alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

70 Persen Ibu Alami Baby Blues Syndrome

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berita tentang ibu yang membuang bayinya ke sumur pada akhir Maret kemarin menjadi tanda tanya besar, mengapa hal itu bisa terjadi. Menurut psikolog, kondisi itu karena terdapat aspek psikologis ibu. Bukan hanya terkait kriminal semata.

Baca Juga : Anaknya Dibunuh, Keluarga Menuntut Hukuman Berat. Begini Kronologinya

Kejadian itu merupakan puncak atau dampak dari seorang ibu yang mengalami baby blues dan tak bisa dikendalikan lagi. Stres yang cukup parah karena sebab yang terjadi sebelumnya. Lalu, apa itu baby blues, sehingga bisa memicu hal separah itu?

Mobile_AP_Rectangle 2

Rya Wiyatfi Linsiya, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, menjelaskan, baby blues syndrome dalam pandangan psikologi lebih kepada gangguan psikologi atau depresi ringan yang bentuknya adalah perubahan mood. Sering kali juga dikatakan sebagai bentuk depresi ringan yang dirasakan oleh ibu pasca-melahirkan. “Hampir 70 persen ibu pasca-melahirkan mengalaminya,” terangnya.

Hal ini memang sering kali muncul cukup signifikan dan lama pada ibu. Menurutnya, bisa jadi setelah melahirkan sampai dua minggu, bahkan satu bulan. Meskipun kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya, namun harus tetap diwaspadai. “Seandainya dibiarkan atau tidak kunjung tuntas, dikhawatirkan bisa mengarah pada post partum depression, yang arahnya lebih berat lagi dan tidak bisa dikendalikan. Apalagi gangguan itu dialami lebih dari satu bulan,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang bisa jadi menyebabkan ibu mengalami baby blues syndrome. Seperti perubahan hormon setelah melahirkan. “Ada penurunan beberapa hormon, baik estrogen maupun progesteron yang bisa berpengaruh pada mood yang dimiliki oleh ibu pasca-melahirkan,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berita tentang ibu yang membuang bayinya ke sumur pada akhir Maret kemarin menjadi tanda tanya besar, mengapa hal itu bisa terjadi. Menurut psikolog, kondisi itu karena terdapat aspek psikologis ibu. Bukan hanya terkait kriminal semata.

Baca Juga : Anaknya Dibunuh, Keluarga Menuntut Hukuman Berat. Begini Kronologinya

Kejadian itu merupakan puncak atau dampak dari seorang ibu yang mengalami baby blues dan tak bisa dikendalikan lagi. Stres yang cukup parah karena sebab yang terjadi sebelumnya. Lalu, apa itu baby blues, sehingga bisa memicu hal separah itu?

Rya Wiyatfi Linsiya, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, menjelaskan, baby blues syndrome dalam pandangan psikologi lebih kepada gangguan psikologi atau depresi ringan yang bentuknya adalah perubahan mood. Sering kali juga dikatakan sebagai bentuk depresi ringan yang dirasakan oleh ibu pasca-melahirkan. “Hampir 70 persen ibu pasca-melahirkan mengalaminya,” terangnya.

Hal ini memang sering kali muncul cukup signifikan dan lama pada ibu. Menurutnya, bisa jadi setelah melahirkan sampai dua minggu, bahkan satu bulan. Meskipun kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya, namun harus tetap diwaspadai. “Seandainya dibiarkan atau tidak kunjung tuntas, dikhawatirkan bisa mengarah pada post partum depression, yang arahnya lebih berat lagi dan tidak bisa dikendalikan. Apalagi gangguan itu dialami lebih dari satu bulan,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang bisa jadi menyebabkan ibu mengalami baby blues syndrome. Seperti perubahan hormon setelah melahirkan. “Ada penurunan beberapa hormon, baik estrogen maupun progesteron yang bisa berpengaruh pada mood yang dimiliki oleh ibu pasca-melahirkan,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berita tentang ibu yang membuang bayinya ke sumur pada akhir Maret kemarin menjadi tanda tanya besar, mengapa hal itu bisa terjadi. Menurut psikolog, kondisi itu karena terdapat aspek psikologis ibu. Bukan hanya terkait kriminal semata.

Baca Juga : Anaknya Dibunuh, Keluarga Menuntut Hukuman Berat. Begini Kronologinya

Kejadian itu merupakan puncak atau dampak dari seorang ibu yang mengalami baby blues dan tak bisa dikendalikan lagi. Stres yang cukup parah karena sebab yang terjadi sebelumnya. Lalu, apa itu baby blues, sehingga bisa memicu hal separah itu?

Rya Wiyatfi Linsiya, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, menjelaskan, baby blues syndrome dalam pandangan psikologi lebih kepada gangguan psikologi atau depresi ringan yang bentuknya adalah perubahan mood. Sering kali juga dikatakan sebagai bentuk depresi ringan yang dirasakan oleh ibu pasca-melahirkan. “Hampir 70 persen ibu pasca-melahirkan mengalaminya,” terangnya.

Hal ini memang sering kali muncul cukup signifikan dan lama pada ibu. Menurutnya, bisa jadi setelah melahirkan sampai dua minggu, bahkan satu bulan. Meskipun kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya, namun harus tetap diwaspadai. “Seandainya dibiarkan atau tidak kunjung tuntas, dikhawatirkan bisa mengarah pada post partum depression, yang arahnya lebih berat lagi dan tidak bisa dikendalikan. Apalagi gangguan itu dialami lebih dari satu bulan,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang bisa jadi menyebabkan ibu mengalami baby blues syndrome. Seperti perubahan hormon setelah melahirkan. “Ada penurunan beberapa hormon, baik estrogen maupun progesteron yang bisa berpengaruh pada mood yang dimiliki oleh ibu pasca-melahirkan,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/