Pengelolaan Limbah Medis Libatkan Pihak Ketiga

JEMBER, RADARJEMBER.ID – ADANYA peningkatan penggunaan masker secara tak langsung juga memicu peningkatan jumlah limbah medis. Terlebih, masker juga digolongkan dalam jenis limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Oleh karenanya, dalam penanganannya perlu ada perlakuan khusus seperti yang dilakukan oleh rumah sakit atau puskesmas.

Selama ini, rumah sakit maupun puskesmas jelas menjadi penyumbang limbah medis yang cukup besar. Sebab, setiap hari terus melakukan penanganan pasien, termasuk pasien Covid-19. “Limbah-limbah itu memang ada, tapi kami ada penampungannya. Dari penampungan itu kemudian dibawa ke kota oleh petugas khusus,” kata Samik, petugas gudang dan kebersihan di Puskesmas Wuluhan.

Meski intensitas puskesmas menghasilkan limbah itu makin kerap saat Covid-19 ini, namun hal tersebut diakuinya sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai penyedia layanan kesehatan di masyarakat. “Puskesmas tentu paham, sampah itu biasanya ada B3-nya. Karena itu, tidak mungkin sembarangan dibuang,” imbuhnya.

Sementara itu, pihak rumah sakit rujukan Covid-19 mengaku telah memiliki langkah tersendiri dalam memberlakukan limbah-limbah tersebut. “Kalau kami, semua jenis limbah padat maupun B3 diolah menggunakan insinerator, di belakang rumah sakit,” kata dr Hendro Soelistijono, Direktur RSD dr Soebandi.

Selama proses pengolahan itu, insinerator menghasilkan limbah lagi berupa debu. Lalu, dimaksudkan ke sebuah wadah khusus penampungan sementara untuk kemudian dibawa lagi.