alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Klaim Pembiayaan Kanker Capai Rp 72 Miliar

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya kasus penyakit kanker rupanya berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan. Sebagai satu penyakit katastropik, biaya penyembuhan kanker memang tergolong cukup besar. Sehingga banyak pasien yang menggantungkan pembiayaannya pada BPJS Kesehatan.

Data BPJS Kesehatan Jember menyebutkan, sepanjang 2020, setidaknya terdapat 250.611 kunjungan pasien kanker. Jumlah tersebut merupakan kasus pasien yang melakukan kunjungan di Jember. Mereka bisa berasal dari daerah lain yang berobat di rumah sakit Jember. Sebab, di Kabupaten Pandhalungan ini, ada dua rumah sakit yang menjadi rujukan. Yakni RSD dr Soebandi dan RS Baladhika Husada atau RS DKT Jember.

Kepala BPJS Jember Antokalina Sari Verdiana mengungkapkan, jumlah total pengobatan kasus kanker tersebut merupakan asumsi kunjungan di Jember. “Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung,” ungkapnya, kemarin (22/2).

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, BPJS hanya dapat memberikan data kasus dalam kurun waktu 2020. Sehingga Jawa Pos Radar Jember tidak bisa membandingkan dengan jumlah kasus di tahun sebelumnya untuk mengetahui apakah ada tren kenaikan kasus pasien kanker yang menggunakan fasilitas BPJS atau tidak. Sementara, besaran biaya yang dikeluarkan BPJS untuk pengobatan kanker selama kurun waktu 2020 mencapai Rp 72.701.815.900.

Antokalina menambahkan, semua biaya pengobatan kemoterapi telah ditanggung oleh BPJS sesuai dengan cakupan yang harus diterima oleh pasien. “Kami bekerja sama dengan rumah sakit. Dari sisi layanan dan dokternya untuk proses kerja sama,” paparnya.

Di Jember, proses kemoterapi hanya dilakukan untuk kemoterapi lanjutan. Artinya, jika pasien terdeteksi kanker, maka mereka akan dirujuk ke Surabaya untuk menjalani kemoterapi. Lalu, kemoterapi selanjutnya dilakukan di Jember, yakni di RS DKT dan RS dr Soebandi. Diagnosis pertama dilakukan sesuai dengan protokol terapi, di mana fasilitas dan kelayakan pemeriksaan rumah sakit ada di RS DKT dan RS Soebandi.

Dia pun berharap, ada perhatian khusus dari BPJS pusat untuk melakukan penelitian kelayakan rumah sakit agar dapat melakukan kemoterapi. Sehingga, nantinya layanan kemoterapi untuk pasien kanker meningkat.

Antokalina juga menyebut, agar masyarakat desa yang menjadi pasien kanker dapat memperoleh layanan pengobatan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah agar mendaftarkan penduduknya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sedangkan untuk para pekerja, pihaknya juga mengadvokasi di perusahaan. “Iuran yang dibebankan bisa dibiayai oleh pemerintah daerah. Pemerintah provinsi juga bisa. Intinya, target dari pemerintah adalah keikutsertaan jaminan kesehatan secara universal coverage,” pungkasnya.

“Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung.” Antokalina Sari Verdiana, Kepala BPJS Jember.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya kasus penyakit kanker rupanya berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan. Sebagai satu penyakit katastropik, biaya penyembuhan kanker memang tergolong cukup besar. Sehingga banyak pasien yang menggantungkan pembiayaannya pada BPJS Kesehatan.

Data BPJS Kesehatan Jember menyebutkan, sepanjang 2020, setidaknya terdapat 250.611 kunjungan pasien kanker. Jumlah tersebut merupakan kasus pasien yang melakukan kunjungan di Jember. Mereka bisa berasal dari daerah lain yang berobat di rumah sakit Jember. Sebab, di Kabupaten Pandhalungan ini, ada dua rumah sakit yang menjadi rujukan. Yakni RSD dr Soebandi dan RS Baladhika Husada atau RS DKT Jember.

Kepala BPJS Jember Antokalina Sari Verdiana mengungkapkan, jumlah total pengobatan kasus kanker tersebut merupakan asumsi kunjungan di Jember. “Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung,” ungkapnya, kemarin (22/2).

Mobile_AP_Half Page

Namun, BPJS hanya dapat memberikan data kasus dalam kurun waktu 2020. Sehingga Jawa Pos Radar Jember tidak bisa membandingkan dengan jumlah kasus di tahun sebelumnya untuk mengetahui apakah ada tren kenaikan kasus pasien kanker yang menggunakan fasilitas BPJS atau tidak. Sementara, besaran biaya yang dikeluarkan BPJS untuk pengobatan kanker selama kurun waktu 2020 mencapai Rp 72.701.815.900.

