alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Kematian Ibu di Jember 2021 Tembus Seratus Kasus

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) masih menjadi momok yang tak kunjung menemukan solusi. Bahkan, memasuki bulan kesembilan 2021, permasalahan ini masih tetap bertahan sebagai peringkat wahid di Jawa Timur.

Sebagai informasi, AKI di Jember pada tahun 2020 yakni sebanyak 61 kasus. Sementara, angka kematian bayi (AKB) sebanyak 324 kasus. Angka ini menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, melebihi AKI Bojonegoro sebanyak 28 kasus dan AKB Surabaya sebanyak 208 kasus.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Forum Jember Sehat (Forjes) melalui diskusi bersama dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait, Kamis (16/9), tercatat ada peningkatan jumlah AKI hampir dua kali lipat selama hampir setahun ini. Pada tahun lalu, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Sedangkan pada tahun ini terhitung terjadi penambahan hingga berjumlah 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Di Sumbersari saja, sebagai kecamatan dengan kasus AKI tertinggi nomor dua se-Jember, terjadi peningkatan. Tahun 2020 kematian ibu itu empat, sedangkan neonatal (kematian bayi, Red) ada delapan sekecamatan. Nah, sekarang untuk Kelurahan Wirolegi saja, hanya salah satu kelurahan di Sumbersari, itu lima kematian ibu dan 16 kematian bayi,” ungkap Yamini Soedjai, pendiri Forjes.

Dalam diskusi yang digelar di aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) itu, dia menjelaskan ada lima faktor musabab naiknya kasus tersebut. Pertama, masih adanya masyarakat yang tidak tahu alur sistem birokrasi rumah sakit (RS) akibat minimnya informasi. Kedua, ibu hamil terkendala akses pembiayaan atau ibu hamil kesulitan mengakses jaminan persalinan (jampersal) karena administrasinya dianggap rumit.

Ketiga, ibu hamil enggan menggunakan fasilitas kesehatan (faskes) karena pelayanan yang kurang maksimal. Keempat, masyarakat atau ibu hamil belum memahami peran ambulans desa, terutama saat menjelang proses persalinan. Terakhir, ibu hamil tidak memiliki keputusan sendiri lantaran masih bergantung pada keputusan keluarga. Sedangkan keluarga tersebut masih menjunjung tinggi sosial budaya yang bersifat konvensional.

“Fakta di lapangan, selain yang paling banyak ditemui adalah pengaruh sosial budaya. Jadi, ibu hamil tidak dapat menentukan sendiri bagaimana kehamilannya. Semuanya masih bergantung pada keputusan suami, atau ibunya si ibu hamil itu,” paparnya kepada peserta diskusi.

Adanya pengaruh sosial budaya tersebut, lanjut Yamini, juga membuat ibu hamil enggan untuk berangkat ke puskesmas atau RS akibat takut dites swab atau di-covid-kan. “Keyakinan ibu atau nenek calon bayi itu, mereka menganggap kalau periksa atau konsultasi ke puskesmas dan rumah sakit, nanti bakal di-covid-kan. Sehingga mereka memilih untuk tidak berkunjung ke puskesmas,” imbuhnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) masih menjadi momok yang tak kunjung menemukan solusi. Bahkan, memasuki bulan kesembilan 2021, permasalahan ini masih tetap bertahan sebagai peringkat wahid di Jawa Timur.

Sebagai informasi, AKI di Jember pada tahun 2020 yakni sebanyak 61 kasus. Sementara, angka kematian bayi (AKB) sebanyak 324 kasus. Angka ini menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, melebihi AKI Bojonegoro sebanyak 28 kasus dan AKB Surabaya sebanyak 208 kasus.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Forum Jember Sehat (Forjes) melalui diskusi bersama dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait, Kamis (16/9), tercatat ada peningkatan jumlah AKI hampir dua kali lipat selama hampir setahun ini. Pada tahun lalu, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Sedangkan pada tahun ini terhitung terjadi penambahan hingga berjumlah 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan.

“Di Sumbersari saja, sebagai kecamatan dengan kasus AKI tertinggi nomor dua se-Jember, terjadi peningkatan. Tahun 2020 kematian ibu itu empat, sedangkan neonatal (kematian bayi, Red) ada delapan sekecamatan. Nah, sekarang untuk Kelurahan Wirolegi saja, hanya salah satu kelurahan di Sumbersari, itu lima kematian ibu dan 16 kematian bayi,” ungkap Yamini Soedjai, pendiri Forjes.

