alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Ada Ancaman Masuknya Varian Baru Covid-19

PMI Terpapar Korona Bukan Kasus Pertama

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar terpaparnya pekerja migran Indonesia (PMI) yang hendak dipulangkan ke Jember mencuat ke publik. Pantauan terakhir Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) wilayah Jember, terdapat satu PMI yang dinyatakan positif Covid-19 dengan varian terbaru. Kini, PMI tersebut sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya.

“Ada yang terpapar Covid-19 dengan jenis varian baru itu betul. Namun, kami tidak dapat mengungkapkan profilnya,” terang Ketua BP2MI Jember Muhammad Iqbal, kemarin (18/5).

Sebelumnya, beberapa PMI dari Jember memang ada yang telah terjangkit dan positif Covid-19. Namun, bukan varian terbaru. “Yang terpapar Covid-19 lebih dari satu sejak pemulangan sebelum-sebelumnya. Tapi, kalau dengan varian terbaru ini masih hanya ada satu,” kata Iqbal.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menegaskan, selama ini PMI yang terpapar dan berada di Surabaya mendapatkan perawatan yang memadai. Ia optimistis keadaan PMI Jember di Surabaya baik-baik saja. Pemerintah provinsi pun disebutnya sudah mengantisipasi agar tidak muncul klaster baru dari PMI yang pulang kampung tersebut.

Iqbal menilai, Jember masih dalam kondisi baik untuk menyalurkan kepulangan PMI selama mengikuti skema atau aturan penjemputan hingga isolasi. Sehingga, jika merujuk pada pemerintah pusat, Iqbal menilai, kebijakan dan aturan isolasi dinilainya telah sesuai. “Selama itu merujuk pada aturan pusat, ya aturan itu ideal dan benar,” ungkapnya.

Begitu sebaliknya. Jika tidak sesuai dengan skema yang ditetapkan oleh provinsi, maka Jember layak disebut sebagai kabupaten yang belum siap untuk merespons kepulangan PMI. Pada pemulangan awal, PMI tidak langsung diungsikan ke rumah isolasi yang disediakan oleh pemkab. Melainkan langsung diantar ke kecamatan masing-masing. Iqbal tidak menanggapi secara langsung hal tersebut.

Dia menegaskan, pihaknya memfokuskan pada pengurusan para PMI unprocedural. Sebab, jika dirunut, Jember menjadi salah satu kota yang memiliki jumlah PMI unprocedural terbanyak. Kebanyakan mereka bekerja di Malaysia. “Kepulangan dari Malaysia ini sebagian besar tidak terdata. Maka ke depan harus ada pendataan yang bagus. Dengan pendataan yang bagus, maka dapat melakukan pendeteksian PMI di Jember. Termasuk Covid-19,” bebernya.

Terpisah, Anggota Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jember Nabila Nilna Gina menilai, selama ini pemerintah belum sepenuhnya siap untuk menerima kepulangan PMI dari Surabaya. Terbukti dari pemulangan awal, beberapa waktu lalu. Jika tidak ada kesiapan penerimaan PMI dari Surabaya, maka berpotensi menimbulkan klaster baru. “Problemnya PMI itu banyak. Tidak hanya urusan isolasi saja, tapi juga harus ada pendampingan bagi mereka,” ujarnya.

Update Covid-19 per 17 Mei

  • Terkonfirmasi 6.990
  • Kasus aktif 26 (0,37 persen)
  • Dirawat di RS 11
  • Isolasi mandiri 15
  • Pasien sembuh 6.488 (92,82 persen)
  • Meninggal 476 (6,81 persen)
  • Kasus suspek 5

 

Belum Ada Skema

Sebenarnya, kasus Covid-19 di Jember tercatat mulai melandai. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jember, tidak ada penambahan yang signifikan sejak Ramadan lalu hingga awal pekan ini (17/5). Dari 6.990 kasus yang terkonfirmasi positif sejak Maret 2020 hingga Mei 2021, sebanyak 6.488 orang atau 92,82 persen dinyatakan sembuh.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar terpaparnya pekerja migran Indonesia (PMI) yang hendak dipulangkan ke Jember mencuat ke publik. Pantauan terakhir Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) wilayah Jember, terdapat satu PMI yang dinyatakan positif Covid-19 dengan varian terbaru. Kini, PMI tersebut sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya.

