alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Gugur Gunung Tekan AKI-AKB

Pemerintah Harus Libatkan Multipihak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Jember butuh perhatian serius dari pemerintah daerah. Bahkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat menyinggung hal itu saat berkunjung ke Jember, Selasa (2/3) lalu. Dia meminta agar Pemkab Jember tak bekerja sendiri, tapi juga merangkul semua pihak. Mulai dari akademisi, masyarakat, sektor privat atau pengusaha, serta media massa.

Melibatkan banyak pemangku kepentingan, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember merancang langkah dalam mencari akar masalah tingginya AKI-AKB tersebut. Ternyata, akar masalahnya cukup kompleks. Tak hanya soal akses dan pelayanan kesehatan, tapi juga akses pembiayaan serta masalah sosial budaya. Semua itu saling terkait dalam menyumbang tingginya kasus AKI-AKB di Jember.

Selanjutnya, melalui workshop yang mengangkat isu kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) itu, GPP Jember yang melibatkan Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AKB), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perwakilan puskesmas, dan organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan media tersebut, berupaya merumuskan langkah konkret tentang apa yang harus dilakukan. Rumusan itu bakal menjadi rekomendasi dan bahan masukan bagi para pemangku kebijakan di Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Puspita, Koordinator Lapangan Madani, yang menjadi fasilitator diskusi itu, menyampaikan bahwa sinergisitas dari berbagai pihak sangatlah membantu dalam mencari akar masalah serta solusi AKI/AKB. “Ini adalah langkah yang tepat dengan menghadirkan berbagai elemen. Karena yang kami hadirkan adalah orang-orang yang memang berkompeten di bidangnya,” ujar perempuan yang kerap disapa Ita tersebut.

Ada lima sektor yang menjadi bahan identifikasi penyebab AKI/AKB. Mulai dari aspek sistem rujukan, akses pembiayaan, kualitas pelayanan, akses pelayanan, dan sosial budaya. Kesimpulannya, masing-masing aspek saling memengaruhi. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan oleh pemerintah tidak bisa parsial. Harus menyeluruh, baik aspek medis maupun nonmedis.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Jember butuh perhatian serius dari pemerintah daerah. Bahkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat menyinggung hal itu saat berkunjung ke Jember, Selasa (2/3) lalu. Dia meminta agar Pemkab Jember tak bekerja sendiri, tapi juga merangkul semua pihak. Mulai dari akademisi, masyarakat, sektor privat atau pengusaha, serta media massa.

Melibatkan banyak pemangku kepentingan, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember merancang langkah dalam mencari akar masalah tingginya AKI-AKB tersebut. Ternyata, akar masalahnya cukup kompleks. Tak hanya soal akses dan pelayanan kesehatan, tapi juga akses pembiayaan serta masalah sosial budaya. Semua itu saling terkait dalam menyumbang tingginya kasus AKI-AKB di Jember.

Selanjutnya, melalui workshop yang mengangkat isu kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) itu, GPP Jember yang melibatkan Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AKB), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perwakilan puskesmas, dan organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan media tersebut, berupaya merumuskan langkah konkret tentang apa yang harus dilakukan. Rumusan itu bakal menjadi rekomendasi dan bahan masukan bagi para pemangku kebijakan di Jember.

Puspita, Koordinator Lapangan Madani, yang menjadi fasilitator diskusi itu, menyampaikan bahwa sinergisitas dari berbagai pihak sangatlah membantu dalam mencari akar masalah serta solusi AKI/AKB. “Ini adalah langkah yang tepat dengan menghadirkan berbagai elemen. Karena yang kami hadirkan adalah orang-orang yang memang berkompeten di bidangnya,” ujar perempuan yang kerap disapa Ita tersebut.

Ada lima sektor yang menjadi bahan identifikasi penyebab AKI/AKB. Mulai dari aspek sistem rujukan, akses pembiayaan, kualitas pelayanan, akses pelayanan, dan sosial budaya. Kesimpulannya, masing-masing aspek saling memengaruhi. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan oleh pemerintah tidak bisa parsial. Harus menyeluruh, baik aspek medis maupun nonmedis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Jember butuh perhatian serius dari pemerintah daerah. Bahkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat menyinggung hal itu saat berkunjung ke Jember, Selasa (2/3) lalu. Dia meminta agar Pemkab Jember tak bekerja sendiri, tapi juga merangkul semua pihak. Mulai dari akademisi, masyarakat, sektor privat atau pengusaha, serta media massa.

Melibatkan banyak pemangku kepentingan, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember merancang langkah dalam mencari akar masalah tingginya AKI-AKB tersebut. Ternyata, akar masalahnya cukup kompleks. Tak hanya soal akses dan pelayanan kesehatan, tapi juga akses pembiayaan serta masalah sosial budaya. Semua itu saling terkait dalam menyumbang tingginya kasus AKI-AKB di Jember.

Selanjutnya, melalui workshop yang mengangkat isu kesehatan ibu dan bayi baru lahir (KIBBL) itu, GPP Jember yang melibatkan Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AKB), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perwakilan puskesmas, dan organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan media tersebut, berupaya merumuskan langkah konkret tentang apa yang harus dilakukan. Rumusan itu bakal menjadi rekomendasi dan bahan masukan bagi para pemangku kebijakan di Jember.

Puspita, Koordinator Lapangan Madani, yang menjadi fasilitator diskusi itu, menyampaikan bahwa sinergisitas dari berbagai pihak sangatlah membantu dalam mencari akar masalah serta solusi AKI/AKB. “Ini adalah langkah yang tepat dengan menghadirkan berbagai elemen. Karena yang kami hadirkan adalah orang-orang yang memang berkompeten di bidangnya,” ujar perempuan yang kerap disapa Ita tersebut.

Ada lima sektor yang menjadi bahan identifikasi penyebab AKI/AKB. Mulai dari aspek sistem rujukan, akses pembiayaan, kualitas pelayanan, akses pelayanan, dan sosial budaya. Kesimpulannya, masing-masing aspek saling memengaruhi. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan oleh pemerintah tidak bisa parsial. Harus menyeluruh, baik aspek medis maupun nonmedis.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/