alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Gugah Semangat Warga, Cegah Gelombang Tiga

Detail Penanganan Omicron Harus Dipatuhi

Mobile_AP_Rectangle 1

Kendati demikian, ia meminta agar semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, penularan bisa terjadi kapan pun di sejumlah daerah. Hal inilah yang mengharuskan setiap daerah segera menyiapkan manajemen pencegahan dan penanganan yang detail. Seperti fasilitas isoter dan perlengkapan lainnya, khawatir terjadi gelombang susulan. “Jangan sampai, Omicron datang, tapi rumah sakit, oksigen, obat-obatan, apalagi isoter belum siap,” tegasnya.

Berdasar data, karakter pasien yang terpapar Omicron secara nasional, sebanyak 66 persen bergejala ringan dan tanpa gejala, sejumlah 93 persen tanpa komorbid, dan sebanyak 7 persen dengan komorbid alias penyakit penyerta. “Hati-hati dengan ini. Oleh sebab itu, yang ringan dan tanpa gejala diprioritaskan untuk masuk ke isoter,” paparnya.

Pasien yang bisa menjalani isoter di rumah sakit hanya mereka yang memiliki kondisi sedang, berat, dan kritis. Manajemen seperti itulah yang perlu disiapkan. Sebab, tidak semua pasien yang terpapar Omicron harus dirawat secara terpusat. Hal ini untuk menghindari kelebihan kapasitas daya tampung RS.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, jika melihat karakter pasien yang meninggal akibat Omicron, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa ada sebanyak 69 persen belum mendapatkan vaksin lengkap. Oleh karenanya, ia kembali meminta agar percepatan vaksinasi terus digencarkan. “Artinya, vaksin menjadi kunci bagi penanganan varian Omicron untuk menekan angka kematian,” tuturnya.

Dia pun mengatakan bahwa perlu ada peninjauan kota atau kabupaten mana yang vaksinasinya masih di bawah 70 persen. Terutama untuk vaksin dosis kedua. Kemudian, penerapan prokes juga perlu kembali ditegaskan agar masyarakat bisa terus waspada. “Percepatan vaksinasi dan meningkatkan prokes, utamanya masker,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Nur Hariri

- Advertisement -

Kendati demikian, ia meminta agar semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, penularan bisa terjadi kapan pun di sejumlah daerah. Hal inilah yang mengharuskan setiap daerah segera menyiapkan manajemen pencegahan dan penanganan yang detail. Seperti fasilitas isoter dan perlengkapan lainnya, khawatir terjadi gelombang susulan. “Jangan sampai, Omicron datang, tapi rumah sakit, oksigen, obat-obatan, apalagi isoter belum siap,” tegasnya.

Berdasar data, karakter pasien yang terpapar Omicron secara nasional, sebanyak 66 persen bergejala ringan dan tanpa gejala, sejumlah 93 persen tanpa komorbid, dan sebanyak 7 persen dengan komorbid alias penyakit penyerta. “Hati-hati dengan ini. Oleh sebab itu, yang ringan dan tanpa gejala diprioritaskan untuk masuk ke isoter,” paparnya.

Pasien yang bisa menjalani isoter di rumah sakit hanya mereka yang memiliki kondisi sedang, berat, dan kritis. Manajemen seperti itulah yang perlu disiapkan. Sebab, tidak semua pasien yang terpapar Omicron harus dirawat secara terpusat. Hal ini untuk menghindari kelebihan kapasitas daya tampung RS.

Lebih lanjut, jika melihat karakter pasien yang meninggal akibat Omicron, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa ada sebanyak 69 persen belum mendapatkan vaksin lengkap. Oleh karenanya, ia kembali meminta agar percepatan vaksinasi terus digencarkan. “Artinya, vaksin menjadi kunci bagi penanganan varian Omicron untuk menekan angka kematian,” tuturnya.

Dia pun mengatakan bahwa perlu ada peninjauan kota atau kabupaten mana yang vaksinasinya masih di bawah 70 persen. Terutama untuk vaksin dosis kedua. Kemudian, penerapan prokes juga perlu kembali ditegaskan agar masyarakat bisa terus waspada. “Percepatan vaksinasi dan meningkatkan prokes, utamanya masker,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Nur Hariri

Kendati demikian, ia meminta agar semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, penularan bisa terjadi kapan pun di sejumlah daerah. Hal inilah yang mengharuskan setiap daerah segera menyiapkan manajemen pencegahan dan penanganan yang detail. Seperti fasilitas isoter dan perlengkapan lainnya, khawatir terjadi gelombang susulan. “Jangan sampai, Omicron datang, tapi rumah sakit, oksigen, obat-obatan, apalagi isoter belum siap,” tegasnya.

Berdasar data, karakter pasien yang terpapar Omicron secara nasional, sebanyak 66 persen bergejala ringan dan tanpa gejala, sejumlah 93 persen tanpa komorbid, dan sebanyak 7 persen dengan komorbid alias penyakit penyerta. “Hati-hati dengan ini. Oleh sebab itu, yang ringan dan tanpa gejala diprioritaskan untuk masuk ke isoter,” paparnya.

Pasien yang bisa menjalani isoter di rumah sakit hanya mereka yang memiliki kondisi sedang, berat, dan kritis. Manajemen seperti itulah yang perlu disiapkan. Sebab, tidak semua pasien yang terpapar Omicron harus dirawat secara terpusat. Hal ini untuk menghindari kelebihan kapasitas daya tampung RS.

Lebih lanjut, jika melihat karakter pasien yang meninggal akibat Omicron, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa ada sebanyak 69 persen belum mendapatkan vaksin lengkap. Oleh karenanya, ia kembali meminta agar percepatan vaksinasi terus digencarkan. “Artinya, vaksin menjadi kunci bagi penanganan varian Omicron untuk menekan angka kematian,” tuturnya.

Dia pun mengatakan bahwa perlu ada peninjauan kota atau kabupaten mana yang vaksinasinya masih di bawah 70 persen. Terutama untuk vaksin dosis kedua. Kemudian, penerapan prokes juga perlu kembali ditegaskan agar masyarakat bisa terus waspada. “Percepatan vaksinasi dan meningkatkan prokes, utamanya masker,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/