alexametrics
23.8 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Gejala Sisa Pasca-Covid-19 Perlu Penanganan Lanjutan

Bisa Gagal Jantung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa penyintas Covid-19 mengeluh masih merasakan gejala pasca-dinyatakan sembuh dari virus korona itu. Dalam dunia medis, itu disebut gejala long Covid. Artinya, pasien sudah dinyatakan sembuh berdasar hasil lab dan dinyatakan negatif, tapi masih ada gejala yang tersisa. Misalnya, batuk, sesak napas, mudah lelah, produksi dahak yang produktif, dan gejala keluhan pernapasan lain.

dr Movita SpP, dokter yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Paru, mengungkapkan, pada beberapa kasus, masih ada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen meski sudah keluar dari perawatan rumah sakit. Hal itu cukup berbahaya karena kadar saturasi oksigen rendah di bawah 93 persen. Bahkan, ada pasien yang pernah dia tangani bergantung pada oksigen hingga hari ke 45 sejak dinyatakan sembuh dari Covid-19. “Pasien tersebut sempat memakai alat bantu napas atau ventilator,” ungkapnya.

Rendahnya kadar oksigen alias hipoksemia ini mampu mengakibatkan komplikasi ke jantung. Jika tidak tertangani dengan baik, juga bisa berisiko menjadi gawat pernapasan dan gagal jantung. “Bahkan, bisa menyebabkan kematian,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Belum lagi, long Covid juga sering terjadi jika paru-paru bekas terpapar Covid-19 mengalami peradangan. Sehingga kerusakan jaringan di parunya mengakibatkan terganggunya sistem pernapasan.

Menurut Movita, semua pasien post-Covid-19 bisa terpapar kembali dan tidak harus memiliki gejala long Covid. Bahkan, yang sudah vaksin dua kali pun bisa terpapar dan bergejala. Kata dia, sudah banyak kasus pasien yang awalnya positif tanpa gejala dapat terinfeksi kembali dengan gejala lebih berat. Namun, hingga saat ini belum ada data pasti terkait pasien yang mengalami long Covid, apakah lebih rentan terpapar virus korona atau tidak.

Dia juga menegaskan, ada atau tidak ada gejala sisa ketika pasien sudah dinyatakan sembuh, mereka harus tetap menjaga sistem daya tahan tubuh yang baik. Caranya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga teratur, serta menerapkan protokol kesehatan.

Bagaimana upaya pencegahan long Covid? dr Movita memaparkan, hal itu sulit dilakukan. Sebab, respons kelainan paru saat pasien terinfeksi Covid-19 sangat beragam. Dan hal itu sangat tergantung pada kondisi individu dan ada tidaknya penyakit penyerta alias komorbid.

Sering kali, jika infeksi Covid-19 sudah menimbulkan pneumonia alias radang paru-paru yang luas, kelainan paru akan lebih berat. “Pasien dengan komorbid diabetes melitus dan hipertensi harus lebih waspada akan terjadinya respons peradangan yang berat. Terutama jika sudah terjadi stadium pada radang paru-paru atau systemic stage,” paparnya.

Deteksi dini dan kecepatan mendiagnosis serta menerapi pada saat stadium awal infeksi Covid-19 akan sangat membantu mencegah terjadinya progresivitas penyakit dan kerusakan pada paru-paru. Dengan begitu, dapat mencegah gejala long Covid yang berat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa penyintas Covid-19 mengeluh masih merasakan gejala pasca-dinyatakan sembuh dari virus korona itu. Dalam dunia medis, itu disebut gejala long Covid. Artinya, pasien sudah dinyatakan sembuh berdasar hasil lab dan dinyatakan negatif, tapi masih ada gejala yang tersisa. Misalnya, batuk, sesak napas, mudah lelah, produksi dahak yang produktif, dan gejala keluhan pernapasan lain.

dr Movita SpP, dokter yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Paru, mengungkapkan, pada beberapa kasus, masih ada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen meski sudah keluar dari perawatan rumah sakit. Hal itu cukup berbahaya karena kadar saturasi oksigen rendah di bawah 93 persen. Bahkan, ada pasien yang pernah dia tangani bergantung pada oksigen hingga hari ke 45 sejak dinyatakan sembuh dari Covid-19. “Pasien tersebut sempat memakai alat bantu napas atau ventilator,” ungkapnya.

Rendahnya kadar oksigen alias hipoksemia ini mampu mengakibatkan komplikasi ke jantung. Jika tidak tertangani dengan baik, juga bisa berisiko menjadi gawat pernapasan dan gagal jantung. “Bahkan, bisa menyebabkan kematian,” ucapnya.

Belum lagi, long Covid juga sering terjadi jika paru-paru bekas terpapar Covid-19 mengalami peradangan. Sehingga kerusakan jaringan di parunya mengakibatkan terganggunya sistem pernapasan.

