alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Aktivitas Pemotongan Hewan Sepi Imbas PMK

Mobile_AP_Rectangle 1

KEDIRI,RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat penyembelihan di rumah potong hewan (RPH) merosot. Jika biasanya per hari ada sekitar 15 ekor hewan yang disembelih, kini maksimal tinggal lima ekor per hari atau turun sekitar 70 persen.

BACA JUGA : Masa Tunggu Berangkat Haji Bisa Lebih Lama Lagi

Hariyanto, Kepala RPH Kota Kediri mengungkapkan, penurunan jumlah hewan yang dipotong di RPH terjadi karena permintaan daging masyarakat turun. Mereka tidak berani ambil risiko, mengonsumsi daging sapi karena saat nini ada swabah PMK Perubahan perilaku itulah membuat pemotongan hewan di RPH turun tajam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Turunnya jumlah hewan yang disembelih membuat pemotongan bisa berlangsung cepat. Jika biasanya pemotongan baru selesai subuh, kini pemotongan hanya berlangsung sekitar tiga jam. Yakni, mulai pukul 20.00 hingga 22.00.Untuk mencegah masuknya hewan terpapar PMK ke RPH, Hariyanto menegaskan pihaknya sudah memperketat pengawasan.

“Hewan yang akan dipotong kami periksa dengan teliti. Hewan yang terindikasi atau suspek PMK langsung diminta putar balik,” lanjutnya. Dokter hewan yang stand by di PMK, jelas Hariyanto, akan memeriksa gigi dan mulut hewan. Demikian pula bagian tubuh lainnya. Jika ada yang dicurigai, otomatis hewan batal dipotong agar dagingnya tidak beredar di masyarakat.

- Advertisement -

KEDIRI,RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat penyembelihan di rumah potong hewan (RPH) merosot. Jika biasanya per hari ada sekitar 15 ekor hewan yang disembelih, kini maksimal tinggal lima ekor per hari atau turun sekitar 70 persen.

BACA JUGA : Masa Tunggu Berangkat Haji Bisa Lebih Lama Lagi

Hariyanto, Kepala RPH Kota Kediri mengungkapkan, penurunan jumlah hewan yang dipotong di RPH terjadi karena permintaan daging masyarakat turun. Mereka tidak berani ambil risiko, mengonsumsi daging sapi karena saat nini ada swabah PMK Perubahan perilaku itulah membuat pemotongan hewan di RPH turun tajam.

Turunnya jumlah hewan yang disembelih membuat pemotongan bisa berlangsung cepat. Jika biasanya pemotongan baru selesai subuh, kini pemotongan hanya berlangsung sekitar tiga jam. Yakni, mulai pukul 20.00 hingga 22.00.Untuk mencegah masuknya hewan terpapar PMK ke RPH, Hariyanto menegaskan pihaknya sudah memperketat pengawasan.

“Hewan yang akan dipotong kami periksa dengan teliti. Hewan yang terindikasi atau suspek PMK langsung diminta putar balik,” lanjutnya. Dokter hewan yang stand by di PMK, jelas Hariyanto, akan memeriksa gigi dan mulut hewan. Demikian pula bagian tubuh lainnya. Jika ada yang dicurigai, otomatis hewan batal dipotong agar dagingnya tidak beredar di masyarakat.

KEDIRI,RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat penyembelihan di rumah potong hewan (RPH) merosot. Jika biasanya per hari ada sekitar 15 ekor hewan yang disembelih, kini maksimal tinggal lima ekor per hari atau turun sekitar 70 persen.

BACA JUGA : Masa Tunggu Berangkat Haji Bisa Lebih Lama Lagi

Hariyanto, Kepala RPH Kota Kediri mengungkapkan, penurunan jumlah hewan yang dipotong di RPH terjadi karena permintaan daging masyarakat turun. Mereka tidak berani ambil risiko, mengonsumsi daging sapi karena saat nini ada swabah PMK Perubahan perilaku itulah membuat pemotongan hewan di RPH turun tajam.

Turunnya jumlah hewan yang disembelih membuat pemotongan bisa berlangsung cepat. Jika biasanya pemotongan baru selesai subuh, kini pemotongan hanya berlangsung sekitar tiga jam. Yakni, mulai pukul 20.00 hingga 22.00.Untuk mencegah masuknya hewan terpapar PMK ke RPH, Hariyanto menegaskan pihaknya sudah memperketat pengawasan.

“Hewan yang akan dipotong kami periksa dengan teliti. Hewan yang terindikasi atau suspek PMK langsung diminta putar balik,” lanjutnya. Dokter hewan yang stand by di PMK, jelas Hariyanto, akan memeriksa gigi dan mulut hewan. Demikian pula bagian tubuh lainnya. Jika ada yang dicurigai, otomatis hewan batal dipotong agar dagingnya tidak beredar di masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/