alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Waspadai Mitos Penanganan Diabetes

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penderita diabetes memang wajib mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung glukosa berlebih. Bisa dengan mengonsumsi teh pahit atau mengurangi camilan manis. Jika tidak, kondisi gula darah dapat meningkat sehingga membuat penderita menjadi lebih parah.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana cara penanganan terhadap penyakit tidak menular tersebut. Bahkan, ada yang termakan mitos-mitos yang tersebar dari mulut ke mulut. Novitasari, misalnya. Perempuan 25 tahun itu kerap menyaksikan edukasi kesehatan di salah satu media televisi akhir-akhir ini. “Soalnya, papa saya menderita diabetes. Jadi, saya sering penasaran jika ada edukasi kesehatan seputar diabetes,” lanjut warga Dusun Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu, itu.

Novi mengaku, dalam siaran itu ada edukasi yang menerangkan bahwa kandungan glukosa pada nasi berbeda jika dimakan dalam keadaan panas dan dingin. Dianjurkan, lebih baik memakan nasi yang sudah didinginkan karena kandungan glukosanya lebih rendah. Dia sebenarnya agak ragu, dan butuh penjelasan apakah hal itu benar?

Mobile_AP_Rectangle 2

Dokter spesialis penyakit dalam di RSD dr Soebandi, dr Arif Suseno menerangkan, memang masih banyak orang yang beranggapan bahwa nasi panas memiliki kandungan gula yang cenderung tinggi. Sehingga memicu meningkatnya kadar gula dalam darah. Padahal tidak ada bedanya. “Kandungan kalori dari nasi panas maupun nasi dingin cenderung sama saja. Yakni 175 kalori untuk 100 gram,” terangnya.

Menjadi pembeda di antara keduanya, yakni dari indeks glikemik. Nasi dingin jauh lebih menurun jika dibandingkan dengan nasi yang masih panas. Sebab, nasi dingin lebih lama dicerna oleh mulut dan mencegah kenaikan gula darah dengan waktu yang cepat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penderita diabetes memang wajib mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung glukosa berlebih. Bisa dengan mengonsumsi teh pahit atau mengurangi camilan manis. Jika tidak, kondisi gula darah dapat meningkat sehingga membuat penderita menjadi lebih parah.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana cara penanganan terhadap penyakit tidak menular tersebut. Bahkan, ada yang termakan mitos-mitos yang tersebar dari mulut ke mulut. Novitasari, misalnya. Perempuan 25 tahun itu kerap menyaksikan edukasi kesehatan di salah satu media televisi akhir-akhir ini. “Soalnya, papa saya menderita diabetes. Jadi, saya sering penasaran jika ada edukasi kesehatan seputar diabetes,” lanjut warga Dusun Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu, itu.

Novi mengaku, dalam siaran itu ada edukasi yang menerangkan bahwa kandungan glukosa pada nasi berbeda jika dimakan dalam keadaan panas dan dingin. Dianjurkan, lebih baik memakan nasi yang sudah didinginkan karena kandungan glukosanya lebih rendah. Dia sebenarnya agak ragu, dan butuh penjelasan apakah hal itu benar?

Dokter spesialis penyakit dalam di RSD dr Soebandi, dr Arif Suseno menerangkan, memang masih banyak orang yang beranggapan bahwa nasi panas memiliki kandungan gula yang cenderung tinggi. Sehingga memicu meningkatnya kadar gula dalam darah. Padahal tidak ada bedanya. “Kandungan kalori dari nasi panas maupun nasi dingin cenderung sama saja. Yakni 175 kalori untuk 100 gram,” terangnya.

Menjadi pembeda di antara keduanya, yakni dari indeks glikemik. Nasi dingin jauh lebih menurun jika dibandingkan dengan nasi yang masih panas. Sebab, nasi dingin lebih lama dicerna oleh mulut dan mencegah kenaikan gula darah dengan waktu yang cepat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penderita diabetes memang wajib mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung glukosa berlebih. Bisa dengan mengonsumsi teh pahit atau mengurangi camilan manis. Jika tidak, kondisi gula darah dapat meningkat sehingga membuat penderita menjadi lebih parah.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum tahu bagaimana cara penanganan terhadap penyakit tidak menular tersebut. Bahkan, ada yang termakan mitos-mitos yang tersebar dari mulut ke mulut. Novitasari, misalnya. Perempuan 25 tahun itu kerap menyaksikan edukasi kesehatan di salah satu media televisi akhir-akhir ini. “Soalnya, papa saya menderita diabetes. Jadi, saya sering penasaran jika ada edukasi kesehatan seputar diabetes,” lanjut warga Dusun Krajan Timur, Desa/Kecamatan Ambulu, itu.

Novi mengaku, dalam siaran itu ada edukasi yang menerangkan bahwa kandungan glukosa pada nasi berbeda jika dimakan dalam keadaan panas dan dingin. Dianjurkan, lebih baik memakan nasi yang sudah didinginkan karena kandungan glukosanya lebih rendah. Dia sebenarnya agak ragu, dan butuh penjelasan apakah hal itu benar?

Dokter spesialis penyakit dalam di RSD dr Soebandi, dr Arif Suseno menerangkan, memang masih banyak orang yang beranggapan bahwa nasi panas memiliki kandungan gula yang cenderung tinggi. Sehingga memicu meningkatnya kadar gula dalam darah. Padahal tidak ada bedanya. “Kandungan kalori dari nasi panas maupun nasi dingin cenderung sama saja. Yakni 175 kalori untuk 100 gram,” terangnya.

Menjadi pembeda di antara keduanya, yakni dari indeks glikemik. Nasi dingin jauh lebih menurun jika dibandingkan dengan nasi yang masih panas. Sebab, nasi dingin lebih lama dicerna oleh mulut dan mencegah kenaikan gula darah dengan waktu yang cepat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/