alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

AKI/AKB Diprediksi Naik?

- Dampak Pandemi, Posyandu Ditutup

- Pelayanan Ibu dan Bayi Masih Bisa ke Puskesmas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pandemi Covid-19 yang merebak di Kabupaten Jember sejak Maret 2020 lalu menjadi salah satu kendala yang ditengarai mengakibatkan tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Sebab, hal ini mengakibatkan sejumlah posyandu ditutup. Imbasnya, akses pelayanan untuk ibu dan bayi tidak sebaik sebelumnya. Tercatat, ada 324 bayi dan 61 ibu yang meninggal selama 2020.

Lantas, apakah itu disebabkan pandemi, atau pemerintah kurang memantapkan diri dalam menangani kasus yang kian meningkat selama empat tahun terakhir ini? Mengingat, pada 2019 kasus kematian ibu dan bayi juga tergolong tinggi. Yakni, mencapai 329 AKB dan 47 AKI.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dr Dandy Candra S menerangkan bahwa pemerintah kembali menutup layanan posyandu lantaran adanya peningkatan kasus Covid-19. Namun, dia menerangkan bahwa sebenarnya masyarakat bisa memeriksakan kesehatan mereka masing-masing ke puskesmas terdekat. “Jadi, tetap ada pelayanan meski terbatas,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, berdasarkan data di lapangan, dr Dandy menjelaskan bahwa masyarakat juga masih banyak yang enggan pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes). Akibatnya, hal-hal yang harus mereka dapatkan untuk memenuhi gizi mereka masing-masing menjadi terbatas lantaran minimnya pengetahuan. “Hal ini tentu berdampak pada kesehatan bayi dan mampu mengakibatkan tingginya AKI/AKB dan kasus stunting di Kabupaten Jember,” imbuhnya.

Namun, untuk memudahkan pelayanan jika ada yang enggan pergi ke fayankes karena takut terpapar, dia menuturkan bahwa pihaknya masih menyiapkan pelayanan berbasis daring terkait edukasi ibu hamil. Dengan begitu, para ibu hamil bisa mendapatkan informasi terkait kesehatan mereka selama proses hamil hingga melahirkan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember Dr Farida Wahyu Ningtyias menjelaskan bahwa berdasarkan data penelitian salah seorang mahasiswanya terkait AKI/AKB di Jember, dijelaskan bahwa jika masyarakat mau hadir di fayankes, deteksi dan pemantauan untuk ibu hamil bakal terlaksana. Namun, jika masyarakat tidak hadir, hal itu bakal memperbesar peluang terjadinya AKI/AKB.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pandemi Covid-19 yang merebak di Kabupaten Jember sejak Maret 2020 lalu menjadi salah satu kendala yang ditengarai mengakibatkan tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Sebab, hal ini mengakibatkan sejumlah posyandu ditutup. Imbasnya, akses pelayanan untuk ibu dan bayi tidak sebaik sebelumnya. Tercatat, ada 324 bayi dan 61 ibu yang meninggal selama 2020.

Lantas, apakah itu disebabkan pandemi, atau pemerintah kurang memantapkan diri dalam menangani kasus yang kian meningkat selama empat tahun terakhir ini? Mengingat, pada 2019 kasus kematian ibu dan bayi juga tergolong tinggi. Yakni, mencapai 329 AKB dan 47 AKI.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dr Dandy Candra S menerangkan bahwa pemerintah kembali menutup layanan posyandu lantaran adanya peningkatan kasus Covid-19. Namun, dia menerangkan bahwa sebenarnya masyarakat bisa memeriksakan kesehatan mereka masing-masing ke puskesmas terdekat. “Jadi, tetap ada pelayanan meski terbatas,” ungkapnya.

Namun, berdasarkan data di lapangan, dr Dandy menjelaskan bahwa masyarakat juga masih banyak yang enggan pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes). Akibatnya, hal-hal yang harus mereka dapatkan untuk memenuhi gizi mereka masing-masing menjadi terbatas lantaran minimnya pengetahuan. “Hal ini tentu berdampak pada kesehatan bayi dan mampu mengakibatkan tingginya AKI/AKB dan kasus stunting di Kabupaten Jember,” imbuhnya.

Namun, untuk memudahkan pelayanan jika ada yang enggan pergi ke fayankes karena takut terpapar, dia menuturkan bahwa pihaknya masih menyiapkan pelayanan berbasis daring terkait edukasi ibu hamil. Dengan begitu, para ibu hamil bisa mendapatkan informasi terkait kesehatan mereka selama proses hamil hingga melahirkan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember Dr Farida Wahyu Ningtyias menjelaskan bahwa berdasarkan data penelitian salah seorang mahasiswanya terkait AKI/AKB di Jember, dijelaskan bahwa jika masyarakat mau hadir di fayankes, deteksi dan pemantauan untuk ibu hamil bakal terlaksana. Namun, jika masyarakat tidak hadir, hal itu bakal memperbesar peluang terjadinya AKI/AKB.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pandemi Covid-19 yang merebak di Kabupaten Jember sejak Maret 2020 lalu menjadi salah satu kendala yang ditengarai mengakibatkan tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Sebab, hal ini mengakibatkan sejumlah posyandu ditutup. Imbasnya, akses pelayanan untuk ibu dan bayi tidak sebaik sebelumnya. Tercatat, ada 324 bayi dan 61 ibu yang meninggal selama 2020.

Lantas, apakah itu disebabkan pandemi, atau pemerintah kurang memantapkan diri dalam menangani kasus yang kian meningkat selama empat tahun terakhir ini? Mengingat, pada 2019 kasus kematian ibu dan bayi juga tergolong tinggi. Yakni, mencapai 329 AKB dan 47 AKI.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dr Dandy Candra S menerangkan bahwa pemerintah kembali menutup layanan posyandu lantaran adanya peningkatan kasus Covid-19. Namun, dia menerangkan bahwa sebenarnya masyarakat bisa memeriksakan kesehatan mereka masing-masing ke puskesmas terdekat. “Jadi, tetap ada pelayanan meski terbatas,” ungkapnya.

Namun, berdasarkan data di lapangan, dr Dandy menjelaskan bahwa masyarakat juga masih banyak yang enggan pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan (fayankes). Akibatnya, hal-hal yang harus mereka dapatkan untuk memenuhi gizi mereka masing-masing menjadi terbatas lantaran minimnya pengetahuan. “Hal ini tentu berdampak pada kesehatan bayi dan mampu mengakibatkan tingginya AKI/AKB dan kasus stunting di Kabupaten Jember,” imbuhnya.

Namun, untuk memudahkan pelayanan jika ada yang enggan pergi ke fayankes karena takut terpapar, dia menuturkan bahwa pihaknya masih menyiapkan pelayanan berbasis daring terkait edukasi ibu hamil. Dengan begitu, para ibu hamil bisa mendapatkan informasi terkait kesehatan mereka selama proses hamil hingga melahirkan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember Dr Farida Wahyu Ningtyias menjelaskan bahwa berdasarkan data penelitian salah seorang mahasiswanya terkait AKI/AKB di Jember, dijelaskan bahwa jika masyarakat mau hadir di fayankes, deteksi dan pemantauan untuk ibu hamil bakal terlaksana. Namun, jika masyarakat tidak hadir, hal itu bakal memperbesar peluang terjadinya AKI/AKB.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/