22.9 C
Jember
Wednesday, 29 March 2023

Masih Banyak Stigma Negatif di Masyarakat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menyusul kabar satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia, beberapa waktu lalu, sejumlah langkah langsung dilakukan oleh muspika setempat. Termasuk tracing yang dilakukan di sekolah lokasi YN bertugas sebagai tenaga pendidik. Hasilnya, dari 71 orang yang menjalani swab, 18 di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Kabar mengenai swab massal yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 Jember di salah satu SMK di Kecamatan Tanggul, beberapa hari kemarin, telah menunjukkan hasil. Hasil ini pula yang tersebar di media sosial masyarakat Jember selama beberapa waktu lalu.

Kapolsek Tanggul AKP Akhmad Mustafa melalui keterangan tertulis yang diterima Jawa Pos Radar Jember mengatakan, dari 18 orang yang terkonfirmasi positif itu, delapan di antaranya adalah warga di Kecamatan Tanggul. Sementara, sepuluh sisanya merupakan warga di luar kecamatan Tanggul. Seperti dari Jombang, Lumajang, Bangsalsari, Rambipuji, Semboro, Patrang, dan Kaliwates.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Akhmad Mustafa tidak memberikan banyak penjelasan. Seusai hasil swab itu keluar, pihaknya bersama jajaran Muspika Tanggul meminta para warga itu melalukan isolasi mandiri. Selain itu, muspika akan melakukan tracing dan tes swab terhadap orang-orang yang kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Covid-19. “Setiap perkembangan akan kami laporkan. Saya masih ada rapat, nanti,” jawabnya, seketika menyudahi konfirmasi via telepon, kemarin (13/6).

Dengan adanya informasi yang tersebar melalui aplikasi perpesanan instan itu, tak sedikit yang terkejut sekaligus menyayangkan hal tersebut. Khususnya di lingkungan sekolah yang berada di Kecamatan Tanggul.

Dra Priwahyu Hartanti membenarkan bahwa pasien terkonfirmasi positif yang meninggal beberapa waktu lalu merupakan salah satu tenaga pendidik di sekolah yang dia pimpin. Menurutnya, setelah ada guru yang terkena korona, sekolah melakukan kebijakan lockdown selama dua pekan. Selain itu, dia beserta guru dan pegawai yang lain juga telah melakukan swab di Puskesmas Tanggul.

Priwahyu justru terkejut dan baru mengetahui adanya informasi hasil tracing yang sudah tersebar luas di media sosial, ketika ada yang menghubunginya via telepon. “Saya baru paham ada share chat mengenai hasil swab itu, karena ada teman yang telepon tentang hal itu dan menanyakan kabar saya,” ungkapnya.

Pihaknya juga terus koordinasi dengan Puskesmas Tanggul, dan selanjutnya akan dihubungi oleh gugus tugas Covid-19 setempat. “Sampai Sabtu (12/6) pagi kemarin, ada yang kontak menanyakan kabar saya, pernah swab apa tidak. Ya saya bilang kalau swab di Puskesmas Tanggul,” ungkapnya.

Yang janggal menurut dia adalah hasil tes swab secara resmi di Puskesmas Tanggul sampai Sabtu pagi belum ada kabar. Agar lebih yakin, di hari yang sama Priwahyu juga melakukan tes swab PCR secara mandiri. Hasilnya justru berbeda dengan yang sudah tersebar di media sosial tersebut. “Hasilnya alhamdulillah negatif. Beberapa guru juga ada yang tes mandiri, juga ada yang PCR atau antigen, alhamdulillah hasilnya negatif,” terangnya.

Oleh karenanya, Priwahyu juga menanyakan terkait informasi yang beredar di aplikasi perpesanan instan tentang hasil swab tersebut. Apalagi dia juga mengetahui bahwa stigma masyarakat mengenai pasien terkonfirmasi positif masih belum baik. “Walau Covid-19 tidak seperti dulu lagi, setidaknya orang yang dinyatakan terindikasi positif itu tahu terlebih dahulu sebelum disebarkan ke medsos,” tuturnya.

Pihaknya sempat berusaha menelusuri dari mana sumber pesan tersebut, melalui koordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jember dan Tim Gugus Tugas Covid-19 Tanggul, yaitu Polsek Tanggul, koramil, kecamatan dan puskesmas. Namun, masih belum diketahui siapa yang menyebarkan pesan tersebut.

