alexametrics
30.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Sepekan Ada 66 Kasus Positif Baru

Efektivitas PPKM Mikro Dipertanyakan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hiruk pikuk Pasar Tanjung, kemarin (15/6) sore, masih sama seperti biasanya. Masih dipadati dengan pedagang dan pembeli. Namun, potret aktivitas masyarakat di sentra perputaran ekonomi itu tidak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sebab, banyak warga yang abai. Seperti tidak mengenakan masker atau menjaga jarak.

Padahal, berdasar data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, ada tren peningkatan kasus Covid-19. Bahkan, dalam sepekan terakhir, tercatat ada 66 kasus positif baru. Sebanyak 27 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan empat orang di antaranya meninggal. Kondisi ini menandakan bahwa virus korona masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Habib Salim memerinci, penambahan kasus itu terjadi setiap hari. Dengan jumlah yang berbeda-beda. Pada 13 Juni, misalnya, konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 22 kasus. Dua kasus suspect berasal dari Kecamatan Ajung dan Patrang. Sedangkan sisanya merupakan hasil tracing dari kontak keluarga. Yakni, lima kasus dari Kecamatan Tempurejo, sembilan kasus asal Kecamatan Tanggul, dan enam kasus dari Kecamatan Pakusari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelumnya, kasus positif baru di Jember sempat melandai. Bahkan, beberapa wilayah kecamatan di Jember sempat tercatat sebagai zona hijau. Namun, sepekan belakangan, kasus positif baru kembali mengalami peningkatan.

Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah lonjakan kasus itu karena masyarakat yang abai menerapkan prokes, atau justru pemerintah yang mulai longgar melakukan pengawasan? Padahal medio Februari lalu, Pemkab Jember telah mendirikan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Sepertinya, program turunan dari pemerintah pusat itu tidak cukup efektif mengendalikan laju penularan Covid-19 di daerah.

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo, menerangkan, saat ini pemerintah dan masyarakat memang sama-sama butuh pemahaman dalam menjaga Jember supaya aman dari Covid-19. “Contohnya di pasar saja, sudah banyak yang santai dengan tidak memakai masker,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hiruk pikuk Pasar Tanjung, kemarin (15/6) sore, masih sama seperti biasanya. Masih dipadati dengan pedagang dan pembeli. Namun, potret aktivitas masyarakat di sentra perputaran ekonomi itu tidak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sebab, banyak warga yang abai. Seperti tidak mengenakan masker atau menjaga jarak.

Padahal, berdasar data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, ada tren peningkatan kasus Covid-19. Bahkan, dalam sepekan terakhir, tercatat ada 66 kasus positif baru. Sebanyak 27 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan empat orang di antaranya meninggal. Kondisi ini menandakan bahwa virus korona masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Habib Salim memerinci, penambahan kasus itu terjadi setiap hari. Dengan jumlah yang berbeda-beda. Pada 13 Juni, misalnya, konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 22 kasus. Dua kasus suspect berasal dari Kecamatan Ajung dan Patrang. Sedangkan sisanya merupakan hasil tracing dari kontak keluarga. Yakni, lima kasus dari Kecamatan Tempurejo, sembilan kasus asal Kecamatan Tanggul, dan enam kasus dari Kecamatan Pakusari.

Sebelumnya, kasus positif baru di Jember sempat melandai. Bahkan, beberapa wilayah kecamatan di Jember sempat tercatat sebagai zona hijau. Namun, sepekan belakangan, kasus positif baru kembali mengalami peningkatan.

Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah lonjakan kasus itu karena masyarakat yang abai menerapkan prokes, atau justru pemerintah yang mulai longgar melakukan pengawasan? Padahal medio Februari lalu, Pemkab Jember telah mendirikan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Sepertinya, program turunan dari pemerintah pusat itu tidak cukup efektif mengendalikan laju penularan Covid-19 di daerah.

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo, menerangkan, saat ini pemerintah dan masyarakat memang sama-sama butuh pemahaman dalam menjaga Jember supaya aman dari Covid-19. “Contohnya di pasar saja, sudah banyak yang santai dengan tidak memakai masker,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hiruk pikuk Pasar Tanjung, kemarin (15/6) sore, masih sama seperti biasanya. Masih dipadati dengan pedagang dan pembeli. Namun, potret aktivitas masyarakat di sentra perputaran ekonomi itu tidak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sebab, banyak warga yang abai. Seperti tidak mengenakan masker atau menjaga jarak.

Padahal, berdasar data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, ada tren peningkatan kasus Covid-19. Bahkan, dalam sepekan terakhir, tercatat ada 66 kasus positif baru. Sebanyak 27 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan empat orang di antaranya meninggal. Kondisi ini menandakan bahwa virus korona masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Habib Salim memerinci, penambahan kasus itu terjadi setiap hari. Dengan jumlah yang berbeda-beda. Pada 13 Juni, misalnya, konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 22 kasus. Dua kasus suspect berasal dari Kecamatan Ajung dan Patrang. Sedangkan sisanya merupakan hasil tracing dari kontak keluarga. Yakni, lima kasus dari Kecamatan Tempurejo, sembilan kasus asal Kecamatan Tanggul, dan enam kasus dari Kecamatan Pakusari.

Sebelumnya, kasus positif baru di Jember sempat melandai. Bahkan, beberapa wilayah kecamatan di Jember sempat tercatat sebagai zona hijau. Namun, sepekan belakangan, kasus positif baru kembali mengalami peningkatan.

Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah lonjakan kasus itu karena masyarakat yang abai menerapkan prokes, atau justru pemerintah yang mulai longgar melakukan pengawasan? Padahal medio Februari lalu, Pemkab Jember telah mendirikan posko pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Sepertinya, program turunan dari pemerintah pusat itu tidak cukup efektif mengendalikan laju penularan Covid-19 di daerah.

Dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, dr Angga Mardro Raharjo, menerangkan, saat ini pemerintah dan masyarakat memang sama-sama butuh pemahaman dalam menjaga Jember supaya aman dari Covid-19. “Contohnya di pasar saja, sudah banyak yang santai dengan tidak memakai masker,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/