alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

AKI/AKB Tinggi, Akses Layanan Kesehatan Belum Optimal

Banyak yang Belum Paham Fasilitas Umum Kesehatan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Catatan tahun 2020 tentang angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) menjadi atensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pun demikian dengan angka stunting juga menjadi perhatian.

Seolah mengamini data tersebut, layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) di Kabupaten Jember tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember kepada ibu dan bayi baru lahir, belum lama ini. Penelitian yang dilakukan di delapan kecamatan tersebut menunjukkan hasil bahwa 25 persen dari total 60 responden menyatakan tidak pernah mengakses layanan dari pemerintah itu.

Direktur GPP Jember Sri Sulistiyani mengatakan, ada banyak alasan yang membuat para ibu hamil dan bayi baru lahir tak mau mengakses layanan tersebut. Faktor paling dominan adalah pelayanan umum yang dinilai kurang efisien dalam menjawab kebutuhan mereka. Selain itu, karena minimnya informasi tentang adanya layanan KIBBL.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Ada yang mengatakan memang tidak perlu. Lalu, ada juga karena posyandu tidak berjalan selama pandemi. Ada yang beralasan ribet mengurus rujukannya. Dan sebagian besar memilih untuk periksa secara mandiri ke dokter spesialis atau bidan praktik,” ungkapnya.

Sejumlah layanan KIBBL yang dikenal oleh masyarakat yaitu posyandu, imunisasi, Jaminan Persalinan (Jampersal), KB, dan rumah tunggu. “Untuk rumah tunggu hanya lima persen yang tahu. Ini kami sempat kaget. Ternyata yang kenal hanya dua kecamatan saja, yakni Wuluhan dan Sumbersari,” imbuh Sulis.

Sementara, salah satu perwakilan Kader Posyandu Jember, Sutipah, mengatakan, dalam setiap desa, kader posyandu tak hanya memiliki kewajiban melakukan sosialisasi kepada ibu hamil. Namun, juga mengajak mereka untuk menggunakan layanan tersebut.

“Saat kader menyosialisasikan, mereka tidak mau mendengar. Nah ketika sudah mau lahiran atau butuh dalam keadaan mendesak, mereka kebingungan minta bantuan rujukan. Sedangkan dari awal tidak mengikuti prosedur, makanya agak sulit mengurusi rujukannya. Setelah begitu, mereka mengklaim pelayanan lambat atau tidak efisien,” katanya dalam forum diskusi yang tergabung dalam Forum Jember Sehat (Forjes), Rabu (9/6).

Namun demikian, hasil survei tersebut belum bisa menjadi dasar menggeneralisasi ibu hamil dan bayi baru lahir di Jember. dr Dandy Candra, perwakilan dari Kesehatan Gizi Masyarakat (KGM), mengatakan, meski belum mewakili secara keseluruhan, namun ini menjadi masukan baginya.

Dirinya tak menampik jika pelayanan KIBLL hingga saat ini memang masih belum optimal. Jadi, wajar jika masyarakat lebih banyak memilih untuk membayar ke dokter spesialis, bidan, atau klinik mandiri. “Yang jelas, layanan kami masih by process. Dari hasil tanggapan masyarakat pengguna layanan KIBBL di puskesmas mengatakan, 10 persen tidak puas dengan layanan kami,” paparnya.

Sementara itu, upaya penurunan AKI/AKB dan stunting juga dilakukan melalui Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Jember, yang diharapkan mampu membawa angin segar sehingga atensi itu berubah menjadi percontohan. Ketua TP PKK Jember Kasih Fajarrini Siswanto menyampaikan, sejumlah program PKK yang telah dicanangkan akan terus dikoordinasikan dan dijalankan.

Tak hanya itu, lanjut dia, pemetaan desa dan kecamatan terkait kasus AKI/AKB telah dilaksanakan. Kini, pemberdayaan dan pendampingan terus dilangsungkan di sejumlah tempat. “Program dan kegiatan PKK jalan terus,” kata istri Bupati Jember itu.

Dalam pemetaan AKI/AKB sejauh ini, angka tertinggi masih berada di Silo. PKK telah turun dan melakukan pendampingan serta pemberdayaan melekat. Di beberapa lokasi lain yang tersebar di kecamatan desa, PKK juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda-beda, untuk tujuan mencegah naiknya AKI/AKB.

