alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Mitos Pasang Ring Gampang Tersambar Petir.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Salah satu penyakit jantung yang sering terjadi yaitu penyempitan pada pembuluh darah atau disebut jantung koroner. Penyakit ini dapat diobati dengan dua cara yaitu dengan obat dan pemasangan ring. Lantas apakah memakai ring pada jantung gampang tersambar petir, itu benar atau sekedar mitos belaka?

Ubah Kebiasaan Menyikat Gigi saat Mandi

Dokter spesialis jantung pada RSD dr Soebandi, dr Suryono Sp JP(K) FIHA FasCC mengakui, beberapa pasiennya yang sakit jantung koroner terdapat persepsi yang aneh saat disarankan untuk memasang ring. “Alasan yang kerap kali pasien lontarkan itu adalah takut kesetrum, kalau pakai ring di jantung. Saya sering dapat pasien yang beralasan takut kesambar petir atau juga takut kesetrum ketika pegang handphone,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, dalam pemasangan ring di jantung tidak ada hubungan sama sekali terhadap kesetrum atau bahkan lebih rentan tersambar petir. “Opini masyarakat yang takut kesetrum dan tersambar petir itu perlu diluruskan. Kasihan kalau dibiarkan terus menerus,” paparnya.

Dia menjelaskan, jantung koroner yang sudah menunjukan penyempitan dan harus ada tindakan pemasangan ring. Sementara, bila ditunda-tunda, maka akibatnya terjadi kekurangan oksigen, kemudian jantung akan membengkak. “Kalau jantung sudah membengkak, maka sesak nafas dan tidak bisa beraktifitas apa-apa,” terangnya.

Dia menjelaskan, pemasangan ring jantung merupakan prosedur yang bertujuan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang telah menyempit ataupun tersumbat. Prosedur ini juga biasa disebut dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau angioplasty koroner. Pemasangan ring jantung ini berguna untuk mengembalikan fungsi pembuluh darah koroner, yaitu untuk mengalirkan suplai darah yang cukup ke otot jantung.

Meski pemasangan ring penting untuk dilakukan, lanjut Suryono, tetapi masih saja masyarakat menolak dan takut dalam memasang ring. “Alasannya dianggapnya ring itu besi besar. Padahal ring jantung itu kecil dan halus,” jelasnya.

Bagi mereka yang tidak bisa melakukan ring, misalnya penyempitan terlalu banyak hingga penyumbatannya, maka jalan keluarnya yaitu operasi menyambung pembuluh darah. “Ibarat sungai itu disambung dari hulu ke hilir. Jadi pembuluh darah diambil dari tangan atau kaki pasien sendiri,” tutur dr Suryono yang telah melakukan pemasangan ring dari tahun 2017 di RSD dr Soebandi.

Jurnalis: mg3
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Dwi Siswanto

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Salah satu penyakit jantung yang sering terjadi yaitu penyempitan pada pembuluh darah atau disebut jantung koroner. Penyakit ini dapat diobati dengan dua cara yaitu dengan obat dan pemasangan ring. Lantas apakah memakai ring pada jantung gampang tersambar petir, itu benar atau sekedar mitos belaka?

Ubah Kebiasaan Menyikat Gigi saat Mandi

Dokter spesialis jantung pada RSD dr Soebandi, dr Suryono Sp JP(K) FIHA FasCC mengakui, beberapa pasiennya yang sakit jantung koroner terdapat persepsi yang aneh saat disarankan untuk memasang ring. “Alasan yang kerap kali pasien lontarkan itu adalah takut kesetrum, kalau pakai ring di jantung. Saya sering dapat pasien yang beralasan takut kesambar petir atau juga takut kesetrum ketika pegang handphone,” tuturnya.

Padahal, dalam pemasangan ring di jantung tidak ada hubungan sama sekali terhadap kesetrum atau bahkan lebih rentan tersambar petir. “Opini masyarakat yang takut kesetrum dan tersambar petir itu perlu diluruskan. Kasihan kalau dibiarkan terus menerus,” paparnya.