Menurut Movita, semua pasien post-Covid-19 bisa terpapar kembali dan tidak harus memiliki gejala long Covid. Bahkan, yang sudah vaksin dua kali pun bisa terpapar dan bergejala. Kata dia, sudah banyak kasus pasien yang awalnya positif tanpa gejala dapat terinfeksi kembali dengan gejala lebih berat. Namun, hingga saat ini belum ada data pasti terkait pasien yang mengalami long Covid, apakah lebih rentan terpapar virus korona atau tidak.

Dia juga menegaskan, ada atau tidak ada gejala sisa ketika pasien sudah dinyatakan sembuh, mereka harus tetap menjaga sistem daya tahan tubuh yang baik. Caranya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga teratur, serta menerapkan protokol kesehatan.

Bagaimana upaya pencegahan long Covid? dr Movita memaparkan, hal itu sulit dilakukan. Sebab, respons kelainan paru saat pasien terinfeksi Covid-19 sangat beragam. Dan hal itu sangat tergantung pada kondisi individu dan ada tidaknya penyakit penyerta alias komorbid.

Sering kali, jika infeksi Covid-19 sudah menimbulkan pneumonia alias radang paru-paru yang luas, kelainan paru akan lebih berat. “Pasien dengan komorbid diabetes melitus dan hipertensi harus lebih waspada akan terjadinya respons peradangan yang berat. Terutama jika sudah terjadi stadium pada radang paru-paru atau systemic stage,” paparnya.

Deteksi dini dan kecepatan mendiagnosis serta menerapi pada saat stadium awal infeksi Covid-19 akan sangat membantu mencegah terjadinya progresivitas penyakit dan kerusakan pada paru-paru. Dengan begitu, dapat mencegah gejala long Covid yang berat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa penyintas Covid-19 mengeluh masih merasakan gejala pasca-dinyatakan sembuh dari virus korona itu. Dalam dunia medis, itu disebut gejala long Covid. Artinya, pasien sudah dinyatakan sembuh berdasar hasil lab dan dinyatakan negatif, tapi masih ada gejala yang tersisa. Misalnya, batuk, sesak napas, mudah lelah, produksi dahak yang produktif, dan gejala keluhan pernapasan lain.

dr Movita SpP, dokter yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Paru, mengungkapkan, pada beberapa kasus, masih ada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen meski sudah keluar dari perawatan rumah sakit. Hal itu cukup berbahaya karena kadar saturasi oksigen rendah di bawah 93 persen. Bahkan, ada pasien yang pernah dia tangani bergantung pada oksigen hingga hari ke 45 sejak dinyatakan sembuh dari Covid-19. “Pasien tersebut sempat memakai alat bantu napas atau ventilator,” ungkapnya.

Rendahnya kadar oksigen alias hipoksemia ini mampu mengakibatkan komplikasi ke jantung. Jika tidak tertangani dengan baik, juga bisa berisiko menjadi gawat pernapasan dan gagal jantung. “Bahkan, bisa menyebabkan kematian,” ucapnya.

Belum lagi, long Covid juga sering terjadi jika paru-paru bekas terpapar Covid-19 mengalami peradangan. Sehingga kerusakan jaringan di parunya mengakibatkan terganggunya sistem pernapasan.

Menurut Movita, semua pasien post-Covid-19 bisa terpapar kembali dan tidak harus memiliki gejala long Covid. Bahkan, yang sudah vaksin dua kali pun bisa terpapar dan bergejala. Kata dia, sudah banyak kasus pasien yang awalnya positif tanpa gejala dapat terinfeksi kembali dengan gejala lebih berat. Namun, hingga saat ini belum ada data pasti terkait pasien yang mengalami long Covid, apakah lebih rentan terpapar virus korona atau tidak.

Dia juga menegaskan, ada atau tidak ada gejala sisa ketika pasien sudah dinyatakan sembuh, mereka harus tetap menjaga sistem daya tahan tubuh yang baik. Caranya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga teratur, serta menerapkan protokol kesehatan.

Bagaimana upaya pencegahan long Covid? dr Movita memaparkan, hal itu sulit dilakukan. Sebab, respons kelainan paru saat pasien terinfeksi Covid-19 sangat beragam. Dan hal itu sangat tergantung pada kondisi individu dan ada tidaknya penyakit penyerta alias komorbid.

Sering kali, jika infeksi Covid-19 sudah menimbulkan pneumonia alias radang paru-paru yang luas, kelainan paru akan lebih berat. “Pasien dengan komorbid diabetes melitus dan hipertensi harus lebih waspada akan terjadinya respons peradangan yang berat. Terutama jika sudah terjadi stadium pada radang paru-paru atau systemic stage,” paparnya.

Deteksi dini dan kecepatan mendiagnosis serta menerapi pada saat stadium awal infeksi Covid-19 akan sangat membantu mencegah terjadinya progresivitas penyakit dan kerusakan pada paru-paru. Dengan begitu, dapat mencegah gejala long Covid yang berat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/