Priwahyu berharap masyarakat lebih bijaksana untuk men-share sebuah informasi juga sharing kebenaran info berita. Sebab, kata dia, yang kasihan adalah warga yang disebutkan positif terindikasi korona mendapatkan stigma negatif di masyarakat dalam beragam bentuk. “Karena belum semua masyarakat bisa memahami, walaupun sebagian masyarakat justru berempati,” ujarnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Habib Salim menjelaskan, penemuan belasan warga yang positif korona merupakan hasil tracking satgas. Tracking dilakukan terhadap warga yang sempat kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Sebelumnya. “Sebelumnya, dilakukan tracking. Selanjutnya, hasil swab menunjukkan positif,” katanya.

Dengan temuan belasan warga yang positif itu, seluruhnya diwajibkan menjalani isolasi mandiri. Hal ini karena seluruhnya positif, namun masuk kategori orang tanpa gejala. Warga yang menjalani isolasi mandiri itu juga mendapat penanganan medis. Mereka mendapat kontrol secara berkala. Ada pendampingan dan pengawasan. “Mereka harus melakukan isolasi mandiri sampai swab-nya dinyatakan negatif,” tegasnya.

Penanganan terhadap warga yang diketahui positif itu terus dilakukan Pemkab Jember atau Satgas Covid-19. Selain menjadi perhatian khusus, Satgas di tingkat kecamatan dan desa juga turun melakukan pengawasan dan kontrol. “Penanganan terus dilakukan sampai mereka dinyatakan negatif,” jelas Habib

 

 

Jurnalis : Maulana, Nur Hariri, Dwi Siswanto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menyusul kabar satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia, beberapa waktu lalu, sejumlah langkah langsung dilakukan oleh muspika setempat. Termasuk tracing yang dilakukan di sekolah lokasi YN bertugas sebagai tenaga pendidik. Hasilnya, dari 71 orang yang menjalani swab, 18 di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Kabar mengenai swab massal yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 Jember di salah satu SMK di Kecamatan Tanggul, beberapa hari kemarin, telah menunjukkan hasil. Hasil ini pula yang tersebar di media sosial masyarakat Jember selama beberapa waktu lalu.

Kapolsek Tanggul AKP Akhmad Mustafa melalui keterangan tertulis yang diterima Jawa Pos Radar Jember mengatakan, dari 18 orang yang terkonfirmasi positif itu, delapan di antaranya adalah warga di Kecamatan Tanggul. Sementara, sepuluh sisanya merupakan warga di luar kecamatan Tanggul. Seperti dari Jombang, Lumajang, Bangsalsari, Rambipuji, Semboro, Patrang, dan Kaliwates.

Ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Akhmad Mustafa tidak memberikan banyak penjelasan. Seusai hasil swab itu keluar, pihaknya bersama jajaran Muspika Tanggul meminta para warga itu melalukan isolasi mandiri. Selain itu, muspika akan melakukan tracing dan tes swab terhadap orang-orang yang kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Covid-19. “Setiap perkembangan akan kami laporkan. Saya masih ada rapat, nanti,” jawabnya, seketika menyudahi konfirmasi via telepon, kemarin (13/6).

Dengan adanya informasi yang tersebar melalui aplikasi perpesanan instan itu, tak sedikit yang terkejut sekaligus menyayangkan hal tersebut. Khususnya di lingkungan sekolah yang berada di Kecamatan Tanggul.

Dra Priwahyu Hartanti membenarkan bahwa pasien terkonfirmasi positif yang meninggal beberapa waktu lalu merupakan salah satu tenaga pendidik di sekolah yang dia pimpin. Menurutnya, setelah ada guru yang terkena korona, sekolah melakukan kebijakan lockdown selama dua pekan. Selain itu, dia beserta guru dan pegawai yang lain juga telah melakukan swab di Puskesmas Tanggul.

Priwahyu justru terkejut dan baru mengetahui adanya informasi hasil tracing yang sudah tersebar luas di media sosial, ketika ada yang menghubunginya via telepon. “Saya baru paham ada share chat mengenai hasil swab itu, karena ada teman yang telepon tentang hal itu dan menanyakan kabar saya,” ungkapnya.

Pihaknya juga terus koordinasi dengan Puskesmas Tanggul, dan selanjutnya akan dihubungi oleh gugus tugas Covid-19 setempat. “Sampai Sabtu (12/6) pagi kemarin, ada yang kontak menanyakan kabar saya, pernah swab apa tidak. Ya saya bilang kalau swab di Puskesmas Tanggul,” ungkapnya.

