Tingginya Stunting di Bondowoso Menjadi Perhatian

Sholikhul Huda/Radar Ijen PERSIAPAN: Kabid Kesra Dinkes dr Titik Erna Erawati saat menjelaskan pemetaan stunting di Bondowoso kepada para mahasiswa KKN Unej. Pusat Pemberdayaan Masyarakat Unej mengambil KKN tematik tahun ini.

BONDOWOSO – Angka stunting di Bondowoso masih tergolong tinggi. Data dari Dinkes Provinsi, relevansi stunting di Bondowoso pada urutan ketiga tertinggi. Berada di bawah Bangkalan dan Pamekasan. Oleh karenanya, stunting atau gizi buruk menjadi perhatian khusus. Termasuk dari Lembaga Pusat Pemberdayaan Masyarakat Unej.

IKLAN

Kabid Kesra Dinkes Bondowoso dr Titik Erna Erawati mengatakan, peran yang bisa diambil oleh para mahasiswa Unej yang melaksanakan KKN tematik sangat banyak. Sebab, penyebab stunting sangat luas. Tidak hanya dari kesehatan, namun dari penunjangnya. “Seperti sarana air bersih dan sanitasi,” tegasnya.

Hal yang bisa dilakukan adalah membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya air bersih dan sanitasi. Pemerintah akan mendorong terciptanya fasilitas sanitasi dan air bersih. Jika sudah ada, maka harapannya masyarakat bisa memanfaatkannya dengan baik. “Peran yang bisa diambil mahasiswa KKN adalah mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Sementara Koordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unej Hermanto Rohman mengatakan, ada 100 mahasiswa yang akan fokus pada isu stunting. Ini adalah bagian dari KKN tematik Unej. Ada 3.200 mahasiswa yang diterjunkan di Bondowoso, Jember, Lumajang, Situbondo, dan Probolinggo. “Salah satu tema adalah kesehatan, dan kami bahas saat ini,” terangnya.

Dijelaskan, masalah stunting menjadi masalah nasional yang perlu mendapatkan perhatian multipihak. Karena berhubungan dengan mempersiapkan generasi emas penerus bangsa. Ada beberapa bidikan, mulai masalah kesehatan, etnokultural, teknologi, dan kebijakan yang membutuhkan pola intervensi dengan terobosan yang inovatif dan kreatif. “Mahasiswa harus membuat inovasi, minimal bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk mengatasi masalah stunting di suatu daerah,” ujarnya.

Harapannya, mahasiswa dapat menemukan dan mengenali persoalan stunting dan sanitasi di daerah penempatan. Daerah yang menjadi objek adalah rekomendasi Dinkes Bondowoso. Berikutnya, mahasiswa bisa menyusun program terhadap sasaran. “Lebih-lebih ada unsur inovasi dalam program tersebut,” tegasnya. (hud/mgc/sh)

Reporter :

Fotografer :

Editor :