alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Kasus AKI/AKB di Jember Bikin Ngeri, Ini Ternyata Penyebabnya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) terus meningkat di Kabupaten Jember. Data yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika berkunjung ke Jember, tahun 2020 Jember menempati peringkat pertama se-Jawa Timur dalam masalah AKI dan AKB. Masing-masing tercatat sebanyak 61 dan 324 kasus.

Oleh sebab itu, Gubernur Khofifah meminta kepada Bupati Jember Hendy Siswanto agar mencari solusi melalui pendekatan pentahelix approach. Langkah ini guna menekan jumlah AKI dan AKB di kabupaten setempat.

“Sinergitas, kolaborasi, partnership. Itu terutama dengan pentahelix approach. Ada pemerintah, kampus, media, private sektor, masyarakat. Ini harus nyekrup semuanya,” pintanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, aktivis pengamat isu perempuan Yamini mengatakan, terjadinya kasus AKI dan AKB tak hanya terjadi saat proses melahirkan. Sebagian dari mereka ada yang meninggal saat dalam masa nifas. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan perawatan saat nifas dan pengetahuan dalam menjaga kesehatan bayi.

Menurut Yamini, terkadang ibu yang melahirkan itu masih muda, sehingga tidak tahu cara merawat diri saat nifas. Kalaupun mau konsultasi ke dokter atau bidan, pasti mereka akan komunikasi dulu dengan keluarga. Sementara mau komunikasi dengan suaminya, ibu, atau mertua, mereka merasa sungkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) terus meningkat di Kabupaten Jember. Data yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika berkunjung ke Jember, tahun 2020 Jember menempati peringkat pertama se-Jawa Timur dalam masalah AKI dan AKB. Masing-masing tercatat sebanyak 61 dan 324 kasus.

Oleh sebab itu, Gubernur Khofifah meminta kepada Bupati Jember Hendy Siswanto agar mencari solusi melalui pendekatan pentahelix approach. Langkah ini guna menekan jumlah AKI dan AKB di kabupaten setempat.

“Sinergitas, kolaborasi, partnership. Itu terutama dengan pentahelix approach. Ada pemerintah, kampus, media, private sektor, masyarakat. Ini harus nyekrup semuanya,” pintanya.

Sementara itu, aktivis pengamat isu perempuan Yamini mengatakan, terjadinya kasus AKI dan AKB tak hanya terjadi saat proses melahirkan. Sebagian dari mereka ada yang meninggal saat dalam masa nifas. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan perawatan saat nifas dan pengetahuan dalam menjaga kesehatan bayi.

Menurut Yamini, terkadang ibu yang melahirkan itu masih muda, sehingga tidak tahu cara merawat diri saat nifas. Kalaupun mau konsultasi ke dokter atau bidan, pasti mereka akan komunikasi dulu dengan keluarga. Sementara mau komunikasi dengan suaminya, ibu, atau mertua, mereka merasa sungkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) terus meningkat di Kabupaten Jember. Data yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika berkunjung ke Jember, tahun 2020 Jember menempati peringkat pertama se-Jawa Timur dalam masalah AKI dan AKB. Masing-masing tercatat sebanyak 61 dan 324 kasus.

Oleh sebab itu, Gubernur Khofifah meminta kepada Bupati Jember Hendy Siswanto agar mencari solusi melalui pendekatan pentahelix approach. Langkah ini guna menekan jumlah AKI dan AKB di kabupaten setempat.

“Sinergitas, kolaborasi, partnership. Itu terutama dengan pentahelix approach. Ada pemerintah, kampus, media, private sektor, masyarakat. Ini harus nyekrup semuanya,” pintanya.

Sementara itu, aktivis pengamat isu perempuan Yamini mengatakan, terjadinya kasus AKI dan AKB tak hanya terjadi saat proses melahirkan. Sebagian dari mereka ada yang meninggal saat dalam masa nifas. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan perawatan saat nifas dan pengetahuan dalam menjaga kesehatan bayi.

Menurut Yamini, terkadang ibu yang melahirkan itu masih muda, sehingga tidak tahu cara merawat diri saat nifas. Kalaupun mau konsultasi ke dokter atau bidan, pasti mereka akan komunikasi dulu dengan keluarga. Sementara mau komunikasi dengan suaminya, ibu, atau mertua, mereka merasa sungkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/