alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kok Bisa Hasil Swab Test Berbeda?

Guru SMKN 6 Jember Merasa Dirugikan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, suara Hasyim terdengar menggebu-gebu ketika menyampaikan kejadian yang dialami rekan kerjanya setelah dinyatakan positif Covid-19. Sebab, ada perbedaan data tentang hasil swab test mandiri dengan yang dilakukan puskesmas. Apalagi, informasi dari puskesmas itu juga beredar di masyarakat. Sehingga merugikan kehidupan pribadi para guru tersebut.

“Ya, itulah yang dialami rekan-rekan pengajar di SMKN 6 Jember,” ucap Hasyim, warga Jalan Dharmawangsa, Dusun Krajan, RT 01, RW 04, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Pesan berantai yang ditengarai merupakan hasil swab test puskesmas itu menyebutkan, sebanyak 18 pengajar SMKN 6 positif Covid-19. Mereka disebut terpapar berdasarkan hasil swab test setelah salah seorang tenaga pengajar di sekolah itu meninggal akibat korona.

Hasyim menyayangkan beredarnya pesan berantai itu. Apalagi, kesahihan informasinya juga diragukan. Belum lagi, data yang beredar itu lengkap dengan identitas mereka. By name by address. Dia mengaku tak tahu persis, kenapa pesan-pesan itu lebih cepat sampai ke masyarakat ketimbang hasil swab guru di SMKN 6 Jember. “Padahal, hasil swab belum keluar, tapi kami sudah dinyatakan positif,” sesalnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bocornya informasi yang tidak valid itu langsung ditangkap begitu saja oleh publik. Bahkan, para tetangga guru yang masuk dalam daftar positif itu langsung lebih dulu. “Saya tahunya kalau positif malah dari teman. Setelah dia mendapatkan pesan itu,” ungkap Futihah Qudrotin, guru SMKN 6 Jember yang lain.

Berangkat dari kabar itu, para guru kemudian melakukan swab test secara mandiri. Sebab, hasil swab yang dilakukan satgas cukup lama. “Dan hasilnya negatif,” tutur perempuan 26 tahun itu. Perbedaan hasil ini memunculkan keraguan publik, apakah swab test yang dilakukan oleh puskesmas itu tidak valid, atau bagaimana?

Selain itu, perbedaan hasil swab dengan data yang tersebar di aplikasi percakapan itu juga memunculkan pertanyaan, siapa pelaku yang telah membocorkan data pasien yang seharusnya bersifat rahasia tersebut? “Jika kami memang positif, kenapa belum ada langkah lanjutan (dari Satgas Covid-19, Red),” ucapnya. Misalnya, penyemprotan disinfektan atau pemberian vitamin.

Sementara itu, Kepala SMKN 6 Jember Priwahyu Hartanti menyatakan, untuk hasil swab dari pemerintah atau Puskesmas Tanggul terhadap 71 guru dan karyawan, sudah keluar dan semua hasilnya negatif. “Tadi pagi (kemarin, Red) saya ditelepon oleh Dokter Diyan dari Puskesmas Tanggul. Semua negatif,” terangnya.

Hasil negatif tersebut dengan sendirinya menyangkal kabar yang telanjur beredar bahwa ada 18 karyawan dan guru SMKN 6 Jember yang positif Covid-19. Menurut dia, sejak info tidak benar tersebut beredar, Satgas Covid-19 tiba-tiba mendatangi kediaman sebagian guru dan karyawan SMKN 6 Jember. Satgas beralasan hanya melaksanakan instruksi dan bentuk kesiapan satgas. Dan hal inilah yang memicu sebagian orang merespons negatif kabar hoaks itu. Karena itu, pihak yang namanya masuk dalam daftar belasan guru yang positif itu merasa tidak nyaman. Bahkan, psikologis mereka sempat terbebani.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, suara Hasyim terdengar menggebu-gebu ketika menyampaikan kejadian yang dialami rekan kerjanya setelah dinyatakan positif Covid-19. Sebab, ada perbedaan data tentang hasil swab test mandiri dengan yang dilakukan puskesmas. Apalagi, informasi dari puskesmas itu juga beredar di masyarakat. Sehingga merugikan kehidupan pribadi para guru tersebut.

“Ya, itulah yang dialami rekan-rekan pengajar di SMKN 6 Jember,” ucap Hasyim, warga Jalan Dharmawangsa, Dusun Krajan, RT 01, RW 04, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Pesan berantai yang ditengarai merupakan hasil swab test puskesmas itu menyebutkan, sebanyak 18 pengajar SMKN 6 positif Covid-19. Mereka disebut terpapar berdasarkan hasil swab test setelah salah seorang tenaga pengajar di sekolah itu meninggal akibat korona.

Hasyim menyayangkan beredarnya pesan berantai itu. Apalagi, kesahihan informasinya juga diragukan. Belum lagi, data yang beredar itu lengkap dengan identitas mereka. By name by address. Dia mengaku tak tahu persis, kenapa pesan-pesan itu lebih cepat sampai ke masyarakat ketimbang hasil swab guru di SMKN 6 Jember. “Padahal, hasil swab belum keluar, tapi kami sudah dinyatakan positif,” sesalnya.

Bocornya informasi yang tidak valid itu langsung ditangkap begitu saja oleh publik. Bahkan, para tetangga guru yang masuk dalam daftar positif itu langsung lebih dulu. “Saya tahunya kalau positif malah dari teman. Setelah dia mendapatkan pesan itu,” ungkap Futihah Qudrotin, guru SMKN 6 Jember yang lain.

