alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Gejala Sisa Pasca-Covid-19 Perlu Penanganan Lanjutan

Bisa Gagal Jantung

Mobile_AP_Rectangle 1

Lalu, apakah setiap gejala long Covid-19 perlu mendapatkan perawatan? Menurutnya, hal itu diperlukan jika long Covid mengganggu aktivitas pasien. Apalagi membahayakan sampai gagal napas. “Harus segera dirawat di RS,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Tim Tanggap Darurat Kesiapsiagaan Bencana Covid-19 (TTDKBC) Universitas Jember dr Ulfa Elfiah MKes Sp BP RE (K) menyatakan, sebenarnya untuk memastikan apakah antibodi dalam tubuh sudah memberikan reaksi yang bagus atau tidak terhadap Covid-19, alangkah baiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini untuk melihat kadar antibodi, sehingga bisa melakukan evaluasi ketahanan antibodi seseorang.

Dia menjelaskan, pada umumnya, gejala sisa yang kerap dirasakan seperti mudah lelah, indra penciuman menurun, masalah pernapasan, sakit tenggorokan, hingga otot ruam, atau tubuh terasa sakit. Selain itu, kinerja paru-paru juga tak seoptimal dulu, sehingga napasnya tidak lega. “Bahkan, ada juga yang mengalami gangguan syaraf,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena itu, dia menambahkan, ada yang perlu ditangani ahli syaraf dan psikiatri lantaran kondisi kejiwaannya terganggu. Bahkan, ada yang menganggap bahwa Covid-19 adalah virus dengan seribu wajah. “Oleh karena itu, penyintas yang masih mengalami gejala sisa perlu menjalani masa pemulihan yang lebih panjang. Rekomendasinya, dibantu dengan menambah nutrisi dan gizi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur,” terangnya.

Faktor usia juga memengaruhi. Belum lagi, dengan adanya varian virus baru seperti B117. Virus tersebut, dia berkata, sangat kuat dan bisa mematikan tanpa gejala. Pada virus sebelumnya, indra penciuman berkurang dan sesak. “Namun, untuk virus ini (B117, Red), tanpa gejala pun bisa langsung masuk,” ungkapnya.

Harapannya, para penyintas harus hati-hati lantaran bisa menyerang, bergantung kadar antibodi masing-masing. Untuk itu, pemeriksaan lanjutan terkait dengan kadar antibodi masih diperlukan. Hal itu juga sempat menjadi acuan atas vaksinasi. Di mana seorang penyintas yang kadar antibodinya rendah harus segera divaksin agar tidak terpapar lagi. Namun, ada pula yang kadarnya tinggi sehingga harus menunggu tiga bulan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Freepik.com
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Lalu, apakah setiap gejala long Covid-19 perlu mendapatkan perawatan? Menurutnya, hal itu diperlukan jika long Covid mengganggu aktivitas pasien. Apalagi membahayakan sampai gagal napas. “Harus segera dirawat di RS,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Tim Tanggap Darurat Kesiapsiagaan Bencana Covid-19 (TTDKBC) Universitas Jember dr Ulfa Elfiah MKes Sp BP RE (K) menyatakan, sebenarnya untuk memastikan apakah antibodi dalam tubuh sudah memberikan reaksi yang bagus atau tidak terhadap Covid-19, alangkah baiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini untuk melihat kadar antibodi, sehingga bisa melakukan evaluasi ketahanan antibodi seseorang.

Dia menjelaskan, pada umumnya, gejala sisa yang kerap dirasakan seperti mudah lelah, indra penciuman menurun, masalah pernapasan, sakit tenggorokan, hingga otot ruam, atau tubuh terasa sakit. Selain itu, kinerja paru-paru juga tak seoptimal dulu, sehingga napasnya tidak lega. “Bahkan, ada juga yang mengalami gangguan syaraf,” ungkapnya.

