alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Masih Ditemukan Produk Kedaluwarsa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ternyata, bahan makanan kedaluwarsa masih ditemukan dan terjual bebas di pasaran. Mulai dari toko, swalayan, bahkan distributor. Padahal, makanan kedaluwarsa itu bisa menyebabkan keracunan bagi yang mengonsumsinya. Dan dapat mengganggu kesehatan. Melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah diminta lebih ketat mengawasi peredaran bahan pangan tersebut, sehingga layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Baru-baru ini, Loka POM Jember menemukan 68 jenis pangan yang kedaluwarsa, selama proses intensifikasi pengawasan pangan menjelang Idul Fitri. Kepala Loka POM Wilayah Jember Any Koosbudiwati mengungkapkan, jumlah tersebut ditemukan saat sidak, mulai dari toko, swalayan, dan distributor. “Kalau ditotal, temuannya di Jember ada 29 item dan 97 kemasan. Terdiri atas 17 item rusak dan 12 kedaluwarsa. Perinciannya, 41 kemasan rusak dan 56 kemasan kedaluwarsa,” ungkapnya, kemarin (10/5).

Intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan sejak awal April hingga akhir Mei nanti. Meski menemukan puluhan kemasan kedaluwarsa, namun hingga pekan keempat April, petugas tidak menemukan produk pangan tanpa izin edar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, Any menjelaskan, temuan pada tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ada kecenderungan turun jika dihitung berdasarkan jumlah sarana penjualan yang diperiksa. “Kalau sekarang kan lebih banyak. Otomatis lebih banyak temuan yang didapatkan,” paparnya.

Selain pengawasan terhadap pangan olahan, Loka POM juga melakukan sampling dan pengujian terhadap 35 sampel pangan jajanan buka puasa atau takjil. Namun, khusus untuk takjil, tidak ditemukan sampel yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, maupun rhodamin B.

Menurut Any, Loka POM berkomitmen senantiasa mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat. Sekalipun dalam masa darurat pandemi seperti sekarang ini. Tentunya dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan untuk menjaga petugas, pelaku usaha, dan masyarakat dari risiko penyebaran virus. “Kami lebih banyak pada arah pembinaan para distributor,” tuturnya.

Dia menambahkan, temuan produk kedaluwarsa ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang turun. Sehingga hal ini berpengaruh pada temuan barang atau produk yang kedaluwarsa, karena lama tersimpan di gudang atau toko lantaran tidak terserap oleh masyarakat. “Mungkin karena daya beli masyarakat menurun,” urainya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ternyata, bahan makanan kedaluwarsa masih ditemukan dan terjual bebas di pasaran. Mulai dari toko, swalayan, bahkan distributor. Padahal, makanan kedaluwarsa itu bisa menyebabkan keracunan bagi yang mengonsumsinya. Dan dapat mengganggu kesehatan. Melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah diminta lebih ketat mengawasi peredaran bahan pangan tersebut, sehingga layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Baru-baru ini, Loka POM Jember menemukan 68 jenis pangan yang kedaluwarsa, selama proses intensifikasi pengawasan pangan menjelang Idul Fitri. Kepala Loka POM Wilayah Jember Any Koosbudiwati mengungkapkan, jumlah tersebut ditemukan saat sidak, mulai dari toko, swalayan, dan distributor. “Kalau ditotal, temuannya di Jember ada 29 item dan 97 kemasan. Terdiri atas 17 item rusak dan 12 kedaluwarsa. Perinciannya, 41 kemasan rusak dan 56 kemasan kedaluwarsa,” ungkapnya, kemarin (10/5).

Intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan sejak awal April hingga akhir Mei nanti. Meski menemukan puluhan kemasan kedaluwarsa, namun hingga pekan keempat April, petugas tidak menemukan produk pangan tanpa izin edar.

Lebih lanjut, Any menjelaskan, temuan pada tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ada kecenderungan turun jika dihitung berdasarkan jumlah sarana penjualan yang diperiksa. “Kalau sekarang kan lebih banyak. Otomatis lebih banyak temuan yang didapatkan,” paparnya.

Selain pengawasan terhadap pangan olahan, Loka POM juga melakukan sampling dan pengujian terhadap 35 sampel pangan jajanan buka puasa atau takjil. Namun, khusus untuk takjil, tidak ditemukan sampel yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, maupun rhodamin B.

Menurut Any, Loka POM berkomitmen senantiasa mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat. Sekalipun dalam masa darurat pandemi seperti sekarang ini. Tentunya dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan untuk menjaga petugas, pelaku usaha, dan masyarakat dari risiko penyebaran virus. “Kami lebih banyak pada arah pembinaan para distributor,” tuturnya.

Dia menambahkan, temuan produk kedaluwarsa ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang turun. Sehingga hal ini berpengaruh pada temuan barang atau produk yang kedaluwarsa, karena lama tersimpan di gudang atau toko lantaran tidak terserap oleh masyarakat. “Mungkin karena daya beli masyarakat menurun,” urainya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ternyata, bahan makanan kedaluwarsa masih ditemukan dan terjual bebas di pasaran. Mulai dari toko, swalayan, bahkan distributor. Padahal, makanan kedaluwarsa itu bisa menyebabkan keracunan bagi yang mengonsumsinya. Dan dapat mengganggu kesehatan. Melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah diminta lebih ketat mengawasi peredaran bahan pangan tersebut, sehingga layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Baru-baru ini, Loka POM Jember menemukan 68 jenis pangan yang kedaluwarsa, selama proses intensifikasi pengawasan pangan menjelang Idul Fitri. Kepala Loka POM Wilayah Jember Any Koosbudiwati mengungkapkan, jumlah tersebut ditemukan saat sidak, mulai dari toko, swalayan, dan distributor. “Kalau ditotal, temuannya di Jember ada 29 item dan 97 kemasan. Terdiri atas 17 item rusak dan 12 kedaluwarsa. Perinciannya, 41 kemasan rusak dan 56 kemasan kedaluwarsa,” ungkapnya, kemarin (10/5).

Intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan sejak awal April hingga akhir Mei nanti. Meski menemukan puluhan kemasan kedaluwarsa, namun hingga pekan keempat April, petugas tidak menemukan produk pangan tanpa izin edar.

Lebih lanjut, Any menjelaskan, temuan pada tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ada kecenderungan turun jika dihitung berdasarkan jumlah sarana penjualan yang diperiksa. “Kalau sekarang kan lebih banyak. Otomatis lebih banyak temuan yang didapatkan,” paparnya.

Selain pengawasan terhadap pangan olahan, Loka POM juga melakukan sampling dan pengujian terhadap 35 sampel pangan jajanan buka puasa atau takjil. Namun, khusus untuk takjil, tidak ditemukan sampel yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, maupun rhodamin B.

Menurut Any, Loka POM berkomitmen senantiasa mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat. Sekalipun dalam masa darurat pandemi seperti sekarang ini. Tentunya dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan untuk menjaga petugas, pelaku usaha, dan masyarakat dari risiko penyebaran virus. “Kami lebih banyak pada arah pembinaan para distributor,” tuturnya.

Dia menambahkan, temuan produk kedaluwarsa ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang turun. Sehingga hal ini berpengaruh pada temuan barang atau produk yang kedaluwarsa, karena lama tersimpan di gudang atau toko lantaran tidak terserap oleh masyarakat. “Mungkin karena daya beli masyarakat menurun,” urainya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/