik pemerintah, TNI, Polri, maupun elemen lain harus hadir untuk mengatasi kemiskinan dan permasalahan yang lain. “Kolaborasikan bahwa kesehatan penting, ekonomi juga tidak kalah penting,” paparnya. Untuk itulah, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Jember selayaknya bahu-membahu untuk menyejahterakan masyarakat melalui kesehatan dan perekonomian.

Pada kesempatan itu, Bupati Hendy mengapresiasi para tenaga kesehatan (nakes) di Jember. Baik dokter, perawat, bidan, maupun tenaga relawan, karena selama ini banyak membantu masyarakat, terlebih untuk urusan pandemi. “Seandainya saya bisa menjadi vaksinator, akan saya suntik mereka semua yang belum dapat vaksin,” candanya.

Sayangnya, tugas berat itu harus dilakukan oleh para nakes. Oleh karena itu, Hendy berharap mereka tetap bekerja dengan semangat dan ikhlas. “Ini semua adalah kegiatan kemanusiaan. Jadi, yang dipanggil keikhlasannya, bukan jabatannya,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seminar nasional memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) dilangsungkan kemarin. Pada kesempatan itu, Bupati Jember Hendy Siswanto mengurai sejumlah tantangan yang masih menjadi PR di Jember dan perlu diselesaikan. Beberapa di antaranya adalah urusan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan stunting. Di sisi lain, adanya kemiskinan dan pandemi Covid-19 yang belum berakhir harus tetap diperhatikan.

Menurut Bupati Hendy, semua pihak perlu bergandengan tangan untuk menyelesaikan sejumlah hal yang kompleks tersebut. “Menurut saya, kita harus lebih banyak berintropeksi diri,” kata Bupati Hendy dalam seminar tersebut.

Dia menjelaskan, di Jember ada sebanyak 16 perguruan tinggi, 3 rumah sakit besar, dan rumah sakit swasta. Namun demikian, AKI/AKB dan stunting masih cukup tinggi. Bahkan, di beberapa lokasi juga ada kasus buta aksara. Belum lagi, kemiskinan di Jember yang masih berada pada kisaran angka 300 ribu warga miskin.

Hendy menegaskan, guna menuntaskan permasalahan yang sedemikian kompleks, maka negara harus hadir. Semua pihak, baik pemerintah, TNI, Polri, maupun elemen lain harus hadir untuk mengatasi kemiskinan dan permasalahan yang lain. “Kolaborasikan bahwa kesehatan penting, ekonomi juga tidak kalah penting,” paparnya. Untuk itulah, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Jember selayaknya bahu-membahu untuk menyejahterakan masyarakat melalui kesehatan dan perekonomian.

Pada kesempatan itu, Bupati Hendy mengapresiasi para tenaga kesehatan (nakes) di Jember. Baik dokter, perawat, bidan, maupun tenaga relawan, karena selama ini banyak membantu masyarakat, terlebih untuk urusan pandemi. “Seandainya saya bisa menjadi vaksinator, akan saya suntik mereka semua yang belum dapat vaksin,” candanya.

Sayangnya, tugas berat itu harus dilakukan oleh para nakes. Oleh karena itu, Hendy berharap mereka tetap bekerja dengan semangat dan ikhlas. “Ini semua adalah kegiatan kemanusiaan. Jadi, yang dipanggil keikhlasannya, bukan jabatannya,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seminar nasional memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) dilangsungkan kemarin. Pada kesempatan itu, Bupati Jember Hendy Siswanto mengurai sejumlah tantangan yang masih menjadi PR di Jember dan perlu diselesaikan. Beberapa di antaranya adalah urusan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan stunting. Di sisi lain, adanya kemiskinan dan pandemi Covid-19 yang belum berakhir harus tetap diperhatikan.

Menurut Bupati Hendy, semua pihak perlu bergandengan tangan untuk menyelesaikan sejumlah hal yang kompleks tersebut. “Menurut saya, kita harus lebih banyak berintropeksi diri,” kata Bupati Hendy dalam seminar tersebut.

Dia menjelaskan, di Jember ada sebanyak 16 perguruan tinggi, 3 rumah sakit besar, dan rumah sakit swasta. Namun demikian, AKI/AKB dan stunting masih cukup tinggi. Bahkan, di beberapa lokasi juga ada kasus buta aksara. Belum lagi, kemiskinan di Jember yang masih berada pada kisaran angka 300 ribu warga miskin.

Hendy menegaskan, guna menuntaskan permasalahan yang sedemikian kompleks, maka negara harus hadir. Semua pihak, baik pemerintah, TNI, Polri, maupun elemen lain harus hadir untuk mengatasi kemiskinan dan permasalahan yang lain. “Kolaborasikan bahwa kesehatan penting, ekonomi juga tidak kalah penting,” paparnya. Untuk itulah, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Jember selayaknya bahu-membahu untuk menyejahterakan masyarakat melalui kesehatan dan perekonomian.

Pada kesempatan itu, Bupati Hendy mengapresiasi para tenaga kesehatan (nakes) di Jember. Baik dokter, perawat, bidan, maupun tenaga relawan, karena selama ini banyak membantu masyarakat, terlebih untuk urusan pandemi. “Seandainya saya bisa menjadi vaksinator, akan saya suntik mereka semua yang belum dapat vaksin,” candanya.

Sayangnya, tugas berat itu harus dilakukan oleh para nakes. Oleh karena itu, Hendy berharap mereka tetap bekerja dengan semangat dan ikhlas. “Ini semua adalah kegiatan kemanusiaan. Jadi, yang dipanggil keikhlasannya, bukan jabatannya,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca