alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

70 Persen Ibu Alami Baby Blues Syndrome

Mobile_AP_Rectangle 1

Selain itu, juga ada faktor fisik, psikis, dan sosial yang menjadi pemicu terjadinya baby blues syndrome. Penyebab fisik seperti ibu yang merasa adanya perubahan pada dirinya. Kurangnya waktu istirahat, merasa lelah secara fisik, atau ibu merasa terbebani atas kebiasaan barunya setelah melahirkan.

Penyebab psikis, bisa jadi karena ibu tidak siap untuk memiliki dan menerima kehadiran bayi. “Faktor yang lain ibu merasa tidak mampu untuk mengurus bayi. Sehingga ibu merasa tidak bisa mengatasi permasalahan-permasalahan pada saat pertama menjadi ibu,” jelasnya.

Seperti bayi yang sering menangis, lalu ibu merasa bingung apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ibu kadang ikut menangis. “Rasa putus asa kadang mendera ibu pasca-melahirkan, kemudian muncul ketidakpercayaan dirinya. Misalnya saja, tidak bisa menyusui karena ASI-nya sedikit atau kualitasnya, dan terjadinya perubahan bentuk tubuh,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Komentar dari lingkungan sekitar yang mengarah pada bullying menjadi faktor sosial ibu mengalami baby blues syndrome. “Proses persalinannya yang Caesar, itu juga bisa jadi pemicu. Hal-hal sederhana berupa sindiran bisa menjadi hal yang sangat dipikirkan ibu, kemudian berdampak pada psikisnya,” ucapnya.

Dia juga menyebutkan bahwa gejala gangguan ini biasanya bisa teridentifikasi secara umum, dari yang ringan hingga berat. Salah satunya cemas berlebihan, ibu menangis tanpa sebab, mudah tersinggung atau sensitif, susah tidur, dan berat badan turun. “Pada gangguan yang tarafnya lebih berat bisa mengarah pada bunuh diri. Ada keinginan ibu untuk mengakhiri hidupnya, atau menyakiti bayinya karena merasa daripada tidak berguna,” pungkasnya.

Menurutnya, gangguan ini biasanya rentan dialami oleh perempuan yang baru pertama menjadi ibu, namun tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua atau ketiganya. “Keterbukaan ibu juga diperlukan, jika memerlukan bantuan untuk merawat bayinya. Memperhatikan gizi untuk asupannya sebagai energi. Terbuka kepada suami bisa dilakukan, agar dia bisa survive, bertahan, bangkit,” jelas psikolog perempuan ini saat menjelaskan cara pencegahan dan pemulihan baby blues syndrome. Menurutnya, tidak hanya bayi yang baru dilahirkan yang perlu diperhatikan, ibunya pun harus diperhatikan. (Mg8/c2/dwi)

- Advertisement -

Selain itu, juga ada faktor fisik, psikis, dan sosial yang menjadi pemicu terjadinya baby blues syndrome. Penyebab fisik seperti ibu yang merasa adanya perubahan pada dirinya. Kurangnya waktu istirahat, merasa lelah secara fisik, atau ibu merasa terbebani atas kebiasaan barunya setelah melahirkan.

Penyebab psikis, bisa jadi karena ibu tidak siap untuk memiliki dan menerima kehadiran bayi. “Faktor yang lain ibu merasa tidak mampu untuk mengurus bayi. Sehingga ibu merasa tidak bisa mengatasi permasalahan-permasalahan pada saat pertama menjadi ibu,” jelasnya.

Seperti bayi yang sering menangis, lalu ibu merasa bingung apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ibu kadang ikut menangis. “Rasa putus asa kadang mendera ibu pasca-melahirkan, kemudian muncul ketidakpercayaan dirinya. Misalnya saja, tidak bisa menyusui karena ASI-nya sedikit atau kualitasnya, dan terjadinya perubahan bentuk tubuh,” jelasnya.

Komentar dari lingkungan sekitar yang mengarah pada bullying menjadi faktor sosial ibu mengalami baby blues syndrome. “Proses persalinannya yang Caesar, itu juga bisa jadi pemicu. Hal-hal sederhana berupa sindiran bisa menjadi hal yang sangat dipikirkan ibu, kemudian berdampak pada psikisnya,” ucapnya.

Dia juga menyebutkan bahwa gejala gangguan ini biasanya bisa teridentifikasi secara umum, dari yang ringan hingga berat. Salah satunya cemas berlebihan, ibu menangis tanpa sebab, mudah tersinggung atau sensitif, susah tidur, dan berat badan turun. “Pada gangguan yang tarafnya lebih berat bisa mengarah pada bunuh diri. Ada keinginan ibu untuk mengakhiri hidupnya, atau menyakiti bayinya karena merasa daripada tidak berguna,” pungkasnya.

Menurutnya, gangguan ini biasanya rentan dialami oleh perempuan yang baru pertama menjadi ibu, namun tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua atau ketiganya. “Keterbukaan ibu juga diperlukan, jika memerlukan bantuan untuk merawat bayinya. Memperhatikan gizi untuk asupannya sebagai energi. Terbuka kepada suami bisa dilakukan, agar dia bisa survive, bertahan, bangkit,” jelas psikolog perempuan ini saat menjelaskan cara pencegahan dan pemulihan baby blues syndrome. Menurutnya, tidak hanya bayi yang baru dilahirkan yang perlu diperhatikan, ibunya pun harus diperhatikan. (Mg8/c2/dwi)

Selain itu, juga ada faktor fisik, psikis, dan sosial yang menjadi pemicu terjadinya baby blues syndrome. Penyebab fisik seperti ibu yang merasa adanya perubahan pada dirinya. Kurangnya waktu istirahat, merasa lelah secara fisik, atau ibu merasa terbebani atas kebiasaan barunya setelah melahirkan.

Penyebab psikis, bisa jadi karena ibu tidak siap untuk memiliki dan menerima kehadiran bayi. “Faktor yang lain ibu merasa tidak mampu untuk mengurus bayi. Sehingga ibu merasa tidak bisa mengatasi permasalahan-permasalahan pada saat pertama menjadi ibu,” jelasnya.

Seperti bayi yang sering menangis, lalu ibu merasa bingung apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ibu kadang ikut menangis. “Rasa putus asa kadang mendera ibu pasca-melahirkan, kemudian muncul ketidakpercayaan dirinya. Misalnya saja, tidak bisa menyusui karena ASI-nya sedikit atau kualitasnya, dan terjadinya perubahan bentuk tubuh,” jelasnya.

Komentar dari lingkungan sekitar yang mengarah pada bullying menjadi faktor sosial ibu mengalami baby blues syndrome. “Proses persalinannya yang Caesar, itu juga bisa jadi pemicu. Hal-hal sederhana berupa sindiran bisa menjadi hal yang sangat dipikirkan ibu, kemudian berdampak pada psikisnya,” ucapnya.

Dia juga menyebutkan bahwa gejala gangguan ini biasanya bisa teridentifikasi secara umum, dari yang ringan hingga berat. Salah satunya cemas berlebihan, ibu menangis tanpa sebab, mudah tersinggung atau sensitif, susah tidur, dan berat badan turun. “Pada gangguan yang tarafnya lebih berat bisa mengarah pada bunuh diri. Ada keinginan ibu untuk mengakhiri hidupnya, atau menyakiti bayinya karena merasa daripada tidak berguna,” pungkasnya.

Menurutnya, gangguan ini biasanya rentan dialami oleh perempuan yang baru pertama menjadi ibu, namun tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada ibu yang melahirkan anak kedua atau ketiganya. “Keterbukaan ibu juga diperlukan, jika memerlukan bantuan untuk merawat bayinya. Memperhatikan gizi untuk asupannya sebagai energi. Terbuka kepada suami bisa dilakukan, agar dia bisa survive, bertahan, bangkit,” jelas psikolog perempuan ini saat menjelaskan cara pencegahan dan pemulihan baby blues syndrome. Menurutnya, tidak hanya bayi yang baru dilahirkan yang perlu diperhatikan, ibunya pun harus diperhatikan. (Mg8/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/