Dengan demikian, AKI/AKB di Jember, termasuk angka stunting, diharapkan bisa menunjukkan hasil yang signifikan. “Insyaallah harus turun. Turunnya harus drastis. Soalnya PKK menangani secara langsung,” papar Kasih.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Catatan tahun 2020 tentang angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) menjadi atensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pun demikian dengan angka stunting juga menjadi perhatian.

Seolah mengamini data tersebut, layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) di Kabupaten Jember tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember kepada ibu dan bayi baru lahir, belum lama ini. Penelitian yang dilakukan di delapan kecamatan tersebut menunjukkan hasil bahwa 25 persen dari total 60 responden menyatakan tidak pernah mengakses layanan dari pemerintah itu.

Direktur GPP Jember Sri Sulistiyani mengatakan, ada banyak alasan yang membuat para ibu hamil dan bayi baru lahir tak mau mengakses layanan tersebut. Faktor paling dominan adalah pelayanan umum yang dinilai kurang efisien dalam menjawab kebutuhan mereka. Selain itu, karena minimnya informasi tentang adanya layanan KIBBL.

“Ada yang mengatakan memang tidak perlu. Lalu, ada juga karena posyandu tidak berjalan selama pandemi. Ada yang beralasan ribet mengurus rujukannya. Dan sebagian besar memilih untuk periksa secara mandiri ke dokter spesialis atau bidan praktik,” ungkapnya.

Sejumlah layanan KIBBL yang dikenal oleh masyarakat yaitu posyandu, imunisasi, Jaminan Persalinan (Jampersal), KB, dan rumah tunggu. “Untuk rumah tunggu hanya lima persen yang tahu. Ini kami sempat kaget. Ternyata yang kenal hanya dua kecamatan saja, yakni Wuluhan dan Sumbersari,” imbuh Sulis.

Sementara, salah satu perwakilan Kader Posyandu Jember, Sutipah, mengatakan, dalam setiap desa, kader posyandu tak hanya memiliki kewajiban melakukan sosialisasi kepada ibu hamil. Namun, juga mengajak mereka untuk menggunakan layanan tersebut.

“Saat kader menyosialisasikan, mereka tidak mau mendengar. Nah ketika sudah mau lahiran atau butuh dalam keadaan mendesak, mereka kebingungan minta bantuan rujukan. Sedangkan dari awal tidak mengikuti prosedur, makanya agak sulit mengurusi rujukannya. Setelah begitu, mereka mengklaim pelayanan lambat atau tidak efisien,” katanya dalam forum diskusi yang tergabung dalam Forum Jember Sehat (Forjes), Rabu (9/6).

Namun demikian, hasil survei tersebut belum bisa menjadi dasar menggeneralisasi ibu hamil dan bayi baru lahir di Jember. dr Dandy Candra, perwakilan dari Kesehatan Gizi Masyarakat (KGM), mengatakan, meski belum mewakili secara keseluruhan, namun ini menjadi masukan baginya.

Dirinya tak menampik jika pelayanan KIBLL hingga saat ini memang masih belum optimal. Jadi, wajar jika masyarakat lebih banyak memilih untuk membayar ke dokter spesialis, bidan, atau klinik mandiri. “Yang jelas, layanan kami masih by process. Dari hasil tanggapan masyarakat pengguna layanan KIBBL di puskesmas mengatakan, 10 persen tidak puas dengan layanan kami,” paparnya.

Sementara itu, upaya penurunan AKI/AKB dan stunting juga dilakukan melalui Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Jember, yang diharapkan mampu membawa angin segar sehingga atensi itu berubah menjadi percontohan. Ketua TP PKK Jember Kasih Fajarrini Siswanto menyampaikan, sejumlah program PKK yang telah dicanangkan akan terus dikoordinasikan dan dijalankan.

Tak hanya itu, lanjut dia, pemetaan desa dan kecamatan terkait kasus AKI/AKB telah dilaksanakan. Kini, pemberdayaan dan pendampingan terus dilangsungkan di sejumlah tempat. “Program dan kegiatan PKK jalan terus,” kata istri Bupati Jember itu.

Dalam pemetaan AKI/AKB sejauh ini, angka tertinggi masih berada di Silo. PKK telah turun dan melakukan pendampingan serta pemberdayaan melekat. Di beberapa lokasi lain yang tersebar di kecamatan desa, PKK juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda-beda, untuk tujuan mencegah naiknya AKI/AKB.

Dengan demikian, AKI/AKB di Jember, termasuk angka stunting, diharapkan bisa menunjukkan hasil yang signifikan. “Insyaallah harus turun. Turunnya harus drastis. Soalnya PKK menangani secara langsung,” papar Kasih.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Catatan tahun 2020 tentang angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) menjadi atensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pun demikian dengan angka stunting juga menjadi perhatian.

