alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Aman Tidak Ya?

Pemerintah Belum Siapkan Vaksinasi untuk Siswa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) yang bakal digelar 14 Juni, nyatanya memunculkan banyak spekulasi. Salah satunya terkait dengan keamanan proses pembelajaran yang masih berada di balik bayang-bayang pandemi Covid-19. Beberapa wali murid juga mengkhawatirkan kesehatan anak mereka lantaran hingga saat ini belum mendapatkan vaksin.

Salah satu wali murid tersebut adalah Nita. Warga yang tinggal di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ini mengaku resah jika PTM digelar saat anak-anaknya belum mendapatkan vaksin. Sebab, tak tertutup kemungkinan, anaknya bisa terpapar saat mengikuti pembelajaran di sekolah. “Satu mau masuk kelas 4 SD. Sedangkan satunya baru akan masuk TK,” ungkapnya.

Apa yang dikhawatirkan Nita ini menjadi gambaran bahwa sebenarnya sebagian orang tua masih waswas dengan pelaksanaan PTM. Terlebih, belum ada langkah dan regulasi yang jelas soal kesiapan pelaksanaan belajar di sekolah tersebut. Salah satunya adalah tentang kebijakan vaksinasi untuk siswa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mewakili Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember dr Wiwik Supartiwi, Plt Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Alfi Yudisianto mengatakan, hingga saat ini belum ada kebijakan vaksinasi untuk warga yang berusia di bawah 18 tahun. Ini artinya, siswa usia TK hingga SMA tidak menjadi sasaran program vaksinasi pemerintah.

Bahkan, lanjutnya, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga belum ada izin resmi.
“Sebenarnya, sudah ada penelitian vaksin untuk anak. Tapi, izinnya belum keluar,” paparnya. Karena itu, pihaknya saat ini fokus ke tenaga pendidik lebih dulu. Meski hingga kini program itu belum rampung lantaran ada beberapa guru yang harus menunda vaksinasi karena beberapa alasan. Di antaranya, terkendala komorbid dan ada yang hamil.

Sebagaimana diketahui, setelah menggelar vaksinasi bertahap untuk tenaga kesehatan hingga pekerja publik, cakupan vaksinasi diperluas kepada lansia. Dan anak-anak tidak termasuk di dalamnya. Sebenarnya, seberapa penting vaksinasi untuk anak dari kacamata kesehatan? Sebab, muncul stigma jika anak-anak itu tak perlu vaksin karena kebal terhadap Covid-19.

“Kalau kebalnya tidak. Mereka masih bisa terpapar, namun tidak bergejala,” ungkap dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter spesialis penanganan Covid-19 di RSD dr Soebandi. Namun, menurut dia, yang jadi masalah adalah orang yang ada di rumah. Sebab, murid tersebut bisa saja membawa virus dari lingkungan sekolahnya ke rumah. Dan hal itu dinilainya bisa berbahaya bagi orang tua dan keluarga lain.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) yang bakal digelar 14 Juni, nyatanya memunculkan banyak spekulasi. Salah satunya terkait dengan keamanan proses pembelajaran yang masih berada di balik bayang-bayang pandemi Covid-19. Beberapa wali murid juga mengkhawatirkan kesehatan anak mereka lantaran hingga saat ini belum mendapatkan vaksin.

Salah satu wali murid tersebut adalah Nita. Warga yang tinggal di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ini mengaku resah jika PTM digelar saat anak-anaknya belum mendapatkan vaksin. Sebab, tak tertutup kemungkinan, anaknya bisa terpapar saat mengikuti pembelajaran di sekolah. “Satu mau masuk kelas 4 SD. Sedangkan satunya baru akan masuk TK,” ungkapnya.

Apa yang dikhawatirkan Nita ini menjadi gambaran bahwa sebenarnya sebagian orang tua masih waswas dengan pelaksanaan PTM. Terlebih, belum ada langkah dan regulasi yang jelas soal kesiapan pelaksanaan belajar di sekolah tersebut. Salah satunya adalah tentang kebijakan vaksinasi untuk siswa.

Mewakili Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember dr Wiwik Supartiwi, Plt Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Alfi Yudisianto mengatakan, hingga saat ini belum ada kebijakan vaksinasi untuk warga yang berusia di bawah 18 tahun. Ini artinya, siswa usia TK hingga SMA tidak menjadi sasaran program vaksinasi pemerintah.

