23.4 C
Jember
Thursday, 8 June 2023

Kasus DBD di Jember Meningkat, Hingga Awal Mei Tercatat 249 Kasus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jember kembali meningkat. Ratusan warga Jember dilaporkan menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan (faskes). Musim pancaroba menjadi faktor utama virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti itu berpindah ke tubuh manusia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2) Dinas Kesehatan Jember dr Rita Wahyuningsih menyebut, hingga minggu pertama Mei, terdapat 249 kasus DBD. Dengan jumlah kematian tiga orang yang berasal dari Kecamatan Pakusari, Patrang, dan Balung. Sedangkan laporan pada tahun sebelumnya pada bulan yang sama, tercatat 213. “Kasus tertinggi di daerah kota. Kecamatan Kaliwates, Sumbersari dan Patrang,” sebutnya, Selasa (16/5).

BACA JUGA: Jangan Dikit-Dikit Minta Fogging

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepadatan penduduk di daerah kota menyebabkan kelembaban lingkungan menjadi tinggi. Sehingga nyamuk penyebab DBD bisa berkembang biak dengan baik. Dia memprediksi, masih ada lonjakan kasus selama musim pancaroba ini. 

Kondisi lingkungan saat musim pancaroba, lanjutnya, sangat mendukung berkembangnya vektor. Nyamuk Aedes aegypti semakin mudah ditemui. Saat mendarat di bagian tubuh manusia dan melakukan penetrasi ke kulit, virusnya akan segera tertinggal dan menyebabkan penyakit DBD. “Virus itu mempengaruhi unsur aliran darah. Ada lisis (pemecahan) sel darah merah,” terang dokter Rita.

Penyakit tersebut memiliki tingkatan (grading). Mulai dari yang ringan hingga paling parah. Tingkat yang paling parah memiliki potensi koma dan kematian tinggi. Keparahannya, tambahnya, disebabkan oleh keterlambatan penemuan dan penanganan virus.

Menurut dokter Rita, kebiasaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tengah masyarakat masih tergolong rendah. Pihaknya selama ini telah mengkoordinir kader posyandu sebagai pengawas masyarakat menerapkan PSN di rumah, serta fasum dan fasos. Selama ini masyarakat dimandirikan dengan membiasakan hal itu secara rutin seminggu sekali.

Metode 3M menutup, menguras, dan menimbun yang dipakai dalam PSN dipandang mulai luntur. Termasuk membuang sampah pada tempatnya. “Kami titik beratkan pada kemandirian masyarakat untuk melakukan PSN. Kader posyandu hanya memantau dan mengedukasi masyarakat untuk melakukan PSN apakah sudah benar caranya,” terangnya. (*)

Reporter: Mega Silvia

Editor    : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jember kembali meningkat. Ratusan warga Jember dilaporkan menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan (faskes). Musim pancaroba menjadi faktor utama virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti itu berpindah ke tubuh manusia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2) Dinas Kesehatan Jember dr Rita Wahyuningsih menyebut, hingga minggu pertama Mei, terdapat 249 kasus DBD. Dengan jumlah kematian tiga orang yang berasal dari Kecamatan Pakusari, Patrang, dan Balung. Sedangkan laporan pada tahun sebelumnya pada bulan yang sama, tercatat 213. “Kasus tertinggi di daerah kota. Kecamatan Kaliwates, Sumbersari dan Patrang,” sebutnya, Selasa (16/5).

BACA JUGA: Jangan Dikit-Dikit Minta Fogging

Kepadatan penduduk di daerah kota menyebabkan kelembaban lingkungan menjadi tinggi. Sehingga nyamuk penyebab DBD bisa berkembang biak dengan baik. Dia memprediksi, masih ada lonjakan kasus selama musim pancaroba ini. 