Berangkat dari kabar itu, para guru kemudian melakukan swab test secara mandiri. Sebab, hasil swab yang dilakukan satgas cukup lama. “Dan hasilnya negatif,” tutur perempuan 26 tahun itu. Perbedaan hasil ini memunculkan keraguan publik, apakah swab test yang dilakukan oleh puskesmas itu tidak valid, atau bagaimana?

Selain itu, perbedaan hasil swab dengan data yang tersebar di aplikasi percakapan itu juga memunculkan pertanyaan, siapa pelaku yang telah membocorkan data pasien yang seharusnya bersifat rahasia tersebut? “Jika kami memang positif, kenapa belum ada langkah lanjutan (dari Satgas Covid-19, Red),” ucapnya. Misalnya, penyemprotan disinfektan atau pemberian vitamin.

Sementara itu, Kepala SMKN 6 Jember Priwahyu Hartanti menyatakan, untuk hasil swab dari pemerintah atau Puskesmas Tanggul terhadap 71 guru dan karyawan, sudah keluar dan semua hasilnya negatif. “Tadi pagi (kemarin, Red) saya ditelepon oleh Dokter Diyan dari Puskesmas Tanggul. Semua negatif,” terangnya.

Hasil negatif tersebut dengan sendirinya menyangkal kabar yang telanjur beredar bahwa ada 18 karyawan dan guru SMKN 6 Jember yang positif Covid-19. Menurut dia, sejak info tidak benar tersebut beredar, Satgas Covid-19 tiba-tiba mendatangi kediaman sebagian guru dan karyawan SMKN 6 Jember. Satgas beralasan hanya melaksanakan instruksi dan bentuk kesiapan satgas. Dan hal inilah yang memicu sebagian orang merespons negatif kabar hoaks itu. Karena itu, pihak yang namanya masuk dalam daftar belasan guru yang positif itu merasa tidak nyaman. Bahkan, psikologis mereka sempat terbebani.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, suara Hasyim terdengar menggebu-gebu ketika menyampaikan kejadian yang dialami rekan kerjanya setelah dinyatakan positif Covid-19. Sebab, ada perbedaan data tentang hasil swab test mandiri dengan yang dilakukan puskesmas. Apalagi, informasi dari puskesmas itu juga beredar di masyarakat. Sehingga merugikan kehidupan pribadi para guru tersebut.

“Ya, itulah yang dialami rekan-rekan pengajar di SMKN 6 Jember,” ucap Hasyim, warga Jalan Dharmawangsa, Dusun Krajan, RT 01, RW 04, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Pesan berantai yang ditengarai merupakan hasil swab test puskesmas itu menyebutkan, sebanyak 18 pengajar SMKN 6 positif Covid-19. Mereka disebut terpapar berdasarkan hasil swab test setelah salah seorang tenaga pengajar di sekolah itu meninggal akibat korona.

Hasyim menyayangkan beredarnya pesan berantai itu. Apalagi, kesahihan informasinya juga diragukan. Belum lagi, data yang beredar itu lengkap dengan identitas mereka. By name by address. Dia mengaku tak tahu persis, kenapa pesan-pesan itu lebih cepat sampai ke masyarakat ketimbang hasil swab guru di SMKN 6 Jember. “Padahal, hasil swab belum keluar, tapi kami sudah dinyatakan positif,” sesalnya.

Bocornya informasi yang tidak valid itu langsung ditangkap begitu saja oleh publik. Bahkan, para tetangga guru yang masuk dalam daftar positif itu langsung lebih dulu. “Saya tahunya kalau positif malah dari teman. Setelah dia mendapatkan pesan itu,” ungkap Futihah Qudrotin, guru SMKN 6 Jember yang lain.

Berangkat dari kabar itu, para guru kemudian melakukan swab test secara mandiri. Sebab, hasil swab yang dilakukan satgas cukup lama. “Dan hasilnya negatif,” tutur perempuan 26 tahun itu. Perbedaan hasil ini memunculkan keraguan publik, apakah swab test yang dilakukan oleh puskesmas itu tidak valid, atau bagaimana?

Selain itu, perbedaan hasil swab dengan data yang tersebar di aplikasi percakapan itu juga memunculkan pertanyaan, siapa pelaku yang telah membocorkan data pasien yang seharusnya bersifat rahasia tersebut? “Jika kami memang positif, kenapa belum ada langkah lanjutan (dari Satgas Covid-19, Red),” ucapnya. Misalnya, penyemprotan disinfektan atau pemberian vitamin.

Sementara itu, Kepala SMKN 6 Jember Priwahyu Hartanti menyatakan, untuk hasil swab dari pemerintah atau Puskesmas Tanggul terhadap 71 guru dan karyawan, sudah keluar dan semua hasilnya negatif. “Tadi pagi (kemarin, Red) saya ditelepon oleh Dokter Diyan dari Puskesmas Tanggul. Semua negatif,” terangnya.

Hasil negatif tersebut dengan sendirinya menyangkal kabar yang telanjur beredar bahwa ada 18 karyawan dan guru SMKN 6 Jember yang positif Covid-19. Menurut dia, sejak info tidak benar tersebut beredar, Satgas Covid-19 tiba-tiba mendatangi kediaman sebagian guru dan karyawan SMKN 6 Jember. Satgas beralasan hanya melaksanakan instruksi dan bentuk kesiapan satgas. Dan hal inilah yang memicu sebagian orang merespons negatif kabar hoaks itu. Karena itu, pihak yang namanya masuk dalam daftar belasan guru yang positif itu merasa tidak nyaman. Bahkan, psikologis mereka sempat terbebani.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/