alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Efek Pandemi, Stunting Diprediksi Meningkat

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

Gizi seimbang itu, kata dia, berarti mengonsumsi makanan yang mengandung gizi lengkap. Karbohidrat seperti nasi, umbi, roti, dan mi. Protein dan lemak yang berasal dari ikan, telur, daging ayam, daging sapi, dan kacang-kacangan. Juga vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah. “Jumlah konsumsinya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas, dan kondisi fisiologis,” tutur perempuan kelahiran Pamekasan tersebut.

Dia menegaskan, di tengah keterbatasan, masyarakat Jember tetap harus mengupayakan untuk pemenuhan gizi seimbang dan bisa mengoptimalkan pangan lokal. Caranya dengan mengoptimalkan pekarangan yang ada. Yakni memanfaatkannya dengan menanami berbagai bahan makanan yang bisa dikonsumsi untuk pemenuhan gizi seimbang.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Mobile_AP_Half Page

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

Gizi seimbang itu, kata dia, berarti mengonsumsi makanan yang mengandung gizi lengkap. Karbohidrat seperti nasi, umbi, roti, dan mi. Protein dan lemak yang berasal dari ikan, telur, daging ayam, daging sapi, dan kacang-kacangan. Juga vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah. “Jumlah konsumsinya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas, dan kondisi fisiologis,” tutur perempuan kelahiran Pamekasan tersebut.

Dia menegaskan, di tengah keterbatasan, masyarakat Jember tetap harus mengupayakan untuk pemenuhan gizi seimbang dan bisa mengoptimalkan pangan lokal. Caranya dengan mengoptimalkan pekarangan yang ada. Yakni memanfaatkannya dengan menanami berbagai bahan makanan yang bisa dikonsumsi untuk pemenuhan gizi seimbang.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang berdampak terhadap penurunan ekonomi diprediksi bakal memengaruhi pemenuhan gizi pada anak. Karena banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, akses mereka dalam memenuhi kebutuhan gizi anak semakin lemah. Hal ini diperkirakan bakal membuat angka stunting di Jember ikut terkerek naik.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini,” tutur Dr Dewi Rokhmah, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), belum lama ini. Menurut dia, peningkatan angka stunting itu salah satunya karena para petugas kesehatan sulit terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penanggulangan stunting.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor perekonomian yang juga terdampak berakibat terhadap pengurangan pendapatan keluarga. Kondisi ini disebutnya dapat memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. “Status gizi balita dapat berubah seiring dengan status ekonomi dalam keluarga. Bila daya beli makanan rendah, atau orang tua hanya mampu membeli bahan makanan tertentu saja, hal itu bisa berakibat mengganggu status gizi balita,” paparnya.

“Salah satunya, kasus stunting di Jember. Diperkirakan, kasus itu naik saat pandemi ini.” Dr Dewi Rokhmah, Dosen FKM Unej.

Berdasar data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada 2018, kasus stunting di Jember memang sempat turun dari tahun sebelumnya. Meski turun, tapi ada beberapa kecamatan yang masih menjadi sorotan karena memiliki jumlah kasus balita stunting lebih dari 20 persen dari jumlah balita yang ada. Padahal, berdasar data WHO, daerah dikatakan rawan jika 20 persen atau lebih balitanya mengalami stunting.

Lalu, bagaimana solusinya? Dekan FKM Unej Dr Farida Wahyu Ningtyias menerangkan, dalam kondisi yang sulit ini masyarakat Jember harus tetap memperhatikan gizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh, meski berada di masa pandemi. “Bisa dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal, sehingga tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” terangnya.

Gizi seimbang itu, kata dia, berarti mengonsumsi makanan yang mengandung gizi lengkap. Karbohidrat seperti nasi, umbi, roti, dan mi. Protein dan lemak yang berasal dari ikan, telur, daging ayam, daging sapi, dan kacang-kacangan. Juga vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah. “Jumlah konsumsinya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Mulai usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas, dan kondisi fisiologis,” tutur perempuan kelahiran Pamekasan tersebut.

Dia menegaskan, di tengah keterbatasan, masyarakat Jember tetap harus mengupayakan untuk pemenuhan gizi seimbang dan bisa mengoptimalkan pangan lokal. Caranya dengan mengoptimalkan pekarangan yang ada. Yakni memanfaatkannya dengan menanami berbagai bahan makanan yang bisa dikonsumsi untuk pemenuhan gizi seimbang.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2