alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Tidak Dianjurkan Untuk Konsumsi

Minuman Dicampur Minyak Kayu Putih, Ampuhkah?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata Abdul Ghofur melebar saat ayahnya membawa banyak minyak kayu putih dengan berbagai merek di tasnya. Sang ayah memaparkan bahwa ada salah seorang rekannya yang mengalami gejala Covid-19, mulai dari berkurangnya indra penciuman, demam, hingga batuk pilek. Namun, berhasil sembuh ketika mengonsumsi air/teh hangat yang dicampur dengan beberapa tetes minyak kayu putih.

“Karena itu, ayah kerap mengonsumsi minyak kayu putih saat tidak enak badan,” papar pemuda 25 tahun tersebut.

Meski begitu, warga Dusun Krajan, Desa Gumelar, Kecamatan Balung, tersebut tetap khawatir. “Soalnya, minyak kayu putih itu kan obat oles yang digunakan di kulit,” paparnya. Dia takut jika terjadi yang tidak-tidak kepada ayahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lalu, bagaimana fenomena tersebut di mata medis? Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan bahwa stigma itu sudah lama terjadi di masyarakat. “Jangankan saat Covid-19, saat saya kecil dulu, banyak teman saya yang melakukan hal itu,” paparnya.

Lalu, stigma ini kian marak saat kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Tak hanya minyak kayu putih, menurut dia, banyak hal yang diyakini bisa memberantas virus. “Yang terjadi pada masyarakat itu rata-rata gejala seperti batuk, demam, dan pilek. Kalu diminumi minyak itu, ada sensasi hangat,” paparnya. Ada juga yang ekstrem, yakni dengan dihirup dan menyemprotkannya ke hidung.

Secara medis, dia mengungkapkan bahwa belum ada penelitian yang menjelaskan bahwa minyak kayu putih itu layak dikonsumsi. “Karena itu, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya,” terang salah seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi itu. Apalagi, kalau masyarakat beranggapan bahwa itu bisa mengatasi virus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata Abdul Ghofur melebar saat ayahnya membawa banyak minyak kayu putih dengan berbagai merek di tasnya. Sang ayah memaparkan bahwa ada salah seorang rekannya yang mengalami gejala Covid-19, mulai dari berkurangnya indra penciuman, demam, hingga batuk pilek. Namun, berhasil sembuh ketika mengonsumsi air/teh hangat yang dicampur dengan beberapa tetes minyak kayu putih.

“Karena itu, ayah kerap mengonsumsi minyak kayu putih saat tidak enak badan,” papar pemuda 25 tahun tersebut.

Meski begitu, warga Dusun Krajan, Desa Gumelar, Kecamatan Balung, tersebut tetap khawatir. “Soalnya, minyak kayu putih itu kan obat oles yang digunakan di kulit,” paparnya. Dia takut jika terjadi yang tidak-tidak kepada ayahnya.

Lalu, bagaimana fenomena tersebut di mata medis? Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan bahwa stigma itu sudah lama terjadi di masyarakat. “Jangankan saat Covid-19, saat saya kecil dulu, banyak teman saya yang melakukan hal itu,” paparnya.

Lalu, stigma ini kian marak saat kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Tak hanya minyak kayu putih, menurut dia, banyak hal yang diyakini bisa memberantas virus. “Yang terjadi pada masyarakat itu rata-rata gejala seperti batuk, demam, dan pilek. Kalu diminumi minyak itu, ada sensasi hangat,” paparnya. Ada juga yang ekstrem, yakni dengan dihirup dan menyemprotkannya ke hidung.

Secara medis, dia mengungkapkan bahwa belum ada penelitian yang menjelaskan bahwa minyak kayu putih itu layak dikonsumsi. “Karena itu, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya,” terang salah seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi itu. Apalagi, kalau masyarakat beranggapan bahwa itu bisa mengatasi virus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata Abdul Ghofur melebar saat ayahnya membawa banyak minyak kayu putih dengan berbagai merek di tasnya. Sang ayah memaparkan bahwa ada salah seorang rekannya yang mengalami gejala Covid-19, mulai dari berkurangnya indra penciuman, demam, hingga batuk pilek. Namun, berhasil sembuh ketika mengonsumsi air/teh hangat yang dicampur dengan beberapa tetes minyak kayu putih.

“Karena itu, ayah kerap mengonsumsi minyak kayu putih saat tidak enak badan,” papar pemuda 25 tahun tersebut.

Meski begitu, warga Dusun Krajan, Desa Gumelar, Kecamatan Balung, tersebut tetap khawatir. “Soalnya, minyak kayu putih itu kan obat oles yang digunakan di kulit,” paparnya. Dia takut jika terjadi yang tidak-tidak kepada ayahnya.

Lalu, bagaimana fenomena tersebut di mata medis? Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan bahwa stigma itu sudah lama terjadi di masyarakat. “Jangankan saat Covid-19, saat saya kecil dulu, banyak teman saya yang melakukan hal itu,” paparnya.

Lalu, stigma ini kian marak saat kali pertama pandemi merebak di Kabupaten Jember. Tak hanya minyak kayu putih, menurut dia, banyak hal yang diyakini bisa memberantas virus. “Yang terjadi pada masyarakat itu rata-rata gejala seperti batuk, demam, dan pilek. Kalu diminumi minyak itu, ada sensasi hangat,” paparnya. Ada juga yang ekstrem, yakni dengan dihirup dan menyemprotkannya ke hidung.

Secara medis, dia mengungkapkan bahwa belum ada penelitian yang menjelaskan bahwa minyak kayu putih itu layak dikonsumsi. “Karena itu, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya,” terang salah seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi itu. Apalagi, kalau masyarakat beranggapan bahwa itu bisa mengatasi virus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/