23.4 C
Jember
Saturday, 25 March 2023

Pahamkan Protokol Kesehatan pada Anak

Cegah Anak dari Paparan Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gejolak persebaran virus Covid-19 belum juga usai di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat sudah ada sebanyak 7.130 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 hingga 16 Juni lalu. Dari ribuan total tersebut, ternyata anak-anak juga menjadi korban.

Dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Kabid P2P Dinkes) Kabupaten Jember dr Alfi Yudisianto menjelaskan bahwa tercatat ada ratusan anak di Kabupaten Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Yakni, sebanyak 486 anak. Dua di antaranya meninggal dunia.

Menurut dia, banyaknya pasien anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut diduga karena tertular orang tua mereka masing-masing. Sebab, sejak kali pertama Covid-19 merebak di Kabupaten Jember, dia menerangkan bahwa pergerakan anak-anak itu sudah dibatasi. “Kegiatan anak-anak ini kan hanya di rumah dan kegiatan tatap muka dilakukan secara daring,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika menilik penanganan di lapangan, anak-anak itu termasuk dalam pasien Covid-19 yang didapatkan dari tracing seorang keluarga yang terpapar Covid-19. Meski begitu, banyak yang tak bergejala alias OTG.

Namun, mengapa sampai ada yang meninggal? “Anak-anak tak ada komorbid, jadi murni karena Covid-19,” lanjutnya. Sesak napas, kondisi terus menurun, hingga lemas sampai akhirnya meninggal. Namun, dr Alfi enggan menyebutkan kriteria dua anak yang meninggal itu.

Sementara itu, tak berbeda dengan penanganan pasien dewasa, anak-anak itu juga menjalani tes swab dan isolasi. Namun, menghentikan persebaran Covid-19 sekarang menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan. Dengan begitu, tak ada lagi penambahan pasien. Terutama anak-anak. Salah satunya, dengan menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak. Khususnya dalam menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu juga berlaku pada orang tua masing-masing. Yakni dengan tidak membawa virus pulang ke rumah. “Jadi, tetap melakukan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sementara itu, psikolog Jajuk Siti Nurhaqimah SPsi menerangkan bahwa peran orang tua memang sangat dibutuhkan dalam memberikan pemahaman terhadap penerapan prokes pada anak. Mengingat, butuh contoh yang berkelanjutan.

Jika anak-anak yang sudah berusia 6 hingga 12 tahun, mungkin bisa cepat dalam merespons pemahaman yang diberikan oleh orang tua. Yakni, terkait bahaya Covid-19 dan bagaimana menanggulanginya. “Tapi, berbeda jika anak-anak di bawah 6 tahun,” ujar psikolog anak itu.

Artinya, para orang tua juga harus memberikan contoh secara istiqamah. Mengingat, pada fase itu anak-anak cenderung menjadi peniru. Karena itu, baik buruknya tingkah orang tua bakal terekam dan dilakukan anak-anak. Berbeda dengan anak-anak yang lebih dewasa, lanjutnya, anak-anak ini perlu mendapatkan contoh lebih dulu, baru penjelasan.

Meski begitu, dia menilai bahwa hal itu baik untuk kedua belah pihak. Baik orang tua maupun anak-anak. “Jika para orang tua menerapkan prokes, kemungkinan kecil mereka dapat membawa virus ke rumah,” terangnya.

Kalaupun para orang tua membawa virus pulang, kemungkinan dalam menularkan virus juga kecil, lantaran si anak tersebut juga taat prokes seperti yang diajarkan orang tua masing-masing.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gejolak persebaran virus Covid-19 belum juga usai di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat sudah ada sebanyak 7.130 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 hingga 16 Juni lalu. Dari ribuan total tersebut, ternyata anak-anak juga menjadi korban.

Dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Kabid P2P Dinkes) Kabupaten Jember dr Alfi Yudisianto menjelaskan bahwa tercatat ada ratusan anak di Kabupaten Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Yakni, sebanyak 486 anak. Dua di antaranya meninggal dunia.

Menurut dia, banyaknya pasien anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut diduga karena tertular orang tua mereka masing-masing. Sebab, sejak kali pertama Covid-19 merebak di Kabupaten Jember, dia menerangkan bahwa pergerakan anak-anak itu sudah dibatasi. “Kegiatan anak-anak ini kan hanya di rumah dan kegiatan tatap muka dilakukan secara daring,” ungkapnya.

Jika menilik penanganan di lapangan, anak-anak itu termasuk dalam pasien Covid-19 yang didapatkan dari tracing seorang keluarga yang terpapar Covid-19. Meski begitu, banyak yang tak bergejala alias OTG.

Namun, mengapa sampai ada yang meninggal? “Anak-anak tak ada komorbid, jadi murni karena Covid-19,” lanjutnya. Sesak napas, kondisi terus menurun, hingga lemas sampai akhirnya meninggal. Namun, dr Alfi enggan menyebutkan kriteria dua anak yang meninggal itu.