Dalam diskusi yang digelar di aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) itu, dia menjelaskan ada lima faktor musabab naiknya kasus tersebut. Pertama, masih adanya masyarakat yang tidak tahu alur sistem birokrasi rumah sakit (RS) akibat minimnya informasi. Kedua, ibu hamil terkendala akses pembiayaan atau ibu hamil kesulitan mengakses jaminan persalinan (jampersal) karena administrasinya dianggap rumit.

Ketiga, ibu hamil enggan menggunakan fasilitas kesehatan (faskes) karena pelayanan yang kurang maksimal. Keempat, masyarakat atau ibu hamil belum memahami peran ambulans desa, terutama saat menjelang proses persalinan. Terakhir, ibu hamil tidak memiliki keputusan sendiri lantaran masih bergantung pada keputusan keluarga. Sedangkan keluarga tersebut masih menjunjung tinggi sosial budaya yang bersifat konvensional.

“Fakta di lapangan, selain yang paling banyak ditemui adalah pengaruh sosial budaya. Jadi, ibu hamil tidak dapat menentukan sendiri bagaimana kehamilannya. Semuanya masih bergantung pada keputusan suami, atau ibunya si ibu hamil itu,” paparnya kepada peserta diskusi.

Adanya pengaruh sosial budaya tersebut, lanjut Yamini, juga membuat ibu hamil enggan untuk berangkat ke puskesmas atau RS akibat takut dites swab atau di-covid-kan. “Keyakinan ibu atau nenek calon bayi itu, mereka menganggap kalau periksa atau konsultasi ke puskesmas dan rumah sakit, nanti bakal di-covid-kan. Sehingga mereka memilih untuk tidak berkunjung ke puskesmas,” imbuhnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) masih menjadi momok yang tak kunjung menemukan solusi. Bahkan, memasuki bulan kesembilan 2021, permasalahan ini masih tetap bertahan sebagai peringkat wahid di Jawa Timur.

Sebagai informasi, AKI di Jember pada tahun 2020 yakni sebanyak 61 kasus. Sementara, angka kematian bayi (AKB) sebanyak 324 kasus. Angka ini menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, melebihi AKI Bojonegoro sebanyak 28 kasus dan AKB Surabaya sebanyak 208 kasus.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Forum Jember Sehat (Forjes) melalui diskusi bersama dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait, Kamis (16/9), tercatat ada peningkatan jumlah AKI hampir dua kali lipat selama hampir setahun ini. Pada tahun lalu, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Sedangkan pada tahun ini terhitung terjadi penambahan hingga berjumlah 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan.

“Di Sumbersari saja, sebagai kecamatan dengan kasus AKI tertinggi nomor dua se-Jember, terjadi peningkatan. Tahun 2020 kematian ibu itu empat, sedangkan neonatal (kematian bayi, Red) ada delapan sekecamatan. Nah, sekarang untuk Kelurahan Wirolegi saja, hanya salah satu kelurahan di Sumbersari, itu lima kematian ibu dan 16 kematian bayi,” ungkap Yamini Soedjai, pendiri Forjes.

Dalam diskusi yang digelar di aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) itu, dia menjelaskan ada lima faktor musabab naiknya kasus tersebut. Pertama, masih adanya masyarakat yang tidak tahu alur sistem birokrasi rumah sakit (RS) akibat minimnya informasi. Kedua, ibu hamil terkendala akses pembiayaan atau ibu hamil kesulitan mengakses jaminan persalinan (jampersal) karena administrasinya dianggap rumit.

Ketiga, ibu hamil enggan menggunakan fasilitas kesehatan (faskes) karena pelayanan yang kurang maksimal. Keempat, masyarakat atau ibu hamil belum memahami peran ambulans desa, terutama saat menjelang proses persalinan. Terakhir, ibu hamil tidak memiliki keputusan sendiri lantaran masih bergantung pada keputusan keluarga. Sedangkan keluarga tersebut masih menjunjung tinggi sosial budaya yang bersifat konvensional.

“Fakta di lapangan, selain yang paling banyak ditemui adalah pengaruh sosial budaya. Jadi, ibu hamil tidak dapat menentukan sendiri bagaimana kehamilannya. Semuanya masih bergantung pada keputusan suami, atau ibunya si ibu hamil itu,” paparnya kepada peserta diskusi.

Adanya pengaruh sosial budaya tersebut, lanjut Yamini, juga membuat ibu hamil enggan untuk berangkat ke puskesmas atau RS akibat takut dites swab atau di-covid-kan. “Keyakinan ibu atau nenek calon bayi itu, mereka menganggap kalau periksa atau konsultasi ke puskesmas dan rumah sakit, nanti bakal di-covid-kan. Sehingga mereka memilih untuk tidak berkunjung ke puskesmas,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/