Bahkan, lanjutnya, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga belum ada izin resmi.
“Sebenarnya, sudah ada penelitian vaksin untuk anak. Tapi, izinnya belum keluar,” paparnya. Karena itu, pihaknya saat ini fokus ke tenaga pendidik lebih dulu. Meski hingga kini program itu belum rampung lantaran ada beberapa guru yang harus menunda vaksinasi karena beberapa alasan. Di antaranya, terkendala komorbid dan ada yang hamil.

Sebagaimana diketahui, setelah menggelar vaksinasi bertahap untuk tenaga kesehatan hingga pekerja publik, cakupan vaksinasi diperluas kepada lansia. Dan anak-anak tidak termasuk di dalamnya. Sebenarnya, seberapa penting vaksinasi untuk anak dari kacamata kesehatan? Sebab, muncul stigma jika anak-anak itu tak perlu vaksin karena kebal terhadap Covid-19.

“Kalau kebalnya tidak. Mereka masih bisa terpapar, namun tidak bergejala,” ungkap dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter spesialis penanganan Covid-19 di RSD dr Soebandi. Namun, menurut dia, yang jadi masalah adalah orang yang ada di rumah. Sebab, murid tersebut bisa saja membawa virus dari lingkungan sekolahnya ke rumah. Dan hal itu dinilainya bisa berbahaya bagi orang tua dan keluarga lain.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wacana pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) yang bakal digelar 14 Juni, nyatanya memunculkan banyak spekulasi. Salah satunya terkait dengan keamanan proses pembelajaran yang masih berada di balik bayang-bayang pandemi Covid-19. Beberapa wali murid juga mengkhawatirkan kesehatan anak mereka lantaran hingga saat ini belum mendapatkan vaksin.

Salah satu wali murid tersebut adalah Nita. Warga yang tinggal di Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, ini mengaku resah jika PTM digelar saat anak-anaknya belum mendapatkan vaksin. Sebab, tak tertutup kemungkinan, anaknya bisa terpapar saat mengikuti pembelajaran di sekolah. “Satu mau masuk kelas 4 SD. Sedangkan satunya baru akan masuk TK,” ungkapnya.

Apa yang dikhawatirkan Nita ini menjadi gambaran bahwa sebenarnya sebagian orang tua masih waswas dengan pelaksanaan PTM. Terlebih, belum ada langkah dan regulasi yang jelas soal kesiapan pelaksanaan belajar di sekolah tersebut. Salah satunya adalah tentang kebijakan vaksinasi untuk siswa.

Mewakili Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember dr Wiwik Supartiwi, Plt Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Alfi Yudisianto mengatakan, hingga saat ini belum ada kebijakan vaksinasi untuk warga yang berusia di bawah 18 tahun. Ini artinya, siswa usia TK hingga SMA tidak menjadi sasaran program vaksinasi pemerintah.

Bahkan, lanjutnya, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga belum ada izin resmi.
“Sebenarnya, sudah ada penelitian vaksin untuk anak. Tapi, izinnya belum keluar,” paparnya. Karena itu, pihaknya saat ini fokus ke tenaga pendidik lebih dulu. Meski hingga kini program itu belum rampung lantaran ada beberapa guru yang harus menunda vaksinasi karena beberapa alasan. Di antaranya, terkendala komorbid dan ada yang hamil.

Sebagaimana diketahui, setelah menggelar vaksinasi bertahap untuk tenaga kesehatan hingga pekerja publik, cakupan vaksinasi diperluas kepada lansia. Dan anak-anak tidak termasuk di dalamnya. Sebenarnya, seberapa penting vaksinasi untuk anak dari kacamata kesehatan? Sebab, muncul stigma jika anak-anak itu tak perlu vaksin karena kebal terhadap Covid-19.

“Kalau kebalnya tidak. Mereka masih bisa terpapar, namun tidak bergejala,” ungkap dr Angga Mardro Raharjo SpP, dokter spesialis penanganan Covid-19 di RSD dr Soebandi. Namun, menurut dia, yang jadi masalah adalah orang yang ada di rumah. Sebab, murid tersebut bisa saja membawa virus dari lingkungan sekolahnya ke rumah. Dan hal itu dinilainya bisa berbahaya bagi orang tua dan keluarga lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/