Dia menjelaskan, jantung koroner yang sudah menunjukan penyempitan dan harus ada tindakan pemasangan ring. Sementara, bila ditunda-tunda, maka akibatnya terjadi kekurangan oksigen, kemudian jantung akan membengkak. “Kalau jantung sudah membengkak, maka sesak nafas dan tidak bisa beraktifitas apa-apa,” terangnya.

Dia menjelaskan, pemasangan ring jantung merupakan prosedur yang bertujuan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang telah menyempit ataupun tersumbat. Prosedur ini juga biasa disebut dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau angioplasty koroner. Pemasangan ring jantung ini berguna untuk mengembalikan fungsi pembuluh darah koroner, yaitu untuk mengalirkan suplai darah yang cukup ke otot jantung.

Meski pemasangan ring penting untuk dilakukan, lanjut Suryono, tetapi masih saja masyarakat menolak dan takut dalam memasang ring. “Alasannya dianggapnya ring itu besi besar. Padahal ring jantung itu kecil dan halus,” jelasnya.

Bagi mereka yang tidak bisa melakukan ring, misalnya penyempitan terlalu banyak hingga penyumbatannya, maka jalan keluarnya yaitu operasi menyambung pembuluh darah. “Ibarat sungai itu disambung dari hulu ke hilir. Jadi pembuluh darah diambil dari tangan atau kaki pasien sendiri,” tutur dr Suryono yang telah melakukan pemasangan ring dari tahun 2017 di RSD dr Soebandi.

Jurnalis: mg3
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Dwi Siswanto

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Salah satu penyakit jantung yang sering terjadi yaitu penyempitan pada pembuluh darah atau disebut jantung koroner. Penyakit ini dapat diobati dengan dua cara yaitu dengan obat dan pemasangan ring. Lantas apakah memakai ring pada jantung gampang tersambar petir, itu benar atau sekedar mitos belaka?

Ubah Kebiasaan Menyikat Gigi saat Mandi

Dokter spesialis jantung pada RSD dr Soebandi, dr Suryono Sp JP(K) FIHA FasCC mengakui, beberapa pasiennya yang sakit jantung koroner terdapat persepsi yang aneh saat disarankan untuk memasang ring. “Alasan yang kerap kali pasien lontarkan itu adalah takut kesetrum, kalau pakai ring di jantung. Saya sering dapat pasien yang beralasan takut kesambar petir atau juga takut kesetrum ketika pegang handphone,” tuturnya.

Padahal, dalam pemasangan ring di jantung tidak ada hubungan sama sekali terhadap kesetrum atau bahkan lebih rentan tersambar petir. “Opini masyarakat yang takut kesetrum dan tersambar petir itu perlu diluruskan. Kasihan kalau dibiarkan terus menerus,” paparnya.

Dia menjelaskan, jantung koroner yang sudah menunjukan penyempitan dan harus ada tindakan pemasangan ring. Sementara, bila ditunda-tunda, maka akibatnya terjadi kekurangan oksigen, kemudian jantung akan membengkak. “Kalau jantung sudah membengkak, maka sesak nafas dan tidak bisa beraktifitas apa-apa,” terangnya.

Dia menjelaskan, pemasangan ring jantung merupakan prosedur yang bertujuan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang telah menyempit ataupun tersumbat. Prosedur ini juga biasa disebut dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau angioplasty koroner. Pemasangan ring jantung ini berguna untuk mengembalikan fungsi pembuluh darah koroner, yaitu untuk mengalirkan suplai darah yang cukup ke otot jantung.

Meski pemasangan ring penting untuk dilakukan, lanjut Suryono, tetapi masih saja masyarakat menolak dan takut dalam memasang ring. “Alasannya dianggapnya ring itu besi besar. Padahal ring jantung itu kecil dan halus,” jelasnya.

Bagi mereka yang tidak bisa melakukan ring, misalnya penyempitan terlalu banyak hingga penyumbatannya, maka jalan keluarnya yaitu operasi menyambung pembuluh darah. “Ibarat sungai itu disambung dari hulu ke hilir. Jadi pembuluh darah diambil dari tangan atau kaki pasien sendiri,” tutur dr Suryono yang telah melakukan pemasangan ring dari tahun 2017 di RSD dr Soebandi.

Jurnalis: mg3
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Dwi Siswanto

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/