alexametrics
31.6 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Komentar Bupati Jember Terkait Sebab Tingginya Kasus Stunting

Wes Wayahe Jember Bebas Stunting

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten Jember memiliki PR yang harus segera diselesaikan bersama-sama. Salah satunya terkait tingginya angka bayi stunting di Kabupaten Jember.

Berdasar hasil operasi timbang pada Februari 2021, ada sebanyak 20.506 balita stunting di Kabupaten Jember. Sementara itu, tercatat juga ada 5.780 ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi stunting.

Lantas, bagaimana upaya Pemerintah Kabupaten Jember menekan angka itu? Mengingat, Jember merupakan daerah dengan kasus stunting tertinggi kedua di Jawa Timur. “Masalah stunting ini bukan permasalahan mereka sendiri (keluarga stunting, Red), tapi kita semua harus bertanggung jawab,” ungkapnya. Terlebih para pemangku kepentingan alias organisasi perangkat daerah (OPD).

Mobile_AP_Rectangle 2

Contohnya, dinas yang terkait dengan perbaikan infrastruktur. Menurut Hendy, hal tersebut terkadang membuat lengah. Karena tidak menaungi langsung, sehingga terkesan cuek. Dia menambahkan bahwa letak geografis Jember seharusnya menjadi persoalan. Jadi, tidak melulu berpangku tangan pada Dinas Kesehatan dan DP3AKB. Artinya, bagaimana pemerintah bisa segera memperbaiki infratsrukturnya. “Tahun kemarin kita dijuluki daerah seribu lubang. Saat ini bakal kami perbaiki seribu lubang itu,” tegasnya.

Mengapa begitu penting, termasuk dalam penanganan stunting? Sebab, bagi yang rumahnya di pelosok, lanjutnya, mereka tidak bisa turun. Artinya, ekonomi tidak jalan. Selain itu, pendidikan dan ekonomi tak lancar sehingga banyak yang menikah muda.

Karena kurangnya wawasan, hal itu malah meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB). “Bahkan, tercatat sebanyak 40 persen warga Jember yang miskin ada di gunung karena tak dapat akses ke kota,” lanjutnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyusun rencana bersama guna mengatasi tingginya angka stunting di Kabupaten Jember, termasuk menekan AKI/AKB. “Kita punya 2876 pos layanan terpadu (posyandu) di Jember,” ungkapnya. Ke depannya bakal lebih dioptimalkan untuk menangani berbagai permasalahan kesehatan.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten Jember memiliki PR yang harus segera diselesaikan bersama-sama. Salah satunya terkait tingginya angka bayi stunting di Kabupaten Jember.

Berdasar hasil operasi timbang pada Februari 2021, ada sebanyak 20.506 balita stunting di Kabupaten Jember. Sementara itu, tercatat juga ada 5.780 ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi stunting.

Lantas, bagaimana upaya Pemerintah Kabupaten Jember menekan angka itu? Mengingat, Jember merupakan daerah dengan kasus stunting tertinggi kedua di Jawa Timur. “Masalah stunting ini bukan permasalahan mereka sendiri (keluarga stunting, Red), tapi kita semua harus bertanggung jawab,” ungkapnya. Terlebih para pemangku kepentingan alias organisasi perangkat daerah (OPD).

Contohnya, dinas yang terkait dengan perbaikan infrastruktur. Menurut Hendy, hal tersebut terkadang membuat lengah. Karena tidak menaungi langsung, sehingga terkesan cuek. Dia menambahkan bahwa letak geografis Jember seharusnya menjadi persoalan. Jadi, tidak melulu berpangku tangan pada Dinas Kesehatan dan DP3AKB. Artinya, bagaimana pemerintah bisa segera memperbaiki infratsrukturnya. “Tahun kemarin kita dijuluki daerah seribu lubang. Saat ini bakal kami perbaiki seribu lubang itu,” tegasnya.

Mengapa begitu penting, termasuk dalam penanganan stunting? Sebab, bagi yang rumahnya di pelosok, lanjutnya, mereka tidak bisa turun. Artinya, ekonomi tidak jalan. Selain itu, pendidikan dan ekonomi tak lancar sehingga banyak yang menikah muda.

Karena kurangnya wawasan, hal itu malah meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB). “Bahkan, tercatat sebanyak 40 persen warga Jember yang miskin ada di gunung karena tak dapat akses ke kota,” lanjutnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyusun rencana bersama guna mengatasi tingginya angka stunting di Kabupaten Jember, termasuk menekan AKI/AKB. “Kita punya 2876 pos layanan terpadu (posyandu) di Jember,” ungkapnya. Ke depannya bakal lebih dioptimalkan untuk menangani berbagai permasalahan kesehatan.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten Jember memiliki PR yang harus segera diselesaikan bersama-sama. Salah satunya terkait tingginya angka bayi stunting di Kabupaten Jember.

Berdasar hasil operasi timbang pada Februari 2021, ada sebanyak 20.506 balita stunting di Kabupaten Jember. Sementara itu, tercatat juga ada 5.780 ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi stunting.

Lantas, bagaimana upaya Pemerintah Kabupaten Jember menekan angka itu? Mengingat, Jember merupakan daerah dengan kasus stunting tertinggi kedua di Jawa Timur. “Masalah stunting ini bukan permasalahan mereka sendiri (keluarga stunting, Red), tapi kita semua harus bertanggung jawab,” ungkapnya. Terlebih para pemangku kepentingan alias organisasi perangkat daerah (OPD).

Contohnya, dinas yang terkait dengan perbaikan infrastruktur. Menurut Hendy, hal tersebut terkadang membuat lengah. Karena tidak menaungi langsung, sehingga terkesan cuek. Dia menambahkan bahwa letak geografis Jember seharusnya menjadi persoalan. Jadi, tidak melulu berpangku tangan pada Dinas Kesehatan dan DP3AKB. Artinya, bagaimana pemerintah bisa segera memperbaiki infratsrukturnya. “Tahun kemarin kita dijuluki daerah seribu lubang. Saat ini bakal kami perbaiki seribu lubang itu,” tegasnya.

Mengapa begitu penting, termasuk dalam penanganan stunting? Sebab, bagi yang rumahnya di pelosok, lanjutnya, mereka tidak bisa turun. Artinya, ekonomi tidak jalan. Selain itu, pendidikan dan ekonomi tak lancar sehingga banyak yang menikah muda.

Karena kurangnya wawasan, hal itu malah meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB). “Bahkan, tercatat sebanyak 40 persen warga Jember yang miskin ada di gunung karena tak dapat akses ke kota,” lanjutnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyusun rencana bersama guna mengatasi tingginya angka stunting di Kabupaten Jember, termasuk menekan AKI/AKB. “Kita punya 2876 pos layanan terpadu (posyandu) di Jember,” ungkapnya. Ke depannya bakal lebih dioptimalkan untuk menangani berbagai permasalahan kesehatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/