Seolah mengamini data tersebut, layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) di Kabupaten Jember tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember kepada ibu dan bayi baru lahir, belum lama ini. Penelitian yang dilakukan di delapan kecamatan tersebut menunjukkan hasil bahwa 25 persen dari total 60 responden menyatakan tidak pernah mengakses layanan dari pemerintah itu.

Direktur GPP Jember Sri Sulistiyani mengatakan, ada banyak alasan yang membuat para ibu hamil dan bayi baru lahir tak mau mengakses layanan tersebut. Faktor paling dominan adalah pelayanan umum yang dinilai kurang efisien dalam menjawab kebutuhan mereka. Selain itu, karena minimnya informasi tentang adanya layanan KIBBL.

“Ada yang mengatakan memang tidak perlu. Lalu, ada juga karena posyandu tidak berjalan selama pandemi. Ada yang beralasan ribet mengurus rujukannya. Dan sebagian besar memilih untuk periksa secara mandiri ke dokter spesialis atau bidan praktik,” ungkapnya.

Sejumlah layanan KIBBL yang dikenal oleh masyarakat yaitu posyandu, imunisasi, Jaminan Persalinan (Jampersal), KB, dan rumah tunggu. “Untuk rumah tunggu hanya lima persen yang tahu. Ini kami sempat kaget. Ternyata yang kenal hanya dua kecamatan saja, yakni Wuluhan dan Sumbersari,” imbuh Sulis.

Sementara, salah satu perwakilan Kader Posyandu Jember, Sutipah, mengatakan, dalam setiap desa, kader posyandu tak hanya memiliki kewajiban melakukan sosialisasi kepada ibu hamil. Namun, juga mengajak mereka untuk menggunakan layanan tersebut.

“Saat kader menyosialisasikan, mereka tidak mau mendengar. Nah ketika sudah mau lahiran atau butuh dalam keadaan mendesak, mereka kebingungan minta bantuan rujukan. Sedangkan dari awal tidak mengikuti prosedur, makanya agak sulit mengurusi rujukannya. Setelah begitu, mereka mengklaim pelayanan lambat atau tidak efisien,” katanya dalam forum diskusi yang tergabung dalam Forum Jember Sehat (Forjes), Rabu (9/6).

Namun demikian, hasil survei tersebut belum bisa menjadi dasar menggeneralisasi ibu hamil dan bayi baru lahir di Jember. dr Dandy Candra, perwakilan dari Kesehatan Gizi Masyarakat (KGM), mengatakan, meski belum mewakili secara keseluruhan, namun ini menjadi masukan baginya.

Dirinya tak menampik jika pelayanan KIBLL hingga saat ini memang masih belum optimal. Jadi, wajar jika masyarakat lebih banyak memilih untuk membayar ke dokter spesialis, bidan, atau klinik mandiri. “Yang jelas, layanan kami masih by process. Dari hasil tanggapan masyarakat pengguna layanan KIBBL di puskesmas mengatakan, 10 persen tidak puas dengan layanan kami,” paparnya.

Sementara itu, upaya penurunan AKI/AKB dan stunting juga dilakukan melalui Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Jember, yang diharapkan mampu membawa angin segar sehingga atensi itu berubah menjadi percontohan. Ketua TP PKK Jember Kasih Fajarrini Siswanto menyampaikan, sejumlah program PKK yang telah dicanangkan akan terus dikoordinasikan dan dijalankan.

Tak hanya itu, lanjut dia, pemetaan desa dan kecamatan terkait kasus AKI/AKB telah dilaksanakan. Kini, pemberdayaan dan pendampingan terus dilangsungkan di sejumlah tempat. “Program dan kegiatan PKK jalan terus,” kata istri Bupati Jember itu.

Dalam pemetaan AKI/AKB sejauh ini, angka tertinggi masih berada di Silo. PKK telah turun dan melakukan pendampingan serta pemberdayaan melekat. Di beberapa lokasi lain yang tersebar di kecamatan desa, PKK juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda-beda, untuk tujuan mencegah naiknya AKI/AKB.

Dengan demikian, AKI/AKB di Jember, termasuk angka stunting, diharapkan bisa menunjukkan hasil yang signifikan. “Insyaallah harus turun. Turunnya harus drastis. Soalnya PKK menangani secara langsung,” papar Kasih.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/