Kondisi lingkungan saat musim pancaroba, lanjutnya, sangat mendukung berkembangnya vektor. Nyamuk Aedes aegypti semakin mudah ditemui. Saat mendarat di bagian tubuh manusia dan melakukan penetrasi ke kulit, virusnya akan segera tertinggal dan menyebabkan penyakit DBD. “Virus itu mempengaruhi unsur aliran darah. Ada lisis (pemecahan) sel darah merah,” terang dokter Rita.

Penyakit tersebut memiliki tingkatan (grading). Mulai dari yang ringan hingga paling parah. Tingkat yang paling parah memiliki potensi koma dan kematian tinggi. Keparahannya, tambahnya, disebabkan oleh keterlambatan penemuan dan penanganan virus.

Menurut dokter Rita, kebiasaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tengah masyarakat masih tergolong rendah. Pihaknya selama ini telah mengkoordinir kader posyandu sebagai pengawas masyarakat menerapkan PSN di rumah, serta fasum dan fasos. Selama ini masyarakat dimandirikan dengan membiasakan hal itu secara rutin seminggu sekali.

Metode 3M menutup, menguras, dan menimbun yang dipakai dalam PSN dipandang mulai luntur. Termasuk membuang sampah pada tempatnya. “Kami titik beratkan pada kemandirian masyarakat untuk melakukan PSN. Kader posyandu hanya memantau dan mengedukasi masyarakat untuk melakukan PSN apakah sudah benar caranya,” terangnya. (*)

Reporter: Mega Silvia

Editor    : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jember kembali meningkat. Ratusan warga Jember dilaporkan menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan (faskes). Musim pancaroba menjadi faktor utama virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti itu berpindah ke tubuh manusia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2) Dinas Kesehatan Jember dr Rita Wahyuningsih menyebut, hingga minggu pertama Mei, terdapat 249 kasus DBD. Dengan jumlah kematian tiga orang yang berasal dari Kecamatan Pakusari, Patrang, dan Balung. Sedangkan laporan pada tahun sebelumnya pada bulan yang sama, tercatat 213. “Kasus tertinggi di daerah kota. Kecamatan Kaliwates, Sumbersari dan Patrang,” sebutnya, Selasa (16/5).

BACA JUGA: Jangan Dikit-Dikit Minta Fogging

Kepadatan penduduk di daerah kota menyebabkan kelembaban lingkungan menjadi tinggi. Sehingga nyamuk penyebab DBD bisa berkembang biak dengan baik. Dia memprediksi, masih ada lonjakan kasus selama musim pancaroba ini. 

Kondisi lingkungan saat musim pancaroba, lanjutnya, sangat mendukung berkembangnya vektor. Nyamuk Aedes aegypti semakin mudah ditemui. Saat mendarat di bagian tubuh manusia dan melakukan penetrasi ke kulit, virusnya akan segera tertinggal dan menyebabkan penyakit DBD. “Virus itu mempengaruhi unsur aliran darah. Ada lisis (pemecahan) sel darah merah,” terang dokter Rita.

Penyakit tersebut memiliki tingkatan (grading). Mulai dari yang ringan hingga paling parah. Tingkat yang paling parah memiliki potensi koma dan kematian tinggi. Keparahannya, tambahnya, disebabkan oleh keterlambatan penemuan dan penanganan virus.

Menurut dokter Rita, kebiasaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tengah masyarakat masih tergolong rendah. Pihaknya selama ini telah mengkoordinir kader posyandu sebagai pengawas masyarakat menerapkan PSN di rumah, serta fasum dan fasos. Selama ini masyarakat dimandirikan dengan membiasakan hal itu secara rutin seminggu sekali.

Metode 3M menutup, menguras, dan menimbun yang dipakai dalam PSN dipandang mulai luntur. Termasuk membuang sampah pada tempatnya. “Kami titik beratkan pada kemandirian masyarakat untuk melakukan PSN. Kader posyandu hanya memantau dan mengedukasi masyarakat untuk melakukan PSN apakah sudah benar caranya,” terangnya. (*)

Reporter: Mega Silvia

Editor    : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/