alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Belum Satu Tahun Disapih dari ASI, Stunting Ancam Anak-Anak

Air susu ibu (ASI) merupakan asupan makanan paling bergizi bagi bayi hingga disapih. Secara normal, anak-anak menyusu pada sang ibu rata-rata sampai usia dua tahun. Namun, dalam praktiknya, ada yang belum setahun telah disapih. Lantas, adakah kaitan dengan kasus stunting. Bagaimana nasib anak dan apa makanan pengganti terbaik?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan angka stunting di Jember menunjukkan perbaikan. Ada penurunan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, dalam melakukan pencegahan dan penanganan kasus-kasus stunting, dibutuhkan proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

BACA JUGA : Kecelakaan Kereta Api Dengan Odong-odong, Sembilan Orang Tewas

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, stunting di Jember terjadi karena banyak faktor. Mulai dari ibu yang menyusui bayi tak sampai dua tahun, makanan pengganti pasca-disapih dari ASI yang kurang tepat, hingga persoalan ekonomi. Ada pula seorang ibu yang menyapih anaknya karena urusan kerja serta sejumlah penyebab lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam berbagai kasus itu, pencegahan dan penanganan membutuhkan langkah-langkah yang berbeda. Misalnya, untuk mencegah kasus stunting di kalangan orang kaya akan sangat berbeda dengan mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Terkadang, ada anak orang yang stunting, namun karena malu, akhirnya sulit teratasi. Padahal, semakin kondisi itu dibuka, maka penanganan akan lebih mudah.

Saat ini, sekali pun kasus anak stunting menurun, namun masih ada pada angka yang signifikan (baca grafis persentase). Kasus stunting biasanya ditandai tinggi dan berat badan anak yang pertumbuhannya di bawah rata-rata. Pertumbuhan anak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan bersama.

Salah satu kasus stunting yang kini dalam penanganan terjadi di Desa Jubung. Novita, seorang ibu berusia 30 tahun, mengaku, putranya, Adzril Rafiq Syahputra, sudah berusia tiga tahun dan sempat mengalami stunting. Tubuh anaknya kurus dan kecil. Karenanya, keluarganya mendapat pendampingan.

Novita menyebut, putranya disapih pada usia 9 bulan. Selepas itu, anaknya mengonsumsi beberapa bahan pangan, termasuk susu yang dijual di toko-toko.  “Selepas minum ASI, anak saya suka minum yang manis-manis. Seperti teh, susu biasa, jamu, bahkan kopi gelasan,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan angka stunting di Jember menunjukkan perbaikan. Ada penurunan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, dalam melakukan pencegahan dan penanganan kasus-kasus stunting, dibutuhkan proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

BACA JUGA : Kecelakaan Kereta Api Dengan Odong-odong, Sembilan Orang Tewas

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, stunting di Jember terjadi karena banyak faktor. Mulai dari ibu yang menyusui bayi tak sampai dua tahun, makanan pengganti pasca-disapih dari ASI yang kurang tepat, hingga persoalan ekonomi. Ada pula seorang ibu yang menyapih anaknya karena urusan kerja serta sejumlah penyebab lain.

Dalam berbagai kasus itu, pencegahan dan penanganan membutuhkan langkah-langkah yang berbeda. Misalnya, untuk mencegah kasus stunting di kalangan orang kaya akan sangat berbeda dengan mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Terkadang, ada anak orang yang stunting, namun karena malu, akhirnya sulit teratasi. Padahal, semakin kondisi itu dibuka, maka penanganan akan lebih mudah.

Saat ini, sekali pun kasus anak stunting menurun, namun masih ada pada angka yang signifikan (baca grafis persentase). Kasus stunting biasanya ditandai tinggi dan berat badan anak yang pertumbuhannya di bawah rata-rata. Pertumbuhan anak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan bersama.

Salah satu kasus stunting yang kini dalam penanganan terjadi di Desa Jubung. Novita, seorang ibu berusia 30 tahun, mengaku, putranya, Adzril Rafiq Syahputra, sudah berusia tiga tahun dan sempat mengalami stunting. Tubuh anaknya kurus dan kecil. Karenanya, keluarganya mendapat pendampingan.

Novita menyebut, putranya disapih pada usia 9 bulan. Selepas itu, anaknya mengonsumsi beberapa bahan pangan, termasuk susu yang dijual di toko-toko.  “Selepas minum ASI, anak saya suka minum yang manis-manis. Seperti teh, susu biasa, jamu, bahkan kopi gelasan,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan angka stunting di Jember menunjukkan perbaikan. Ada penurunan dari tahun ke tahun. Akan tetapi, dalam melakukan pencegahan dan penanganan kasus-kasus stunting, dibutuhkan proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

BACA JUGA : Kecelakaan Kereta Api Dengan Odong-odong, Sembilan Orang Tewas

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, stunting di Jember terjadi karena banyak faktor. Mulai dari ibu yang menyusui bayi tak sampai dua tahun, makanan pengganti pasca-disapih dari ASI yang kurang tepat, hingga persoalan ekonomi. Ada pula seorang ibu yang menyapih anaknya karena urusan kerja serta sejumlah penyebab lain.

Dalam berbagai kasus itu, pencegahan dan penanganan membutuhkan langkah-langkah yang berbeda. Misalnya, untuk mencegah kasus stunting di kalangan orang kaya akan sangat berbeda dengan mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Terkadang, ada anak orang yang stunting, namun karena malu, akhirnya sulit teratasi. Padahal, semakin kondisi itu dibuka, maka penanganan akan lebih mudah.

Saat ini, sekali pun kasus anak stunting menurun, namun masih ada pada angka yang signifikan (baca grafis persentase). Kasus stunting biasanya ditandai tinggi dan berat badan anak yang pertumbuhannya di bawah rata-rata. Pertumbuhan anak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan bersama.

Salah satu kasus stunting yang kini dalam penanganan terjadi di Desa Jubung. Novita, seorang ibu berusia 30 tahun, mengaku, putranya, Adzril Rafiq Syahputra, sudah berusia tiga tahun dan sempat mengalami stunting. Tubuh anaknya kurus dan kecil. Karenanya, keluarganya mendapat pendampingan.

Novita menyebut, putranya disapih pada usia 9 bulan. Selepas itu, anaknya mengonsumsi beberapa bahan pangan, termasuk susu yang dijual di toko-toko.  “Selepas minum ASI, anak saya suka minum yang manis-manis. Seperti teh, susu biasa, jamu, bahkan kopi gelasan,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/