alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Takut Divonis Korona, Sebabkan Bumil Enggan Periksa ke Puskesmas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona menghambat sebagian masyarakat, khususnya ibu hamil (bumil) untuk memeriksakan kandungannya ke puskesmas. Hal ini menjadi salah satu penyumbang naiknya jumlah angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Jember, sehingga mencapai peringkat satu se-Jawa Timur.

Informasi ini disampaikan oleh Bidan Koordinator Puskesmas Mangli Reni Juniwati dalam diskusi penyempurnaan isu Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir (AKIBBL) di Gedung Bakorwil V, Jalan Kalimantan 42, Sumbersari, Kamis (18/3).

Dia mengungkapkan, sebagian bumil mengaku enggan periksa di puskesmas karena takut dirujuk ke rumah sakit. Jika melakukan pemeriksaan atau persalinan di rumah sakit, mereka juga harus melakukan pemeriksaan Covid-19 atau Swab, sehingga khawatir divonis positif korona.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kekhawatiran ini tak hanya dialami bumil saja, tapi juga keluarga mereka. Akibatnya, kesehatan ibu dan bayi tidak terkontrol dengan baik. “Kadang kalau bukan mereka sendiri yang takut, suaminya yang menakut-nakuti atau melarang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubag di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember Anto Budi, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, mengatakan, ketakutan itu juga dapat bermuara pada kurangnya sosialisasi dari perangkat desa setempat. Sebab, masyarakat yang memiliki literasi yang cukup, pasti akan berpikir lebih logis.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona menghambat sebagian masyarakat, khususnya ibu hamil (bumil) untuk memeriksakan kandungannya ke puskesmas. Hal ini menjadi salah satu penyumbang naiknya jumlah angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Jember, sehingga mencapai peringkat satu se-Jawa Timur.

Informasi ini disampaikan oleh Bidan Koordinator Puskesmas Mangli Reni Juniwati dalam diskusi penyempurnaan isu Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir (AKIBBL) di Gedung Bakorwil V, Jalan Kalimantan 42, Sumbersari, Kamis (18/3).

Dia mengungkapkan, sebagian bumil mengaku enggan periksa di puskesmas karena takut dirujuk ke rumah sakit. Jika melakukan pemeriksaan atau persalinan di rumah sakit, mereka juga harus melakukan pemeriksaan Covid-19 atau Swab, sehingga khawatir divonis positif korona.

Kekhawatiran ini tak hanya dialami bumil saja, tapi juga keluarga mereka. Akibatnya, kesehatan ibu dan bayi tidak terkontrol dengan baik. “Kadang kalau bukan mereka sendiri yang takut, suaminya yang menakut-nakuti atau melarang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubag di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember Anto Budi, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, mengatakan, ketakutan itu juga dapat bermuara pada kurangnya sosialisasi dari perangkat desa setempat. Sebab, masyarakat yang memiliki literasi yang cukup, pasti akan berpikir lebih logis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona menghambat sebagian masyarakat, khususnya ibu hamil (bumil) untuk memeriksakan kandungannya ke puskesmas. Hal ini menjadi salah satu penyumbang naiknya jumlah angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Jember, sehingga mencapai peringkat satu se-Jawa Timur.

Informasi ini disampaikan oleh Bidan Koordinator Puskesmas Mangli Reni Juniwati dalam diskusi penyempurnaan isu Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir (AKIBBL) di Gedung Bakorwil V, Jalan Kalimantan 42, Sumbersari, Kamis (18/3).

Dia mengungkapkan, sebagian bumil mengaku enggan periksa di puskesmas karena takut dirujuk ke rumah sakit. Jika melakukan pemeriksaan atau persalinan di rumah sakit, mereka juga harus melakukan pemeriksaan Covid-19 atau Swab, sehingga khawatir divonis positif korona.

Kekhawatiran ini tak hanya dialami bumil saja, tapi juga keluarga mereka. Akibatnya, kesehatan ibu dan bayi tidak terkontrol dengan baik. “Kadang kalau bukan mereka sendiri yang takut, suaminya yang menakut-nakuti atau melarang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubag di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember Anto Budi, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, mengatakan, ketakutan itu juga dapat bermuara pada kurangnya sosialisasi dari perangkat desa setempat. Sebab, masyarakat yang memiliki literasi yang cukup, pasti akan berpikir lebih logis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/