alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Alasan Partisipasi Vaksinasi Disabilitas di Jember Masih Rendah

“Selama ini tidak ada sosialisasi secara khusus kepada penyandang disabilitas tentang efek samping dari vaksin. Serta kajian-kajian tentang jenis vaksin untuk penyandang disabilitas A, misalnya.” ASRORUL MAIS - Akademisi Universitas PGRI Argopuro

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Sepuluh teman disabilitas dengan penyandang tuli duduk berkumpul di bawah tenda, mengantre untuk divaksin selama kurang lebih 2 jam. Masing-masing sudah memegang nomor urut. Beberapa di antaranya menggerutu dengan bahasa isyarat. “Ke mana nomorku, tidak segera dipanggil,” ujar salah satu teman tuli dengan bahasa isyarat. Namun, tak ada yang bisa menjawab.

Hingga akhirnya seorang laki-laki yang bukan tenaga medis, bukan juga penyandang disabilitas, datang membawa kabar. “Ternyata hari ini cuma vaksin Sinovac yang ada. Bukan AstraZeneca,” tutur laki-laki berbaju kotak-kotak yang baru datang itu dengan menyesal.

Dengan berat hati, sekitar sepuluh orang disabilitas itu pun beranjak. Beberapa di antaranya pulang ke rumahnya di Balung, Wuluhan, dan daerah lainnya di luar Jember kota. Cukup jauh dari Gedung Bhayangkara, yang tak lain adalah lokasi vaksinasi saat itu. Sebelum pulang, beberapa di antaranya menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pengaruh vaksinasi dengan kondisi serta dampak yang bakal dialami setelah melakukan vaksinasi kedua.

Mobile_AP_Rectangle 2

Insiden yang terjadi sepekan yang lalu itu seolah memperlihatkan minimnya komunikasi yang terjalin antara pemerintah dan kelompok disabilitas. Dampaknya, signifikansi dari vaksinasi tidak diterima dengan jelas oleh kelompok penyandang disabilitas. Hal ini membuat beberapa di antaranya enggan untuk melakukan vaksinasi. Sebab, khawatir dengan efek samping yang bakal diterima. Inilah yang kemudian membuat angka partisipasi vaksinasi penyandang disabilitas rendah.

Akademisi Universitas PGRI Argopuro yang fokus dengan isu inklusi, Asrorul Mais, mengungkapkan bahwa angka partisipasi vaksinasi pada disabilitas masih rendah. Jika dipersentase, baru mencapai 70 persen dari jumlah seluruh penyandang disabilitas.

Sebabnya pun beragam. Di antaranya minimnya sosialisasi tentang vaksinasi berkaitan dengan efek samping setelah melakukan vaksinasi, hingga kajian khusus tentang jenis-jenis vaksin apa saja yang sesuai dengan penyandang disabilitas. “Selama ini tidak ada sosialisasi secara khusus kepada penyandang disabilitas mengenai efek samping dari vaksin. Serta kajian-kajian tentang jenis vaksin untuk penyandang disabilitas A, misalnya,” papar Mais, Jumat (17/9).

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Sepuluh teman disabilitas dengan penyandang tuli duduk berkumpul di bawah tenda, mengantre untuk divaksin selama kurang lebih 2 jam. Masing-masing sudah memegang nomor urut. Beberapa di antaranya menggerutu dengan bahasa isyarat. “Ke mana nomorku, tidak segera dipanggil,” ujar salah satu teman tuli dengan bahasa isyarat. Namun, tak ada yang bisa menjawab.

Hingga akhirnya seorang laki-laki yang bukan tenaga medis, bukan juga penyandang disabilitas, datang membawa kabar. “Ternyata hari ini cuma vaksin Sinovac yang ada. Bukan AstraZeneca,” tutur laki-laki berbaju kotak-kotak yang baru datang itu dengan menyesal.

Dengan berat hati, sekitar sepuluh orang disabilitas itu pun beranjak. Beberapa di antaranya pulang ke rumahnya di Balung, Wuluhan, dan daerah lainnya di luar Jember kota. Cukup jauh dari Gedung Bhayangkara, yang tak lain adalah lokasi vaksinasi saat itu. Sebelum pulang, beberapa di antaranya menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pengaruh vaksinasi dengan kondisi serta dampak yang bakal dialami setelah melakukan vaksinasi kedua.