Yang janggal menurut dia adalah hasil tes swab secara resmi di Puskesmas Tanggul sampai Sabtu pagi belum ada kabar. Agar lebih yakin, di hari yang sama Priwahyu juga melakukan tes swab PCR secara mandiri. Hasilnya justru berbeda dengan yang sudah tersebar di media sosial tersebut. “Hasilnya alhamdulillah negatif. Beberapa guru juga ada yang tes mandiri, juga ada yang PCR atau antigen, alhamdulillah hasilnya negatif,” terangnya.

Oleh karenanya, Priwahyu juga menanyakan terkait informasi yang beredar di aplikasi perpesanan instan tentang hasil swab tersebut. Apalagi dia juga mengetahui bahwa stigma masyarakat mengenai pasien terkonfirmasi positif masih belum baik. “Walau Covid-19 tidak seperti dulu lagi, setidaknya orang yang dinyatakan terindikasi positif itu tahu terlebih dahulu sebelum disebarkan ke medsos,” tuturnya.

Pihaknya sempat berusaha menelusuri dari mana sumber pesan tersebut, melalui koordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jember dan Tim Gugus Tugas Covid-19 Tanggul, yaitu Polsek Tanggul, koramil, kecamatan dan puskesmas. Namun, masih belum diketahui siapa yang menyebarkan pesan tersebut.

Priwahyu berharap masyarakat lebih bijaksana untuk men-share sebuah informasi juga sharing kebenaran info berita. Sebab, kata dia, yang kasihan adalah warga yang disebutkan positif terindikasi korona mendapatkan stigma negatif di masyarakat dalam beragam bentuk. “Karena belum semua masyarakat bisa memahami, walaupun sebagian masyarakat justru berempati,” ujarnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Habib Salim menjelaskan, penemuan belasan warga yang positif korona merupakan hasil tracking satgas. Tracking dilakukan terhadap warga yang sempat kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Sebelumnya. “Sebelumnya, dilakukan tracking. Selanjutnya, hasil swab menunjukkan positif,” katanya.

Dengan temuan belasan warga yang positif itu, seluruhnya diwajibkan menjalani isolasi mandiri. Hal ini karena seluruhnya positif, namun masuk kategori orang tanpa gejala. Warga yang menjalani isolasi mandiri itu juga mendapat penanganan medis. Mereka mendapat kontrol secara berkala. Ada pendampingan dan pengawasan. “Mereka harus melakukan isolasi mandiri sampai swab-nya dinyatakan negatif,” tegasnya.

Penanganan terhadap warga yang diketahui positif itu terus dilakukan Pemkab Jember atau Satgas Covid-19. Selain menjadi perhatian khusus, Satgas di tingkat kecamatan dan desa juga turun melakukan pengawasan dan kontrol. “Penanganan terus dilakukan sampai mereka dinyatakan negatif,” jelas Habib

 

 

Jurnalis : Maulana, Nur Hariri, Dwi Siswanto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menyusul kabar satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia, beberapa waktu lalu, sejumlah langkah langsung dilakukan oleh muspika setempat. Termasuk tracing yang dilakukan di sekolah lokasi YN bertugas sebagai tenaga pendidik. Hasilnya, dari 71 orang yang menjalani swab, 18 di antaranya dinyatakan positif Covid-19.

Kabar mengenai swab massal yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 Jember di salah satu SMK di Kecamatan Tanggul, beberapa hari kemarin, telah menunjukkan hasil. Hasil ini pula yang tersebar di media sosial masyarakat Jember selama beberapa waktu lalu.

Kapolsek Tanggul AKP Akhmad Mustafa melalui keterangan tertulis yang diterima Jawa Pos Radar Jember mengatakan, dari 18 orang yang terkonfirmasi positif itu, delapan di antaranya adalah warga di Kecamatan Tanggul. Sementara, sepuluh sisanya merupakan warga di luar kecamatan Tanggul. Seperti dari Jombang, Lumajang, Bangsalsari, Rambipuji, Semboro, Patrang, dan Kaliwates.

Ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Akhmad Mustafa tidak memberikan banyak penjelasan. Seusai hasil swab itu keluar, pihaknya bersama jajaran Muspika Tanggul meminta para warga itu melalukan isolasi mandiri. Selain itu, muspika akan melakukan tracing dan tes swab terhadap orang-orang yang kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Covid-19. “Setiap perkembangan akan kami laporkan. Saya masih ada rapat, nanti,” jawabnya, seketika menyudahi konfirmasi via telepon, kemarin (13/6).

