alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Terus Mencegah, Demi Menangani Kasus HIV pada Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, Radar Jember – Kasus HIV/AIDS pada anak mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, pengidap HIV anak di Kabupaten Jember naik turun. Namun demikian, perlu penanganan serius agar generasi penerus bangsa tidak banyak yang mengidap penyakit tersebut.

BACA JUGA : Erick Thohir Raih Tokoh Syariah 2022,Ketua PBNU: Sosoknya Peduli Pesantren

Jumlah anak HIV berdasarkan data terakhir yakni ada 26 anak di Jember yang mengidap HIV. Mereka berusia 0 sampai 19 tahun (baca grafis). Adanya HIV pada anak ini tidak membuat Dinkes diam diri. Ada sejumlah langkah dan penanganan yang dilakukan dinas terkait.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kasi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Jember dr Rita Wahyuningsih menyampaikan, selama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah maupun mengobati pasien HIV anak. Menurutnya, ada penguatan dalam pelaksanaan screening HIV pada ibu hamil (bumil) dan kontinu dilakukan sampai sekarang.

Dikatakan, proses screening itu dilakukan untuk mendeteksi awal apakah bumil terinfeksi atau tidak. Serta untuk mencegah anak tertular. Upaya start on terapi ini dilakukan Dinkes terhadap mereka yang masuk kategori orang dengan HIV (ODHIV). “Selain itu, melakukan screening HIV pada anak dan ibu ODHIV juga terus kami tegaskan,” ujarnya.

Pemberian terapi dan pencegahan HIV pada bayi juga dilakukan Dinkes. Selain upaya pencegahan dan pengobatan yang dilakukan, Dinkes juga melihat sisi kemanusiaan dari pasien pengidap HIV. “Maka dari itu, kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial dalam pemberian bantuan kepada orang yang berisiko,” jelasnya.

Sementara itu, dokter spesialis anak RS Paru Jember, Ririn Wahyuningtyastutik, menyampaikan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Hal itu penting guna mencegah HIV pada anak. Ririn menyebut, ada empat langkah yang bisa dilakukan dalam mencegah HIV dari ibu ke anak. Yakni mencegah HIV dari usia produktif, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu yang terinfeksi HIV karena berpengaruh pada pemberian obat ARF-nya, dan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak di dalam kandungan.

“(Kemudian, Red) dukungan perawatan dan pengobatan untuk anak yang terinfeksi HIV,” ucapnya. Terapi ARF berguna untuk menurunkan jumlah virus pada darah. Sehingga risiko penularan pada bayi akan berkurang.

Tenaga kesehatan dalam hal pencegahan dan pengobatan terkait HIV menurutnya harus bergerak di lini pertama. Mulai dari posyandu dan puskesmas untuk memberikan informasi ke masyarakat, karena terkadang banyak orang yang kurang informasi. “Jadi, pemberian edukasi tentang HIV ini perlu digalakkan guna mencegah peningkatan dan penularan orang tua ke bayinya,” jelas Ririn.

Pada sejumlah kasus, ada warga yang terkadang tidak pernah mendapat informasi, namun tiba-tiba mengidap HIV. Hal inilah yang menyebabkan risiko penularan besar terhadap anak. “Tidak menyalahkan ibu, terkadang mungkin tidak ada informasi dan mungkin malu. Jadi, informasi itu harus secara menyeluruh,” jelas Rita.

Menurutnya, informasi seperti Covid-19 seluruh masyarakat tahu. Nah, sosialisasi soal pencegahan HIV ini pun selayaknya terus dilakukan agar masyarakat memahami. Edukasi terkait pencegahan dan penanganan HIV perlu digalakkan di semua lini. “Kalau anak terkena HIV harus seperti apa (belum semua orang tahu, Red). Jadi, yang harus bergerak dari lini bawah,” pungkasnya. (mg2/c2/nur)

- Advertisement -

PATRANG, Radar Jember – Kasus HIV/AIDS pada anak mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, pengidap HIV anak di Kabupaten Jember naik turun. Namun demikian, perlu penanganan serius agar generasi penerus bangsa tidak banyak yang mengidap penyakit tersebut.

BACA JUGA : Erick Thohir Raih Tokoh Syariah 2022,Ketua PBNU: Sosoknya Peduli Pesantren

Jumlah anak HIV berdasarkan data terakhir yakni ada 26 anak di Jember yang mengidap HIV. Mereka berusia 0 sampai 19 tahun (baca grafis). Adanya HIV pada anak ini tidak membuat Dinkes diam diri. Ada sejumlah langkah dan penanganan yang dilakukan dinas terkait.

Kasi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Jember dr Rita Wahyuningsih menyampaikan, selama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah maupun mengobati pasien HIV anak. Menurutnya, ada penguatan dalam pelaksanaan screening HIV pada ibu hamil (bumil) dan kontinu dilakukan sampai sekarang.

Dikatakan, proses screening itu dilakukan untuk mendeteksi awal apakah bumil terinfeksi atau tidak. Serta untuk mencegah anak tertular. Upaya start on terapi ini dilakukan Dinkes terhadap mereka yang masuk kategori orang dengan HIV (ODHIV). “Selain itu, melakukan screening HIV pada anak dan ibu ODHIV juga terus kami tegaskan,” ujarnya.

Pemberian terapi dan pencegahan HIV pada bayi juga dilakukan Dinkes. Selain upaya pencegahan dan pengobatan yang dilakukan, Dinkes juga melihat sisi kemanusiaan dari pasien pengidap HIV. “Maka dari itu, kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial dalam pemberian bantuan kepada orang yang berisiko,” jelasnya.

Sementara itu, dokter spesialis anak RS Paru Jember, Ririn Wahyuningtyastutik, menyampaikan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Hal itu penting guna mencegah HIV pada anak. Ririn menyebut, ada empat langkah yang bisa dilakukan dalam mencegah HIV dari ibu ke anak. Yakni mencegah HIV dari usia produktif, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu yang terinfeksi HIV karena berpengaruh pada pemberian obat ARF-nya, dan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak di dalam kandungan.

“(Kemudian, Red) dukungan perawatan dan pengobatan untuk anak yang terinfeksi HIV,” ucapnya. Terapi ARF berguna untuk menurunkan jumlah virus pada darah. Sehingga risiko penularan pada bayi akan berkurang.

Tenaga kesehatan dalam hal pencegahan dan pengobatan terkait HIV menurutnya harus bergerak di lini pertama. Mulai dari posyandu dan puskesmas untuk memberikan informasi ke masyarakat, karena terkadang banyak orang yang kurang informasi. “Jadi, pemberian edukasi tentang HIV ini perlu digalakkan guna mencegah peningkatan dan penularan orang tua ke bayinya,” jelas Ririn.

Pada sejumlah kasus, ada warga yang terkadang tidak pernah mendapat informasi, namun tiba-tiba mengidap HIV. Hal inilah yang menyebabkan risiko penularan besar terhadap anak. “Tidak menyalahkan ibu, terkadang mungkin tidak ada informasi dan mungkin malu. Jadi, informasi itu harus secara menyeluruh,” jelas Rita.

Menurutnya, informasi seperti Covid-19 seluruh masyarakat tahu. Nah, sosialisasi soal pencegahan HIV ini pun selayaknya terus dilakukan agar masyarakat memahami. Edukasi terkait pencegahan dan penanganan HIV perlu digalakkan di semua lini. “Kalau anak terkena HIV harus seperti apa (belum semua orang tahu, Red). Jadi, yang harus bergerak dari lini bawah,” pungkasnya. (mg2/c2/nur)

PATRANG, Radar Jember – Kasus HIV/AIDS pada anak mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, pengidap HIV anak di Kabupaten Jember naik turun. Namun demikian, perlu penanganan serius agar generasi penerus bangsa tidak banyak yang mengidap penyakit tersebut.

BACA JUGA : Erick Thohir Raih Tokoh Syariah 2022,Ketua PBNU: Sosoknya Peduli Pesantren

Jumlah anak HIV berdasarkan data terakhir yakni ada 26 anak di Jember yang mengidap HIV. Mereka berusia 0 sampai 19 tahun (baca grafis). Adanya HIV pada anak ini tidak membuat Dinkes diam diri. Ada sejumlah langkah dan penanganan yang dilakukan dinas terkait.

Kasi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Jember dr Rita Wahyuningsih menyampaikan, selama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah maupun mengobati pasien HIV anak. Menurutnya, ada penguatan dalam pelaksanaan screening HIV pada ibu hamil (bumil) dan kontinu dilakukan sampai sekarang.

Dikatakan, proses screening itu dilakukan untuk mendeteksi awal apakah bumil terinfeksi atau tidak. Serta untuk mencegah anak tertular. Upaya start on terapi ini dilakukan Dinkes terhadap mereka yang masuk kategori orang dengan HIV (ODHIV). “Selain itu, melakukan screening HIV pada anak dan ibu ODHIV juga terus kami tegaskan,” ujarnya.

Pemberian terapi dan pencegahan HIV pada bayi juga dilakukan Dinkes. Selain upaya pencegahan dan pengobatan yang dilakukan, Dinkes juga melihat sisi kemanusiaan dari pasien pengidap HIV. “Maka dari itu, kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial dalam pemberian bantuan kepada orang yang berisiko,” jelasnya.

Sementara itu, dokter spesialis anak RS Paru Jember, Ririn Wahyuningtyastutik, menyampaikan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Hal itu penting guna mencegah HIV pada anak. Ririn menyebut, ada empat langkah yang bisa dilakukan dalam mencegah HIV dari ibu ke anak. Yakni mencegah HIV dari usia produktif, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu yang terinfeksi HIV karena berpengaruh pada pemberian obat ARF-nya, dan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak di dalam kandungan.

“(Kemudian, Red) dukungan perawatan dan pengobatan untuk anak yang terinfeksi HIV,” ucapnya. Terapi ARF berguna untuk menurunkan jumlah virus pada darah. Sehingga risiko penularan pada bayi akan berkurang.

Tenaga kesehatan dalam hal pencegahan dan pengobatan terkait HIV menurutnya harus bergerak di lini pertama. Mulai dari posyandu dan puskesmas untuk memberikan informasi ke masyarakat, karena terkadang banyak orang yang kurang informasi. “Jadi, pemberian edukasi tentang HIV ini perlu digalakkan guna mencegah peningkatan dan penularan orang tua ke bayinya,” jelas Ririn.

Pada sejumlah kasus, ada warga yang terkadang tidak pernah mendapat informasi, namun tiba-tiba mengidap HIV. Hal inilah yang menyebabkan risiko penularan besar terhadap anak. “Tidak menyalahkan ibu, terkadang mungkin tidak ada informasi dan mungkin malu. Jadi, informasi itu harus secara menyeluruh,” jelas Rita.

Menurutnya, informasi seperti Covid-19 seluruh masyarakat tahu. Nah, sosialisasi soal pencegahan HIV ini pun selayaknya terus dilakukan agar masyarakat memahami. Edukasi terkait pencegahan dan penanganan HIV perlu digalakkan di semua lini. “Kalau anak terkena HIV harus seperti apa (belum semua orang tahu, Red). Jadi, yang harus bergerak dari lini bawah,” pungkasnya. (mg2/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/