“Ada yang terpapar Covid-19 dengan jenis varian baru itu betul. Namun, kami tidak dapat mengungkapkan profilnya,” terang Ketua BP2MI Jember Muhammad Iqbal, kemarin (18/5).

Sebelumnya, beberapa PMI dari Jember memang ada yang telah terjangkit dan positif Covid-19. Namun, bukan varian terbaru. “Yang terpapar Covid-19 lebih dari satu sejak pemulangan sebelum-sebelumnya. Tapi, kalau dengan varian terbaru ini masih hanya ada satu,” kata Iqbal.

Dia menegaskan, selama ini PMI yang terpapar dan berada di Surabaya mendapatkan perawatan yang memadai. Ia optimistis keadaan PMI Jember di Surabaya baik-baik saja. Pemerintah provinsi pun disebutnya sudah mengantisipasi agar tidak muncul klaster baru dari PMI yang pulang kampung tersebut.

Iqbal menilai, Jember masih dalam kondisi baik untuk menyalurkan kepulangan PMI selama mengikuti skema atau aturan penjemputan hingga isolasi. Sehingga, jika merujuk pada pemerintah pusat, Iqbal menilai, kebijakan dan aturan isolasi dinilainya telah sesuai. “Selama itu merujuk pada aturan pusat, ya aturan itu ideal dan benar,” ungkapnya.

Begitu sebaliknya. Jika tidak sesuai dengan skema yang ditetapkan oleh provinsi, maka Jember layak disebut sebagai kabupaten yang belum siap untuk merespons kepulangan PMI. Pada pemulangan awal, PMI tidak langsung diungsikan ke rumah isolasi yang disediakan oleh pemkab. Melainkan langsung diantar ke kecamatan masing-masing. Iqbal tidak menanggapi secara langsung hal tersebut.

Dia menegaskan, pihaknya memfokuskan pada pengurusan para PMI unprocedural. Sebab, jika dirunut, Jember menjadi salah satu kota yang memiliki jumlah PMI unprocedural terbanyak. Kebanyakan mereka bekerja di Malaysia. “Kepulangan dari Malaysia ini sebagian besar tidak terdata. Maka ke depan harus ada pendataan yang bagus. Dengan pendataan yang bagus, maka dapat melakukan pendeteksian PMI di Jember. Termasuk Covid-19,” bebernya.

Terpisah, Anggota Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jember Nabila Nilna Gina menilai, selama ini pemerintah belum sepenuhnya siap untuk menerima kepulangan PMI dari Surabaya. Terbukti dari pemulangan awal, beberapa waktu lalu. Jika tidak ada kesiapan penerimaan PMI dari Surabaya, maka berpotensi menimbulkan klaster baru. “Problemnya PMI itu banyak. Tidak hanya urusan isolasi saja, tapi juga harus ada pendampingan bagi mereka,” ujarnya.

Update Covid-19 per 17 Mei

  • Terkonfirmasi 6.990
  • Kasus aktif 26 (0,37 persen)
  • Dirawat di RS 11
  • Isolasi mandiri 15
  • Pasien sembuh 6.488 (92,82 persen)
  • Meninggal 476 (6,81 persen)
  • Kasus suspek 5

 

Belum Ada Skema

Sebenarnya, kasus Covid-19 di Jember tercatat mulai melandai. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jember, tidak ada penambahan yang signifikan sejak Ramadan lalu hingga awal pekan ini (17/5). Dari 6.990 kasus yang terkonfirmasi positif sejak Maret 2020 hingga Mei 2021, sebanyak 6.488 orang atau 92,82 persen dinyatakan sembuh.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kabar terpaparnya pekerja migran Indonesia (PMI) yang hendak dipulangkan ke Jember mencuat ke publik. Pantauan terakhir Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) wilayah Jember, terdapat satu PMI yang dinyatakan positif Covid-19 dengan varian terbaru. Kini, PMI tersebut sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya.

