alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

MERDEKA! Untuk Petugas Medis Sang Garda Depan Melawan Covid-19

Ketika yang lain menghindar, tiga kelompok orang ini justru masuk ke dalam pusaran pandemi. Ada petugas medis, guru, dan relawan pemulasaraan. Meski tetap ada perasaan ketar-ketir terpapar Covid-19, namun mereka terpanggil dan hadir membantu sesama. Tak berlebihan kiranya jika kami menyebut mereka sebagai pahlawan masa kini. Pahlawan kemanusiaan.

Mobile_AP_Rectangle 1

UMBULSARI, RADARJEMBER.ID – Pahlawan masa kini tak lagi berjuang melawan penjajah dan memakai baju zirah. Namun, mereka berjuang melawan wabah dan menggunakan baju hazmat yang bisa bikin gerah. Ya, mereka adalah petugas medis yang berada di garis depan merawat pasien Covid-19. Tentu saja, mereka juga manusia biasa. Rasa cemas tertular tetap saja ada. Bahkan, juga merasakan rindu kehangatan keluarga. Sebab, demi menjalankan tugas kemanusiaan itu, mereka sampai jarang pulang.

Ilham Mubarak, misalnya. Perawat di Puskesmas Umbulsari ini mengaku kerap merasakan H2C alias harap-harap cemas saat lepas piket. “Saya takut bawa virus ke rumah,” ungkapnya. Jadi, prosedur pembersihan diri yang ketat selalu dia upayakan sebelum memeluk dan memanjakan anak istrinya.

Tugasnya menjadi tracer bukanlah hal mudah. Sebagai tenaga kesehatan yang kerap melakukan tracing terhadap kontak erat pasien Covid-19, tentu saja potensi tertular cukup tinggi. Selain rentan terpapar, waktu berkumpul dengan keluarganya jelas berkurang. Sebab, dia harus menggantikan petugas medis lain yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Bahkan, kerap ikut menguburkan pasien yang meninggal karena Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beruntung, istrinya sangat memahami bahwa hal itu adalah tugas untuk menyelamatkan banyak orang. Demi kemanusiaan. “Untungnya juga, anak saya yang berusia 2,5 tahun luar biasa. Ketika sedang kangen, dia meminta ibunya menelpon via WhatsApp. Biasanya sekadar menanyakan saya sedang apa, dan sekaligus memberikan semangat,” ujar pria 30 tahun itu.

Tak jauh berbeda, dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, juga mengalami hal serupa. Dia sempat dikomplain oleh anak dan istrinya karena kerja yang dilakukan tak mengenal waktu. Bahkan, jika bisa memilih, keluarga ingin Angga hanya menangani kasus paru-paru biasa seperti spesialisasinya, bukan pasien Covid-19. “Alasannya karena waktu hingga kekhawatiran tertular saat menangani pasien Covid-19,” ujarnya.

Namun, mau bagaimana lagi. Tugas yang dia emban adalah demi keselamatan banyak orang. Sebab, misi yang dia emban tak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga turut membantu pemerintah menghentikan wabah. “Alhamdulillah, lambat laun mereka mulai menerima dan terus memberikan semangat,” ulasnya.

- Advertisement -

UMBULSARI, RADARJEMBER.ID – Pahlawan masa kini tak lagi berjuang melawan penjajah dan memakai baju zirah. Namun, mereka berjuang melawan wabah dan menggunakan baju hazmat yang bisa bikin gerah. Ya, mereka adalah petugas medis yang berada di garis depan merawat pasien Covid-19. Tentu saja, mereka juga manusia biasa. Rasa cemas tertular tetap saja ada. Bahkan, juga merasakan rindu kehangatan keluarga. Sebab, demi menjalankan tugas kemanusiaan itu, mereka sampai jarang pulang.

Ilham Mubarak, misalnya. Perawat di Puskesmas Umbulsari ini mengaku kerap merasakan H2C alias harap-harap cemas saat lepas piket. “Saya takut bawa virus ke rumah,” ungkapnya. Jadi, prosedur pembersihan diri yang ketat selalu dia upayakan sebelum memeluk dan memanjakan anak istrinya.