Dengan adanya informasi yang tersebar melalui aplikasi perpesanan instan itu, tak sedikit yang terkejut sekaligus menyayangkan hal tersebut. Khususnya di lingkungan sekolah yang berada di Kecamatan Tanggul.

Dra Priwahyu Hartanti membenarkan bahwa pasien terkonfirmasi positif yang meninggal beberapa waktu lalu merupakan salah satu tenaga pendidik di sekolah yang dia pimpin. Menurutnya, setelah ada guru yang terkena korona, sekolah melakukan kebijakan lockdown selama dua pekan. Selain itu, dia beserta guru dan pegawai yang lain juga telah melakukan swab di Puskesmas Tanggul.

Priwahyu justru terkejut dan baru mengetahui adanya informasi hasil tracing yang sudah tersebar luas di media sosial, ketika ada yang menghubunginya via telepon. “Saya baru paham ada share chat mengenai hasil swab itu, karena ada teman yang telepon tentang hal itu dan menanyakan kabar saya,” ungkapnya.

Pihaknya juga terus koordinasi dengan Puskesmas Tanggul, dan selanjutnya akan dihubungi oleh gugus tugas Covid-19 setempat. “Sampai Sabtu (12/6) pagi kemarin, ada yang kontak menanyakan kabar saya, pernah swab apa tidak. Ya saya bilang kalau swab di Puskesmas Tanggul,” ungkapnya.

Yang janggal menurut dia adalah hasil tes swab secara resmi di Puskesmas Tanggul sampai Sabtu pagi belum ada kabar. Agar lebih yakin, di hari yang sama Priwahyu juga melakukan tes swab PCR secara mandiri. Hasilnya justru berbeda dengan yang sudah tersebar di media sosial tersebut. “Hasilnya alhamdulillah negatif. Beberapa guru juga ada yang tes mandiri, juga ada yang PCR atau antigen, alhamdulillah hasilnya negatif,” terangnya.

Oleh karenanya, Priwahyu juga menanyakan terkait informasi yang beredar di aplikasi perpesanan instan tentang hasil swab tersebut. Apalagi dia juga mengetahui bahwa stigma masyarakat mengenai pasien terkonfirmasi positif masih belum baik. “Walau Covid-19 tidak seperti dulu lagi, setidaknya orang yang dinyatakan terindikasi positif itu tahu terlebih dahulu sebelum disebarkan ke medsos,” tuturnya.

Pihaknya sempat berusaha menelusuri dari mana sumber pesan tersebut, melalui koordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jember dan Tim Gugus Tugas Covid-19 Tanggul, yaitu Polsek Tanggul, koramil, kecamatan dan puskesmas. Namun, masih belum diketahui siapa yang menyebarkan pesan tersebut.

Priwahyu berharap masyarakat lebih bijaksana untuk men-share sebuah informasi juga sharing kebenaran info berita. Sebab, kata dia, yang kasihan adalah warga yang disebutkan positif terindikasi korona mendapatkan stigma negatif di masyarakat dalam beragam bentuk. “Karena belum semua masyarakat bisa memahami, walaupun sebagian masyarakat justru berempati,” ujarnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Habib Salim menjelaskan, penemuan belasan warga yang positif korona merupakan hasil tracking satgas. Tracking dilakukan terhadap warga yang sempat kontak erat dengan warga yang dinyatakan positif Sebelumnya. “Sebelumnya, dilakukan tracking. Selanjutnya, hasil swab menunjukkan positif,” katanya.

Dengan temuan belasan warga yang positif itu, seluruhnya diwajibkan menjalani isolasi mandiri. Hal ini karena seluruhnya positif, namun masuk kategori orang tanpa gejala. Warga yang menjalani isolasi mandiri itu juga mendapat penanganan medis. Mereka mendapat kontrol secara berkala. Ada pendampingan dan pengawasan. “Mereka harus melakukan isolasi mandiri sampai swab-nya dinyatakan negatif,” tegasnya.

Penanganan terhadap warga yang diketahui positif itu terus dilakukan Pemkab Jember atau Satgas Covid-19. Selain menjadi perhatian khusus, Satgas di tingkat kecamatan dan desa juga turun melakukan pengawasan dan kontrol. “Penanganan terus dilakukan sampai mereka dinyatakan negatif,” jelas Habib

 

 

Jurnalis : Maulana, Nur Hariri, Dwi Siswanto
Fotografer : Dokumentasi Radar Jember
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca