alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

MERDEKA! Untuk Relawan Pemulasaraan Tak Gentar Merawat Jenazah Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sering mendapat penolakan dari keluarga jenazah, tak membuat relawan pemulasaraan menghentikan langkah. Mereka terus berkhidmat untuk merawat jenazah pasien Covid-19. Peran mereka memang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat berisiko. Sebab, rentan tertular wabah. Terlebih, mereka kerap mendapat penolakan dari keluarga jenazah hingga cemoohan. Apa yang menjadi alasan sehingga mereka tetap bertahan di jalur kemanusiaan?

“Ya, kami kerjakan sebagai niat untuk membantu sesama,” kata Nanang Hidayat, salah satu penggagas Kokok Beluk, komunitas relawan pemulasaraan jenazah, kemarin (16/8). Awalnya, komunitas yang berasal dari Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, ini memiliki tujuh orang anggota. Kini, yang aktif melakukan pemulasaraan tinggal empat orang. Semuanya laki-laki.

Kelompok relawan ini sudah terlatih menangani jenazah pasien dengan penyakit menular. Sebab, tugasnya memang melakukan pemulasaraan atau perawatan jenazah penderita Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Biasanya, mereka akan datang ke lokasi jenazah atas keinginan sendiri atau atas permintaan masyarakat setempat. Sebab, tidak semua orang bisa atau tahu teknik merawat jenazah dengan virus korona tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Nanang, komunitas ini berdiri pada Juli 2020 lalu. Mulanya, untuk membantu perawatan jenazah dengan HIV/AIDS. Namun, lantaran kondisi pandemi yang semakin parah dan banyak orang meninggal akibat wabah, maka Kokok Beluk juga melakukan pemulasaraan jenazah karena Covid-19. Ini dilakukan karena tak semua keluarga mampu membayar biaya pemulasaraan di rumah sakit yang cukup tinggi. Di sisi lain, jika pemulasaraan tidak dilakukan dengan benar, maka ada potensi menular.

Walau sifatnya relawan, namun bukan berarti aktivitas mereka tanpa tantangan. Ada saja penolakan dari keluarga jenazah. Sebab, mereka beranggapan bahwa penderita Covid-19 adalah aib. Keluarga khawatir lingkungan akan mengucilkan kalau hal itu sampai diketahui oleh masyarakat. Karena itu, keluarga cenderung menolak jika pemulasaraan dilakukan dengan prosedur Covid-19.

Bentuk penolakannya pun beragam. Mulai dari sindiran dengan tujuan mengusir, hingga mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan terkadang, relawan juga menghadapi situasi pro dan kontra. Ada kubu yang menghendaki pemulasaraan sesuai prosedur Covid-19 dan sebaliknya. Di sinilah perjuangan relawan Kokok Beluk. Selain merawat jenazah, mereka juga turut mengedukasi masyarakat. “Kalau kondisinya sudah seperti itu, kami biasanya tidak bisa memaksa,” tutur laki-laki yang juga sopir ambulans Puskesmas Kranjingan itu.

Upaya untuk meyakinkan keluarga cukup beragam. Mulai dari pendekatan personal kepada keluarga sampai melibatkan perangkat desa atau kelurahan setempat, hingga aparat kepolisian seperti bhabinkantibmas.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sering mendapat penolakan dari keluarga jenazah, tak membuat relawan pemulasaraan menghentikan langkah. Mereka terus berkhidmat untuk merawat jenazah pasien Covid-19. Peran mereka memang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat berisiko. Sebab, rentan tertular wabah. Terlebih, mereka kerap mendapat penolakan dari keluarga jenazah hingga cemoohan. Apa yang menjadi alasan sehingga mereka tetap bertahan di jalur kemanusiaan?

“Ya, kami kerjakan sebagai niat untuk membantu sesama,” kata Nanang Hidayat, salah satu penggagas Kokok Beluk, komunitas relawan pemulasaraan jenazah, kemarin (16/8). Awalnya, komunitas yang berasal dari Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, ini memiliki tujuh orang anggota. Kini, yang aktif melakukan pemulasaraan tinggal empat orang. Semuanya laki-laki.

Kelompok relawan ini sudah terlatih menangani jenazah pasien dengan penyakit menular. Sebab, tugasnya memang melakukan pemulasaraan atau perawatan jenazah penderita Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Biasanya, mereka akan datang ke lokasi jenazah atas keinginan sendiri atau atas permintaan masyarakat setempat. Sebab, tidak semua orang bisa atau tahu teknik merawat jenazah dengan virus korona tersebut.

