Dinkes Lumajang Tingkatkan Manajemen Laktasi Tenaga Promkes

Dinkes Lumajang for RAME PENGGERAK: Tenaga promosi kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang saat mendapat pelatihan manejemen laktasi.

LUMAJANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lumajang menyebut, tingkat pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi-bayi di Lumajang yang baru lahir masih tergolong rendah. Permasalahan itu salah satunya terjadi lantaran belum pahamnya masyarakat dengan manajemen laktasi.

IKLAN

Secara sederhana, laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi hingga  diisap dan ditelan bayi. Sementara ASI eksklusif adalah ASI yang diminum oleh bayi sejak berusia 0 hingga enam bulan.

Pengelola Program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, Novita Maylia Eka Cahyani menuturkan, manajemen laktasi menjadi upaya pemerintah daerah untuk membuat keseluruhan proses laktasi berjalan sukses. Mulai dari produksi ASI oleh ibu, hingga masuknya cairan ASI ke dalam tumbuh bayi.

Menurutnya, upaya mendongkrak tingkat pemberian ASI harus dilakukan dengan memberikan edukasi kepada ibu melahirkan terkait manajemen laktasi. Dinas kesehatan menekankan kepada petugas puskesmas sebagai promotor kesehatan yang paling bersinggungan dengan masyarakat, agar lebih meningkatkan kualitas pemahaman manajemen laktasi kepada masyarakat. “Penguatan peran petugas promosi kesehatan (promkes) sebagai promotor kesehatan di wilayah puskesmas dibutuhkan untuk mengupayakan peningkatan cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Lumajang,” paparnya.

Namun demikian, lanjut Novita, para petugas promkes harus lebih dulu meningkatkan pemahaman dan kapasitasnya tentang manajemen laktasi. Untuk itulah, kemarin Dinkes Lumajang menggelar pelatihan tentang peningkatan kapasitas manajemen laktasi, yang melibatkan para petugas promkes dari seluruh Puskesmas di Lumajang.

Lebih dari itu, imbuhnya, rendahnya tingkat pemberian ASI ternyata menjadi salah satu penyumbang masih rendahnya PHBS di Lumajang. Berdasarkan data capaian PHBS tatanan rumah tangga di tingkat kabupaten tahun 2017, didapat 31,77 persen rumah tangga di Lumajang masih berkategori kurang sehat.

Novita menyebut, perbaikan PHBS harus dilakukan pada tingkat paling rendah, yaitu keluarga. Pembangunan PHBS di tingkat keluarga (salah satunya pemahaman manajemen laktasi) diharapkan membuat anggota keluarga secara mandiri mengatasi beragam masalah kesehatan. (was/mgc/sh)

Reporter :

Fotografer :

Editor :