alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pantau Praktik Curang Rumah Sakit

Layanan Pasien Pengguna BPJS Kesehatan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit kanker tidak hanya membutuhkan waktu lama untuk diketahui gejalanya, tapi juga membutuhkan waktu lama pula untuk pengobatannya. Padahal, obat-obatan dan tindakan yang digunakan menghilangkan sel kanker tergolong mahal, dan harus digunakan berkelanjutan hingga pasien dinyatakan bebas dari kanker.

Sebagai gambaran, biaya sekali kemoterapi berkisar antara Rp 4-6 juta. Sementara, biaya tes pencitraan untuk mengetahui kondisi sel kanker atau PET scan (positron emission tomography) mencapai Rp 11-16 juta. Karena itu, tak sedikit masyarakat yang menggantungkan proses penyembuhan kanker pada pembiayaan BPJS Kesehatan.

Nadhifa dari BPJS Watch mengungkapkan, keperluan obat dan perawatan penderita kanker sudah diakomodasi oleh BPJS Kesehatan. Untuk mendapatkan pengobatan, para penyintas wajib melakukan tahapan administrasi yang berlaku.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walau kanker termasuk salah satu penyakit katastropik, perlakuan perawatannya tetap sama. Tidak ada yang membedakan dengan pasien BPJS Kesehatan lainnya. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan obat-obatan. “Misalnya, dari fasilitas kesehatan satu ke faskes dua. Termasuk untuk melanjutkan ke faskes,” kata Nadhifa.

Meski telah terkaver BPJS Kesehatan, Nadhifa mengungkapkan, masih saja ada praktik lancung rumah sakit yang membebankan biaya kepada pasien. Mereka tetap diminta melakukan pembayaran secara mandiri. Namun, perempuan asal Kencong ini tidak mengurai secara gamblang rumah sakit mana saja yang dimaksud. Sebab, masih dalam proses pemantauan.

“Selama ini, saya lihat berjalan dengan baik saja. Tapi, nyatanya tetap kecolongan. Ada beberapa rumah sakit yang melakukan tindakan curang. Petugas medis di sana membebankan pasien agar melakukan pembiayaan sendiri,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit kanker tidak hanya membutuhkan waktu lama untuk diketahui gejalanya, tapi juga membutuhkan waktu lama pula untuk pengobatannya. Padahal, obat-obatan dan tindakan yang digunakan menghilangkan sel kanker tergolong mahal, dan harus digunakan berkelanjutan hingga pasien dinyatakan bebas dari kanker.

Sebagai gambaran, biaya sekali kemoterapi berkisar antara Rp 4-6 juta. Sementara, biaya tes pencitraan untuk mengetahui kondisi sel kanker atau PET scan (positron emission tomography) mencapai Rp 11-16 juta. Karena itu, tak sedikit masyarakat yang menggantungkan proses penyembuhan kanker pada pembiayaan BPJS Kesehatan.

Nadhifa dari BPJS Watch mengungkapkan, keperluan obat dan perawatan penderita kanker sudah diakomodasi oleh BPJS Kesehatan. Untuk mendapatkan pengobatan, para penyintas wajib melakukan tahapan administrasi yang berlaku.

Walau kanker termasuk salah satu penyakit katastropik, perlakuan perawatannya tetap sama. Tidak ada yang membedakan dengan pasien BPJS Kesehatan lainnya. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan obat-obatan. “Misalnya, dari fasilitas kesehatan satu ke faskes dua. Termasuk untuk melanjutkan ke faskes,” kata Nadhifa.

Meski telah terkaver BPJS Kesehatan, Nadhifa mengungkapkan, masih saja ada praktik lancung rumah sakit yang membebankan biaya kepada pasien. Mereka tetap diminta melakukan pembayaran secara mandiri. Namun, perempuan asal Kencong ini tidak mengurai secara gamblang rumah sakit mana saja yang dimaksud. Sebab, masih dalam proses pemantauan.

“Selama ini, saya lihat berjalan dengan baik saja. Tapi, nyatanya tetap kecolongan. Ada beberapa rumah sakit yang melakukan tindakan curang. Petugas medis di sana membebankan pasien agar melakukan pembiayaan sendiri,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit kanker tidak hanya membutuhkan waktu lama untuk diketahui gejalanya, tapi juga membutuhkan waktu lama pula untuk pengobatannya. Padahal, obat-obatan dan tindakan yang digunakan menghilangkan sel kanker tergolong mahal, dan harus digunakan berkelanjutan hingga pasien dinyatakan bebas dari kanker.

Sebagai gambaran, biaya sekali kemoterapi berkisar antara Rp 4-6 juta. Sementara, biaya tes pencitraan untuk mengetahui kondisi sel kanker atau PET scan (positron emission tomography) mencapai Rp 11-16 juta. Karena itu, tak sedikit masyarakat yang menggantungkan proses penyembuhan kanker pada pembiayaan BPJS Kesehatan.

Nadhifa dari BPJS Watch mengungkapkan, keperluan obat dan perawatan penderita kanker sudah diakomodasi oleh BPJS Kesehatan. Untuk mendapatkan pengobatan, para penyintas wajib melakukan tahapan administrasi yang berlaku.

Walau kanker termasuk salah satu penyakit katastropik, perlakuan perawatannya tetap sama. Tidak ada yang membedakan dengan pasien BPJS Kesehatan lainnya. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan obat-obatan. “Misalnya, dari fasilitas kesehatan satu ke faskes dua. Termasuk untuk melanjutkan ke faskes,” kata Nadhifa.

Meski telah terkaver BPJS Kesehatan, Nadhifa mengungkapkan, masih saja ada praktik lancung rumah sakit yang membebankan biaya kepada pasien. Mereka tetap diminta melakukan pembayaran secara mandiri. Namun, perempuan asal Kencong ini tidak mengurai secara gamblang rumah sakit mana saja yang dimaksud. Sebab, masih dalam proses pemantauan.

“Selama ini, saya lihat berjalan dengan baik saja. Tapi, nyatanya tetap kecolongan. Ada beberapa rumah sakit yang melakukan tindakan curang. Petugas medis di sana membebankan pasien agar melakukan pembiayaan sendiri,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/