Menurut Nanang, komunitas ini berdiri pada Juli 2020 lalu. Mulanya, untuk membantu perawatan jenazah dengan HIV/AIDS. Namun, lantaran kondisi pandemi yang semakin parah dan banyak orang meninggal akibat wabah, maka Kokok Beluk juga melakukan pemulasaraan jenazah karena Covid-19. Ini dilakukan karena tak semua keluarga mampu membayar biaya pemulasaraan di rumah sakit yang cukup tinggi. Di sisi lain, jika pemulasaraan tidak dilakukan dengan benar, maka ada potensi menular.

Walau sifatnya relawan, namun bukan berarti aktivitas mereka tanpa tantangan. Ada saja penolakan dari keluarga jenazah. Sebab, mereka beranggapan bahwa penderita Covid-19 adalah aib. Keluarga khawatir lingkungan akan mengucilkan kalau hal itu sampai diketahui oleh masyarakat. Karena itu, keluarga cenderung menolak jika pemulasaraan dilakukan dengan prosedur Covid-19.

Bentuk penolakannya pun beragam. Mulai dari sindiran dengan tujuan mengusir, hingga mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan terkadang, relawan juga menghadapi situasi pro dan kontra. Ada kubu yang menghendaki pemulasaraan sesuai prosedur Covid-19 dan sebaliknya. Di sinilah perjuangan relawan Kokok Beluk. Selain merawat jenazah, mereka juga turut mengedukasi masyarakat. “Kalau kondisinya sudah seperti itu, kami biasanya tidak bisa memaksa,” tutur laki-laki yang juga sopir ambulans Puskesmas Kranjingan itu.

Upaya untuk meyakinkan keluarga cukup beragam. Mulai dari pendekatan personal kepada keluarga sampai melibatkan perangkat desa atau kelurahan setempat, hingga aparat kepolisian seperti bhabinkantibmas.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sering mendapat penolakan dari keluarga jenazah, tak membuat relawan pemulasaraan menghentikan langkah. Mereka terus berkhidmat untuk merawat jenazah pasien Covid-19. Peran mereka memang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat berisiko. Sebab, rentan tertular wabah. Terlebih, mereka kerap mendapat penolakan dari keluarga jenazah hingga cemoohan. Apa yang menjadi alasan sehingga mereka tetap bertahan di jalur kemanusiaan?

“Ya, kami kerjakan sebagai niat untuk membantu sesama,” kata Nanang Hidayat, salah satu penggagas Kokok Beluk, komunitas relawan pemulasaraan jenazah, kemarin (16/8). Awalnya, komunitas yang berasal dari Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, ini memiliki tujuh orang anggota. Kini, yang aktif melakukan pemulasaraan tinggal empat orang. Semuanya laki-laki.

Kelompok relawan ini sudah terlatih menangani jenazah pasien dengan penyakit menular. Sebab, tugasnya memang melakukan pemulasaraan atau perawatan jenazah penderita Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Biasanya, mereka akan datang ke lokasi jenazah atas keinginan sendiri atau atas permintaan masyarakat setempat. Sebab, tidak semua orang bisa atau tahu teknik merawat jenazah dengan virus korona tersebut.

Menurut Nanang, komunitas ini berdiri pada Juli 2020 lalu. Mulanya, untuk membantu perawatan jenazah dengan HIV/AIDS. Namun, lantaran kondisi pandemi yang semakin parah dan banyak orang meninggal akibat wabah, maka Kokok Beluk juga melakukan pemulasaraan jenazah karena Covid-19. Ini dilakukan karena tak semua keluarga mampu membayar biaya pemulasaraan di rumah sakit yang cukup tinggi. Di sisi lain, jika pemulasaraan tidak dilakukan dengan benar, maka ada potensi menular.

Walau sifatnya relawan, namun bukan berarti aktivitas mereka tanpa tantangan. Ada saja penolakan dari keluarga jenazah. Sebab, mereka beranggapan bahwa penderita Covid-19 adalah aib. Keluarga khawatir lingkungan akan mengucilkan kalau hal itu sampai diketahui oleh masyarakat. Karena itu, keluarga cenderung menolak jika pemulasaraan dilakukan dengan prosedur Covid-19.

Bentuk penolakannya pun beragam. Mulai dari sindiran dengan tujuan mengusir, hingga mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan terkadang, relawan juga menghadapi situasi pro dan kontra. Ada kubu yang menghendaki pemulasaraan sesuai prosedur Covid-19 dan sebaliknya. Di sinilah perjuangan relawan Kokok Beluk. Selain merawat jenazah, mereka juga turut mengedukasi masyarakat. “Kalau kondisinya sudah seperti itu, kami biasanya tidak bisa memaksa,” tutur laki-laki yang juga sopir ambulans Puskesmas Kranjingan itu.

Upaya untuk meyakinkan keluarga cukup beragam. Mulai dari pendekatan personal kepada keluarga sampai melibatkan perangkat desa atau kelurahan setempat, hingga aparat kepolisian seperti bhabinkantibmas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/