alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Tahukah Anda Resiko Nikah Dini ? Simak Penjelasan Berikut

Nikah Dini Berisiko Alami Penyakit Reproduksi

Mobile_AP_Rectangle 1

ANTIROGO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memberi sumbangan besar bagi angka perkawinan dini. Berdasarkan riset (Fakultas Kesehatan Masyarakat FKM) Universitas Jember (Unej), setidaknya terdapat 28,15 persen perempuan menikah dalam usia anak. Rata-rata usia menikah mereka adalah 15 tahun. Sedangkan dari total pernikahan anak yang tercatat di Jember, mayoritas atau sebanyak 62,28 persen terjadi pada perempuan. Padahal, berdasarkan studi, anak yang menikah di usia dini berisiko mengalami penyakit reproduksi.

Di sisi lain, perkawinan di usia muda juga rentan menjadi penyebab perceraian. Merujuk data 2020 lalu, tercatat 5.998 kasus perceraian. Sebagian di antaranya terjadi pada pasangan usia muda. Hal ini menandakan banyak pasangan muda yang sebenarnya tidak siap menjalani pernikahan. Penyebab utamanya adalah ketidaksiapan fisik, psikologi, dan finansial.

Dosen FKM Unej yang juga praktisi kesehatan ibu dan anak, Elok Permatasari, menilai akses informasi pernikahan bagi remaja sangat penting agar usia remaja memiliki cukup literasi mengenai kesehatan reproduksi. Dengan itu, mereka dapat memiliki sikap serta tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. “Teman-teman punya hak untuk menikah. Namun, sebelum menikah harus mempunyai pemahaman kesehatan reproduksi. Jadi, bisa tahu dampaknya bagaimana,” jelas Elok ketika sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi kepada siswi MTs Nuris di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Elok, literasi reproduksi remaja saat ini masih terbatas. Sekalipun sudah banyak yang bisa diakses remaja untuk mencari jawaban atas keingintahuannya tentang kesehatan reproduksi, namun sumber yang valid dan relevan juga perlu diperhatikan. Di sisi lain, hal yang perlu diperhatikan adalah kepekaan orang tua karena masih memegang peranan penting sebagai garda terdepan perlindungan terhadap anak dan remaja. “Peran orang tua sangat penting untuk mendampingi anak-anak dalam mendapatkan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Seyogianya, kondisi pembelajaran yang dilakukan secara daring selama pandemi menjadi keuntungan bagi orang tua untuk lebih intens memantau perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Bukan membiarkan dan memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya dalam mengakses informasi melalui digital.

- Advertisement -

ANTIROGO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memberi sumbangan besar bagi angka perkawinan dini. Berdasarkan riset (Fakultas Kesehatan Masyarakat FKM) Universitas Jember (Unej), setidaknya terdapat 28,15 persen perempuan menikah dalam usia anak. Rata-rata usia menikah mereka adalah 15 tahun. Sedangkan dari total pernikahan anak yang tercatat di Jember, mayoritas atau sebanyak 62,28 persen terjadi pada perempuan. Padahal, berdasarkan studi, anak yang menikah di usia dini berisiko mengalami penyakit reproduksi.

Di sisi lain, perkawinan di usia muda juga rentan menjadi penyebab perceraian. Merujuk data 2020 lalu, tercatat 5.998 kasus perceraian. Sebagian di antaranya terjadi pada pasangan usia muda. Hal ini menandakan banyak pasangan muda yang sebenarnya tidak siap menjalani pernikahan. Penyebab utamanya adalah ketidaksiapan fisik, psikologi, dan finansial.

Dosen FKM Unej yang juga praktisi kesehatan ibu dan anak, Elok Permatasari, menilai akses informasi pernikahan bagi remaja sangat penting agar usia remaja memiliki cukup literasi mengenai kesehatan reproduksi. Dengan itu, mereka dapat memiliki sikap serta tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. “Teman-teman punya hak untuk menikah. Namun, sebelum menikah harus mempunyai pemahaman kesehatan reproduksi. Jadi, bisa tahu dampaknya bagaimana,” jelas Elok ketika sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi kepada siswi MTs Nuris di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, belum lama ini.

Menurut Elok, literasi reproduksi remaja saat ini masih terbatas. Sekalipun sudah banyak yang bisa diakses remaja untuk mencari jawaban atas keingintahuannya tentang kesehatan reproduksi, namun sumber yang valid dan relevan juga perlu diperhatikan. Di sisi lain, hal yang perlu diperhatikan adalah kepekaan orang tua karena masih memegang peranan penting sebagai garda terdepan perlindungan terhadap anak dan remaja. “Peran orang tua sangat penting untuk mendampingi anak-anak dalam mendapatkan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Seyogianya, kondisi pembelajaran yang dilakukan secara daring selama pandemi menjadi keuntungan bagi orang tua untuk lebih intens memantau perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Bukan membiarkan dan memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya dalam mengakses informasi melalui digital.

ANTIROGO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memberi sumbangan besar bagi angka perkawinan dini. Berdasarkan riset (Fakultas Kesehatan Masyarakat FKM) Universitas Jember (Unej), setidaknya terdapat 28,15 persen perempuan menikah dalam usia anak. Rata-rata usia menikah mereka adalah 15 tahun. Sedangkan dari total pernikahan anak yang tercatat di Jember, mayoritas atau sebanyak 62,28 persen terjadi pada perempuan. Padahal, berdasarkan studi, anak yang menikah di usia dini berisiko mengalami penyakit reproduksi.

Di sisi lain, perkawinan di usia muda juga rentan menjadi penyebab perceraian. Merujuk data 2020 lalu, tercatat 5.998 kasus perceraian. Sebagian di antaranya terjadi pada pasangan usia muda. Hal ini menandakan banyak pasangan muda yang sebenarnya tidak siap menjalani pernikahan. Penyebab utamanya adalah ketidaksiapan fisik, psikologi, dan finansial.

Dosen FKM Unej yang juga praktisi kesehatan ibu dan anak, Elok Permatasari, menilai akses informasi pernikahan bagi remaja sangat penting agar usia remaja memiliki cukup literasi mengenai kesehatan reproduksi. Dengan itu, mereka dapat memiliki sikap serta tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. “Teman-teman punya hak untuk menikah. Namun, sebelum menikah harus mempunyai pemahaman kesehatan reproduksi. Jadi, bisa tahu dampaknya bagaimana,” jelas Elok ketika sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi kepada siswi MTs Nuris di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, belum lama ini.

Menurut Elok, literasi reproduksi remaja saat ini masih terbatas. Sekalipun sudah banyak yang bisa diakses remaja untuk mencari jawaban atas keingintahuannya tentang kesehatan reproduksi, namun sumber yang valid dan relevan juga perlu diperhatikan. Di sisi lain, hal yang perlu diperhatikan adalah kepekaan orang tua karena masih memegang peranan penting sebagai garda terdepan perlindungan terhadap anak dan remaja. “Peran orang tua sangat penting untuk mendampingi anak-anak dalam mendapatkan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Seyogianya, kondisi pembelajaran yang dilakukan secara daring selama pandemi menjadi keuntungan bagi orang tua untuk lebih intens memantau perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Bukan membiarkan dan memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya dalam mengakses informasi melalui digital.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/