alexametrics
29.6 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Waspada, Sapi Mati Capai 7 Ekor

- Suspek PMK Tembus 1.294 Kasus

- Layanan Pengobatan Gratis Mulai Diterapkan

Mobile_AP_Rectangle 1

KEBONSARI, Radar Jember – Persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jember semakin memprihatinkan. Setiap hari jumlah hewan berkuku genap yang terjangkit semakin bertambah. Hingga berita ini ditulis, ada 7 sapi yang mati dan sebanyak 1.294 sapi dinyatakan suspek.

BACA JUGA : Jangan Cuma Cerutu Tapi Juga Kembangkan Produk Lain

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jember Elok Kristanti menyampaikan, data tersebut merupakan update terakhir tanggal 14 Juni. Menurutnya, temuan ini menjadi perhatiannya agar tidak terus menyebar. “Penyebarannya sangat cepat, sehingga setiap harinya terus mengalami kenaikan kasus,” jelas Elok kepada Jawa Pos Radar Jember di ruang kerjanya, kemarin (15/6).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikatakan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya 3 kecamatan yang bebas PMK. Masing-masing adalah Kecamatan Jelbuk, Arjasa, dan Kaliwates. “Data ini tidak termasuk kasus yang tidak atau belum ditemukan dan tidak dilaporkan,” terang Elok.

Dia membeber, sebanyak 7 sapi yang mati ditemukan di 3 kecamatan. Dua sapi di Sumbersari, satu sapi di Balung, dan empat sapi di Kecamatan Puger. “Semuanya sapi, karena memang hewan jenis sapi ini cukup rentan dan sangat peka terhadap virus PMK ini,” imbuhnya. Sementara itu, untuk kasus yang dinyatakan sembuh terdapat 100 hewan ternak.

Untuk vaksinasi, pihaknya belum bisa memastikan waktunya, tetapi akan dilakukan dalam waktu dekat. “Besok masih akan dilakukan rapat terkait teknis pelaksanaan vaksinasi,” ucapnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa instansi untuk menekan jumlah kasus penyebaran dari luar kota. Di antaranya dengan menerapkan aturan bagi hewan ternak yang keluar dan masuk wilayah tertentu, khususnya Jember, harus mengantongi izin. “Jadi, keluar masuknya hewan dari luar, maupun dari dalam keluar, harus mengantongi izin dari daerah pengirim dan yang dituju,” ujar Elok.

- Advertisement -

KEBONSARI, Radar Jember – Persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jember semakin memprihatinkan. Setiap hari jumlah hewan berkuku genap yang terjangkit semakin bertambah. Hingga berita ini ditulis, ada 7 sapi yang mati dan sebanyak 1.294 sapi dinyatakan suspek.

BACA JUGA : Jangan Cuma Cerutu Tapi Juga Kembangkan Produk Lain

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jember Elok Kristanti menyampaikan, data tersebut merupakan update terakhir tanggal 14 Juni. Menurutnya, temuan ini menjadi perhatiannya agar tidak terus menyebar. “Penyebarannya sangat cepat, sehingga setiap harinya terus mengalami kenaikan kasus,” jelas Elok kepada Jawa Pos Radar Jember di ruang kerjanya, kemarin (15/6).

Dikatakan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya 3 kecamatan yang bebas PMK. Masing-masing adalah Kecamatan Jelbuk, Arjasa, dan Kaliwates. “Data ini tidak termasuk kasus yang tidak atau belum ditemukan dan tidak dilaporkan,” terang Elok.

Dia membeber, sebanyak 7 sapi yang mati ditemukan di 3 kecamatan. Dua sapi di Sumbersari, satu sapi di Balung, dan empat sapi di Kecamatan Puger. “Semuanya sapi, karena memang hewan jenis sapi ini cukup rentan dan sangat peka terhadap virus PMK ini,” imbuhnya. Sementara itu, untuk kasus yang dinyatakan sembuh terdapat 100 hewan ternak.

Untuk vaksinasi, pihaknya belum bisa memastikan waktunya, tetapi akan dilakukan dalam waktu dekat. “Besok masih akan dilakukan rapat terkait teknis pelaksanaan vaksinasi,” ucapnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa instansi untuk menekan jumlah kasus penyebaran dari luar kota. Di antaranya dengan menerapkan aturan bagi hewan ternak yang keluar dan masuk wilayah tertentu, khususnya Jember, harus mengantongi izin. “Jadi, keluar masuknya hewan dari luar, maupun dari dalam keluar, harus mengantongi izin dari daerah pengirim dan yang dituju,” ujar Elok.

KEBONSARI, Radar Jember – Persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jember semakin memprihatinkan. Setiap hari jumlah hewan berkuku genap yang terjangkit semakin bertambah. Hingga berita ini ditulis, ada 7 sapi yang mati dan sebanyak 1.294 sapi dinyatakan suspek.

BACA JUGA : Jangan Cuma Cerutu Tapi Juga Kembangkan Produk Lain

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jember Elok Kristanti menyampaikan, data tersebut merupakan update terakhir tanggal 14 Juni. Menurutnya, temuan ini menjadi perhatiannya agar tidak terus menyebar. “Penyebarannya sangat cepat, sehingga setiap harinya terus mengalami kenaikan kasus,” jelas Elok kepada Jawa Pos Radar Jember di ruang kerjanya, kemarin (15/6).

Dikatakan, dari 31 kecamatan di Jember, hanya 3 kecamatan yang bebas PMK. Masing-masing adalah Kecamatan Jelbuk, Arjasa, dan Kaliwates. “Data ini tidak termasuk kasus yang tidak atau belum ditemukan dan tidak dilaporkan,” terang Elok.

Dia membeber, sebanyak 7 sapi yang mati ditemukan di 3 kecamatan. Dua sapi di Sumbersari, satu sapi di Balung, dan empat sapi di Kecamatan Puger. “Semuanya sapi, karena memang hewan jenis sapi ini cukup rentan dan sangat peka terhadap virus PMK ini,” imbuhnya. Sementara itu, untuk kasus yang dinyatakan sembuh terdapat 100 hewan ternak.

Untuk vaksinasi, pihaknya belum bisa memastikan waktunya, tetapi akan dilakukan dalam waktu dekat. “Besok masih akan dilakukan rapat terkait teknis pelaksanaan vaksinasi,” ucapnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa instansi untuk menekan jumlah kasus penyebaran dari luar kota. Di antaranya dengan menerapkan aturan bagi hewan ternak yang keluar dan masuk wilayah tertentu, khususnya Jember, harus mengantongi izin. “Jadi, keluar masuknya hewan dari luar, maupun dari dalam keluar, harus mengantongi izin dari daerah pengirim dan yang dituju,” ujar Elok.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/