Antokalina menambahkan, semua biaya pengobatan kemoterapi telah ditanggung oleh BPJS sesuai dengan cakupan yang harus diterima oleh pasien. “Kami bekerja sama dengan rumah sakit. Dari sisi layanan dan dokternya untuk proses kerja sama,” paparnya.

Di Jember, proses kemoterapi hanya dilakukan untuk kemoterapi lanjutan. Artinya, jika pasien terdeteksi kanker, maka mereka akan dirujuk ke Surabaya untuk menjalani kemoterapi. Lalu, kemoterapi selanjutnya dilakukan di Jember, yakni di RS DKT dan RS dr Soebandi. Diagnosis pertama dilakukan sesuai dengan protokol terapi, di mana fasilitas dan kelayakan pemeriksaan rumah sakit ada di RS DKT dan RS Soebandi.

Dia pun berharap, ada perhatian khusus dari BPJS pusat untuk melakukan penelitian kelayakan rumah sakit agar dapat melakukan kemoterapi. Sehingga, nantinya layanan kemoterapi untuk pasien kanker meningkat.

Antokalina juga menyebut, agar masyarakat desa yang menjadi pasien kanker dapat memperoleh layanan pengobatan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah agar mendaftarkan penduduknya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sedangkan untuk para pekerja, pihaknya juga mengadvokasi di perusahaan. “Iuran yang dibebankan bisa dibiayai oleh pemerintah daerah. Pemerintah provinsi juga bisa. Intinya, target dari pemerintah adalah keikutsertaan jaminan kesehatan secara universal coverage,” pungkasnya.

“Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung.” Antokalina Sari Verdiana, Kepala BPJS Jember.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya kasus penyakit kanker rupanya berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan. Sebagai satu penyakit katastropik, biaya penyembuhan kanker memang tergolong cukup besar. Sehingga banyak pasien yang menggantungkan pembiayaannya pada BPJS Kesehatan.

Data BPJS Kesehatan Jember menyebutkan, sepanjang 2020, setidaknya terdapat 250.611 kunjungan pasien kanker. Jumlah tersebut merupakan kasus pasien yang melakukan kunjungan di Jember. Mereka bisa berasal dari daerah lain yang berobat di rumah sakit Jember. Sebab, di Kabupaten Pandhalungan ini, ada dua rumah sakit yang menjadi rujukan. Yakni RSD dr Soebandi dan RS Baladhika Husada atau RS DKT Jember.

Kepala BPJS Jember Antokalina Sari Verdiana mengungkapkan, jumlah total pengobatan kasus kanker tersebut merupakan asumsi kunjungan di Jember. “Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung,” ungkapnya, kemarin (22/2).

Namun, BPJS hanya dapat memberikan data kasus dalam kurun waktu 2020. Sehingga Jawa Pos Radar Jember tidak bisa membandingkan dengan jumlah kasus di tahun sebelumnya untuk mengetahui apakah ada tren kenaikan kasus pasien kanker yang menggunakan fasilitas BPJS atau tidak. Sementara, besaran biaya yang dikeluarkan BPJS untuk pengobatan kanker selama kurun waktu 2020 mencapai Rp 72.701.815.900.

Antokalina menambahkan, semua biaya pengobatan kemoterapi telah ditanggung oleh BPJS sesuai dengan cakupan yang harus diterima oleh pasien. “Kami bekerja sama dengan rumah sakit. Dari sisi layanan dan dokternya untuk proses kerja sama,” paparnya.

Di Jember, proses kemoterapi hanya dilakukan untuk kemoterapi lanjutan. Artinya, jika pasien terdeteksi kanker, maka mereka akan dirujuk ke Surabaya untuk menjalani kemoterapi. Lalu, kemoterapi selanjutnya dilakukan di Jember, yakni di RS DKT dan RS dr Soebandi. Diagnosis pertama dilakukan sesuai dengan protokol terapi, di mana fasilitas dan kelayakan pemeriksaan rumah sakit ada di RS DKT dan RS Soebandi.

Dia pun berharap, ada perhatian khusus dari BPJS pusat untuk melakukan penelitian kelayakan rumah sakit agar dapat melakukan kemoterapi. Sehingga, nantinya layanan kemoterapi untuk pasien kanker meningkat.

Antokalina juga menyebut, agar masyarakat desa yang menjadi pasien kanker dapat memperoleh layanan pengobatan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah agar mendaftarkan penduduknya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sedangkan untuk para pekerja, pihaknya juga mengadvokasi di perusahaan. “Iuran yang dibebankan bisa dibiayai oleh pemerintah daerah. Pemerintah provinsi juga bisa. Intinya, target dari pemerintah adalah keikutsertaan jaminan kesehatan secara universal coverage,” pungkasnya.

“Satu orang bisa jadi lebih dari satu kasus. Kami menghitungnya dari jumlah kunjungan dan rawat jalan selama pengobatan berlangsung.” Antokalina Sari Verdiana, Kepala BPJS Jember.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2