Tugasnya menjadi tracer bukanlah hal mudah. Sebagai tenaga kesehatan yang kerap melakukan tracing terhadap kontak erat pasien Covid-19, tentu saja potensi tertular cukup tinggi. Selain rentan terpapar, waktu berkumpul dengan keluarganya jelas berkurang. Sebab, dia harus menggantikan petugas medis lain yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Bahkan, kerap ikut menguburkan pasien yang meninggal karena Covid-19.

Beruntung, istrinya sangat memahami bahwa hal itu adalah tugas untuk menyelamatkan banyak orang. Demi kemanusiaan. “Untungnya juga, anak saya yang berusia 2,5 tahun luar biasa. Ketika sedang kangen, dia meminta ibunya menelpon via WhatsApp. Biasanya sekadar menanyakan saya sedang apa, dan sekaligus memberikan semangat,” ujar pria 30 tahun itu.

Tak jauh berbeda, dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, juga mengalami hal serupa. Dia sempat dikomplain oleh anak dan istrinya karena kerja yang dilakukan tak mengenal waktu. Bahkan, jika bisa memilih, keluarga ingin Angga hanya menangani kasus paru-paru biasa seperti spesialisasinya, bukan pasien Covid-19. “Alasannya karena waktu hingga kekhawatiran tertular saat menangani pasien Covid-19,” ujarnya.

Namun, mau bagaimana lagi. Tugas yang dia emban adalah demi keselamatan banyak orang. Sebab, misi yang dia emban tak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga turut membantu pemerintah menghentikan wabah. “Alhamdulillah, lambat laun mereka mulai menerima dan terus memberikan semangat,” ulasnya.

UMBULSARI, RADARJEMBER.ID – Pahlawan masa kini tak lagi berjuang melawan penjajah dan memakai baju zirah. Namun, mereka berjuang melawan wabah dan menggunakan baju hazmat yang bisa bikin gerah. Ya, mereka adalah petugas medis yang berada di garis depan merawat pasien Covid-19. Tentu saja, mereka juga manusia biasa. Rasa cemas tertular tetap saja ada. Bahkan, juga merasakan rindu kehangatan keluarga. Sebab, demi menjalankan tugas kemanusiaan itu, mereka sampai jarang pulang.

Ilham Mubarak, misalnya. Perawat di Puskesmas Umbulsari ini mengaku kerap merasakan H2C alias harap-harap cemas saat lepas piket. “Saya takut bawa virus ke rumah,” ungkapnya. Jadi, prosedur pembersihan diri yang ketat selalu dia upayakan sebelum memeluk dan memanjakan anak istrinya.

Tugasnya menjadi tracer bukanlah hal mudah. Sebagai tenaga kesehatan yang kerap melakukan tracing terhadap kontak erat pasien Covid-19, tentu saja potensi tertular cukup tinggi. Selain rentan terpapar, waktu berkumpul dengan keluarganya jelas berkurang. Sebab, dia harus menggantikan petugas medis lain yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Bahkan, kerap ikut menguburkan pasien yang meninggal karena Covid-19.

Beruntung, istrinya sangat memahami bahwa hal itu adalah tugas untuk menyelamatkan banyak orang. Demi kemanusiaan. “Untungnya juga, anak saya yang berusia 2,5 tahun luar biasa. Ketika sedang kangen, dia meminta ibunya menelpon via WhatsApp. Biasanya sekadar menanyakan saya sedang apa, dan sekaligus memberikan semangat,” ujar pria 30 tahun itu.

Tak jauh berbeda, dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, juga mengalami hal serupa. Dia sempat dikomplain oleh anak dan istrinya karena kerja yang dilakukan tak mengenal waktu. Bahkan, jika bisa memilih, keluarga ingin Angga hanya menangani kasus paru-paru biasa seperti spesialisasinya, bukan pasien Covid-19. “Alasannya karena waktu hingga kekhawatiran tertular saat menangani pasien Covid-19,” ujarnya.

Namun, mau bagaimana lagi. Tugas yang dia emban adalah demi keselamatan banyak orang. Sebab, misi yang dia emban tak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga turut membantu pemerintah menghentikan wabah. “Alhamdulillah, lambat laun mereka mulai menerima dan terus memberikan semangat,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/