“Ada yang terpapar Covid-19 dengan jenis varian baru itu betul. Namun, kami tidak dapat mengungkapkan profilnya,” terang Ketua BP2MI Jember Muhammad Iqbal, kemarin (18/5).

Sebelumnya, beberapa PMI dari Jember memang ada yang telah terjangkit dan positif Covid-19. Namun, bukan varian terbaru. “Yang terpapar Covid-19 lebih dari satu sejak pemulangan sebelum-sebelumnya. Tapi, kalau dengan varian terbaru ini masih hanya ada satu,” kata Iqbal.

Dia menegaskan, selama ini PMI yang terpapar dan berada di Surabaya mendapatkan perawatan yang memadai. Ia optimistis keadaan PMI Jember di Surabaya baik-baik saja. Pemerintah provinsi pun disebutnya sudah mengantisipasi agar tidak muncul klaster baru dari PMI yang pulang kampung tersebut.

Iqbal menilai, Jember masih dalam kondisi baik untuk menyalurkan kepulangan PMI selama mengikuti skema atau aturan penjemputan hingga isolasi. Sehingga, jika merujuk pada pemerintah pusat, Iqbal menilai, kebijakan dan aturan isolasi dinilainya telah sesuai. “Selama itu merujuk pada aturan pusat, ya aturan itu ideal dan benar,” ungkapnya.

Begitu sebaliknya. Jika tidak sesuai dengan skema yang ditetapkan oleh provinsi, maka Jember layak disebut sebagai kabupaten yang belum siap untuk merespons kepulangan PMI. Pada pemulangan awal, PMI tidak langsung diungsikan ke rumah isolasi yang disediakan oleh pemkab. Melainkan langsung diantar ke kecamatan masing-masing. Iqbal tidak menanggapi secara langsung hal tersebut.

Dia menegaskan, pihaknya memfokuskan pada pengurusan para PMI unprocedural. Sebab, jika dirunut, Jember menjadi salah satu kota yang memiliki jumlah PMI unprocedural terbanyak. Kebanyakan mereka bekerja di Malaysia. “Kepulangan dari Malaysia ini sebagian besar tidak terdata. Maka ke depan harus ada pendataan yang bagus. Dengan pendataan yang bagus, maka dapat melakukan pendeteksian PMI di Jember. Termasuk Covid-19,” bebernya.

Terpisah, Anggota Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jember Nabila Nilna Gina menilai, selama ini pemerintah belum sepenuhnya siap untuk menerima kepulangan PMI dari Surabaya. Terbukti dari pemulangan awal, beberapa waktu lalu. Jika tidak ada kesiapan penerimaan PMI dari Surabaya, maka berpotensi menimbulkan klaster baru. “Problemnya PMI itu banyak. Tidak hanya urusan isolasi saja, tapi juga harus ada pendampingan bagi mereka,” ujarnya.

Update Covid-19 per 17 Mei

  • Terkonfirmasi 6.990
  • Kasus aktif 26 (0,37 persen)
  • Dirawat di RS 11
  • Isolasi mandiri 15
  • Pasien sembuh 6.488 (92,82 persen)
  • Meninggal 476 (6,81 persen)
  • Kasus suspek 5

 

Belum Ada Skema

Sebenarnya, kasus Covid-19 di Jember tercatat mulai melandai. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jember, tidak ada penambahan yang signifikan sejak Ramadan lalu hingga awal pekan ini (17/5). Dari 6.990 kasus yang terkonfirmasi positif sejak Maret 2020 hingga Mei 2021, sebanyak 6.488 orang atau 92,82 persen dinyatakan sembuh.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/