Insiden yang terjadi sepekan yang lalu itu seolah memperlihatkan minimnya komunikasi yang terjalin antara pemerintah dan kelompok disabilitas. Dampaknya, signifikansi dari vaksinasi tidak diterima dengan jelas oleh kelompok penyandang disabilitas. Hal ini membuat beberapa di antaranya enggan untuk melakukan vaksinasi. Sebab, khawatir dengan efek samping yang bakal diterima. Inilah yang kemudian membuat angka partisipasi vaksinasi penyandang disabilitas rendah.

Akademisi Universitas PGRI Argopuro yang fokus dengan isu inklusi, Asrorul Mais, mengungkapkan bahwa angka partisipasi vaksinasi pada disabilitas masih rendah. Jika dipersentase, baru mencapai 70 persen dari jumlah seluruh penyandang disabilitas.

Sebabnya pun beragam. Di antaranya minimnya sosialisasi tentang vaksinasi berkaitan dengan efek samping setelah melakukan vaksinasi, hingga kajian khusus tentang jenis-jenis vaksin apa saja yang sesuai dengan penyandang disabilitas. “Selama ini tidak ada sosialisasi secara khusus kepada penyandang disabilitas mengenai efek samping dari vaksin. Serta kajian-kajian tentang jenis vaksin untuk penyandang disabilitas A, misalnya,” papar Mais, Jumat (17/9).

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Sepuluh teman disabilitas dengan penyandang tuli duduk berkumpul di bawah tenda, mengantre untuk divaksin selama kurang lebih 2 jam. Masing-masing sudah memegang nomor urut. Beberapa di antaranya menggerutu dengan bahasa isyarat. “Ke mana nomorku, tidak segera dipanggil,” ujar salah satu teman tuli dengan bahasa isyarat. Namun, tak ada yang bisa menjawab.

Hingga akhirnya seorang laki-laki yang bukan tenaga medis, bukan juga penyandang disabilitas, datang membawa kabar. “Ternyata hari ini cuma vaksin Sinovac yang ada. Bukan AstraZeneca,” tutur laki-laki berbaju kotak-kotak yang baru datang itu dengan menyesal.

Dengan berat hati, sekitar sepuluh orang disabilitas itu pun beranjak. Beberapa di antaranya pulang ke rumahnya di Balung, Wuluhan, dan daerah lainnya di luar Jember kota. Cukup jauh dari Gedung Bhayangkara, yang tak lain adalah lokasi vaksinasi saat itu. Sebelum pulang, beberapa di antaranya menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pengaruh vaksinasi dengan kondisi serta dampak yang bakal dialami setelah melakukan vaksinasi kedua.

Insiden yang terjadi sepekan yang lalu itu seolah memperlihatkan minimnya komunikasi yang terjalin antara pemerintah dan kelompok disabilitas. Dampaknya, signifikansi dari vaksinasi tidak diterima dengan jelas oleh kelompok penyandang disabilitas. Hal ini membuat beberapa di antaranya enggan untuk melakukan vaksinasi. Sebab, khawatir dengan efek samping yang bakal diterima. Inilah yang kemudian membuat angka partisipasi vaksinasi penyandang disabilitas rendah.

Akademisi Universitas PGRI Argopuro yang fokus dengan isu inklusi, Asrorul Mais, mengungkapkan bahwa angka partisipasi vaksinasi pada disabilitas masih rendah. Jika dipersentase, baru mencapai 70 persen dari jumlah seluruh penyandang disabilitas.

Sebabnya pun beragam. Di antaranya minimnya sosialisasi tentang vaksinasi berkaitan dengan efek samping setelah melakukan vaksinasi, hingga kajian khusus tentang jenis-jenis vaksin apa saja yang sesuai dengan penyandang disabilitas. “Selama ini tidak ada sosialisasi secara khusus kepada penyandang disabilitas mengenai efek samping dari vaksin. Serta kajian-kajian tentang jenis vaksin untuk penyandang disabilitas A, misalnya,” papar Mais, Jumat (17/9).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/