Sementara itu, tak berbeda dengan penanganan pasien dewasa, anak-anak itu juga menjalani tes swab dan isolasi. Namun, menghentikan persebaran Covid-19 sekarang menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan. Dengan begitu, tak ada lagi penambahan pasien. Terutama anak-anak. Salah satunya, dengan menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak. Khususnya dalam menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu juga berlaku pada orang tua masing-masing. Yakni dengan tidak membawa virus pulang ke rumah. “Jadi, tetap melakukan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sementara itu, psikolog Jajuk Siti Nurhaqimah SPsi menerangkan bahwa peran orang tua memang sangat dibutuhkan dalam memberikan pemahaman terhadap penerapan prokes pada anak. Mengingat, butuh contoh yang berkelanjutan.

Jika anak-anak yang sudah berusia 6 hingga 12 tahun, mungkin bisa cepat dalam merespons pemahaman yang diberikan oleh orang tua. Yakni, terkait bahaya Covid-19 dan bagaimana menanggulanginya. “Tapi, berbeda jika anak-anak di bawah 6 tahun,” ujar psikolog anak itu.

Artinya, para orang tua juga harus memberikan contoh secara istiqamah. Mengingat, pada fase itu anak-anak cenderung menjadi peniru. Karena itu, baik buruknya tingkah orang tua bakal terekam dan dilakukan anak-anak. Berbeda dengan anak-anak yang lebih dewasa, lanjutnya, anak-anak ini perlu mendapatkan contoh lebih dulu, baru penjelasan.

Meski begitu, dia menilai bahwa hal itu baik untuk kedua belah pihak. Baik orang tua maupun anak-anak. “Jika para orang tua menerapkan prokes, kemungkinan kecil mereka dapat membawa virus ke rumah,” terangnya.

Kalaupun para orang tua membawa virus pulang, kemungkinan dalam menularkan virus juga kecil, lantaran si anak tersebut juga taat prokes seperti yang diajarkan orang tua masing-masing.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gejolak persebaran virus Covid-19 belum juga usai di Kabupaten Jember. Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat sudah ada sebanyak 7.130 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 hingga 16 Juni lalu. Dari ribuan total tersebut, ternyata anak-anak juga menjadi korban.

Dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Kabid P2P Dinkes) Kabupaten Jember dr Alfi Yudisianto menjelaskan bahwa tercatat ada ratusan anak di Kabupaten Jember yang terkonfirmasi positif Covid-19. Yakni, sebanyak 486 anak. Dua di antaranya meninggal dunia.

Menurut dia, banyaknya pasien anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut diduga karena tertular orang tua mereka masing-masing. Sebab, sejak kali pertama Covid-19 merebak di Kabupaten Jember, dia menerangkan bahwa pergerakan anak-anak itu sudah dibatasi. “Kegiatan anak-anak ini kan hanya di rumah dan kegiatan tatap muka dilakukan secara daring,” ungkapnya.

Jika menilik penanganan di lapangan, anak-anak itu termasuk dalam pasien Covid-19 yang didapatkan dari tracing seorang keluarga yang terpapar Covid-19. Meski begitu, banyak yang tak bergejala alias OTG.

Namun, mengapa sampai ada yang meninggal? “Anak-anak tak ada komorbid, jadi murni karena Covid-19,” lanjutnya. Sesak napas, kondisi terus menurun, hingga lemas sampai akhirnya meninggal. Namun, dr Alfi enggan menyebutkan kriteria dua anak yang meninggal itu.

Sementara itu, tak berbeda dengan penanganan pasien dewasa, anak-anak itu juga menjalani tes swab dan isolasi. Namun, menghentikan persebaran Covid-19 sekarang menjadi prioritas yang tak boleh ditinggalkan. Dengan begitu, tak ada lagi penambahan pasien. Terutama anak-anak. Salah satunya, dengan menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak. Khususnya dalam menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu juga berlaku pada orang tua masing-masing. Yakni dengan tidak membawa virus pulang ke rumah. “Jadi, tetap melakukan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sementara itu, psikolog Jajuk Siti Nurhaqimah SPsi menerangkan bahwa peran orang tua memang sangat dibutuhkan dalam memberikan pemahaman terhadap penerapan prokes pada anak. Mengingat, butuh contoh yang berkelanjutan.

Jika anak-anak yang sudah berusia 6 hingga 12 tahun, mungkin bisa cepat dalam merespons pemahaman yang diberikan oleh orang tua. Yakni, terkait bahaya Covid-19 dan bagaimana menanggulanginya. “Tapi, berbeda jika anak-anak di bawah 6 tahun,” ujar psikolog anak itu.

Artinya, para orang tua juga harus memberikan contoh secara istiqamah. Mengingat, pada fase itu anak-anak cenderung menjadi peniru. Karena itu, baik buruknya tingkah orang tua bakal terekam dan dilakukan anak-anak. Berbeda dengan anak-anak yang lebih dewasa, lanjutnya, anak-anak ini perlu mendapatkan contoh lebih dulu, baru penjelasan.

Meski begitu, dia menilai bahwa hal itu baik untuk kedua belah pihak. Baik orang tua maupun anak-anak. “Jika para orang tua menerapkan prokes, kemungkinan kecil mereka dapat membawa virus ke rumah,” terangnya.

Kalaupun para orang tua membawa virus pulang, kemungkinan dalam menularkan virus juga kecil, lantaran si anak tersebut juga taat prokes seperti yang diajarkan orang tua masing-masing.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca