alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Efek Pandemi, Stunting Diprediksi Meningkat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/