Karena itu, dia menambahkan, ada yang perlu ditangani ahli syaraf dan psikiatri lantaran kondisi kejiwaannya terganggu. Bahkan, ada yang menganggap bahwa Covid-19 adalah virus dengan seribu wajah. “Oleh karena itu, penyintas yang masih mengalami gejala sisa perlu menjalani masa pemulihan yang lebih panjang. Rekomendasinya, dibantu dengan menambah nutrisi dan gizi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur,” terangnya.

Faktor usia juga memengaruhi. Belum lagi, dengan adanya varian virus baru seperti B117. Virus tersebut, dia berkata, sangat kuat dan bisa mematikan tanpa gejala. Pada virus sebelumnya, indra penciuman berkurang dan sesak. “Namun, untuk virus ini (B117, Red), tanpa gejala pun bisa langsung masuk,” ungkapnya.

Harapannya, para penyintas harus hati-hati lantaran bisa menyerang, bergantung kadar antibodi masing-masing. Untuk itu, pemeriksaan lanjutan terkait dengan kadar antibodi masih diperlukan. Hal itu juga sempat menjadi acuan atas vaksinasi. Di mana seorang penyintas yang kadar antibodinya rendah harus segera divaksin agar tidak terpapar lagi. Namun, ada pula yang kadarnya tinggi sehingga harus menunggu tiga bulan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Freepik.com
Redaktur : Mahrus Sholih

Lalu, apakah setiap gejala long Covid-19 perlu mendapatkan perawatan? Menurutnya, hal itu diperlukan jika long Covid mengganggu aktivitas pasien. Apalagi membahayakan sampai gagal napas. “Harus segera dirawat di RS,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Tim Tanggap Darurat Kesiapsiagaan Bencana Covid-19 (TTDKBC) Universitas Jember dr Ulfa Elfiah MKes Sp BP RE (K) menyatakan, sebenarnya untuk memastikan apakah antibodi dalam tubuh sudah memberikan reaksi yang bagus atau tidak terhadap Covid-19, alangkah baiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini untuk melihat kadar antibodi, sehingga bisa melakukan evaluasi ketahanan antibodi seseorang.

Dia menjelaskan, pada umumnya, gejala sisa yang kerap dirasakan seperti mudah lelah, indra penciuman menurun, masalah pernapasan, sakit tenggorokan, hingga otot ruam, atau tubuh terasa sakit. Selain itu, kinerja paru-paru juga tak seoptimal dulu, sehingga napasnya tidak lega. “Bahkan, ada juga yang mengalami gangguan syaraf,” ungkapnya.

Karena itu, dia menambahkan, ada yang perlu ditangani ahli syaraf dan psikiatri lantaran kondisi kejiwaannya terganggu. Bahkan, ada yang menganggap bahwa Covid-19 adalah virus dengan seribu wajah. “Oleh karena itu, penyintas yang masih mengalami gejala sisa perlu menjalani masa pemulihan yang lebih panjang. Rekomendasinya, dibantu dengan menambah nutrisi dan gizi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur,” terangnya.

Faktor usia juga memengaruhi. Belum lagi, dengan adanya varian virus baru seperti B117. Virus tersebut, dia berkata, sangat kuat dan bisa mematikan tanpa gejala. Pada virus sebelumnya, indra penciuman berkurang dan sesak. “Namun, untuk virus ini (B117, Red), tanpa gejala pun bisa langsung masuk,” ungkapnya.

Harapannya, para penyintas harus hati-hati lantaran bisa menyerang, bergantung kadar antibodi masing-masing. Untuk itu, pemeriksaan lanjutan terkait dengan kadar antibodi masih diperlukan. Hal itu juga sempat menjadi acuan atas vaksinasi. Di mana seorang penyintas yang kadar antibodinya rendah harus segera divaksin agar tidak terpapar lagi. Namun, ada pula yang kadarnya tinggi sehingga harus menunggu tiga bulan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Freepik.com
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/