alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Intinya, Patuhi Prokes

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebab, dia menilai, pembelajaran daring selama ini dirasa kurang maksimal, karena kualitas orang tua beraneka ragam. Terlebih, tidak semua orang tua itu berpendidikan. Jadi, mereka susah membimbing anaknya ketika belajar di rumah. Belum lagi, masalah lain yang timbul seperti ketersediaan handphone, paket data. “Atau masalah psikis yang muncul pada anak karena terlalu sering bermain ponsel,” papar Guru Besar Sosiologi Prodi Magister Pendidikan Ilmu Sosial Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Namun, jika pembelajaran masih tetap berlangsung daring, maka Dekan FKIP Unej itu menyarankan agar pemerintah merumuskan kebijakan baru terkait dengan penuntasan kompetensi belajar siswa. Sebab, sebelum pandemi berlangsung, guru bisa menuntaskan kompetensi siswa seusai kurikulum yang ada. Namun, selama pembelajaran daring, guru susah menuntaskan materi ajar karena terbatasnya ruang dan waktu. Sehingga pembelajaran yang dilakukan sebatas formalitas.

Pemerintah juga wajib membuat evaluasi sekaligus inovasi pembelajaran. Misalnya, dengan memberikan pemahaman kepada setiap wali murid tentang bagaimana caranya mengajar atau pedagogik. Kenapa perlu diajarkan pedagogik? Sebab, kata dia, peserta didik memiliki waktu yang terbatas saat mengikuti pembelajaran daring tersebut. “Oleh karenanya, orang tua yang harus mengambil peran,” urai warga Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kombinasi antara guru dan orang tua itu diharapkan mampu mendongkrak kompetensi belajar siswa. Sebab, menurut dia, pembelajaran di tingkat sekolah dasar hingga menengah sangat perlu keterlibatan orang tua. Kondisi ini berbeda dengan level perguruan tinggi. “Orang tua harus tahu metode mendidik anak dengan cara dan suasana yang menarik, serta menyenangkan,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer :
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Sebab, dia menilai, pembelajaran daring selama ini dirasa kurang maksimal, karena kualitas orang tua beraneka ragam. Terlebih, tidak semua orang tua itu berpendidikan. Jadi, mereka susah membimbing anaknya ketika belajar di rumah. Belum lagi, masalah lain yang timbul seperti ketersediaan handphone, paket data. “Atau masalah psikis yang muncul pada anak karena terlalu sering bermain ponsel,” papar Guru Besar Sosiologi Prodi Magister Pendidikan Ilmu Sosial Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Namun, jika pembelajaran masih tetap berlangsung daring, maka Dekan FKIP Unej itu menyarankan agar pemerintah merumuskan kebijakan baru terkait dengan penuntasan kompetensi belajar siswa. Sebab, sebelum pandemi berlangsung, guru bisa menuntaskan kompetensi siswa seusai kurikulum yang ada. Namun, selama pembelajaran daring, guru susah menuntaskan materi ajar karena terbatasnya ruang dan waktu. Sehingga pembelajaran yang dilakukan sebatas formalitas.

Pemerintah juga wajib membuat evaluasi sekaligus inovasi pembelajaran. Misalnya, dengan memberikan pemahaman kepada setiap wali murid tentang bagaimana caranya mengajar atau pedagogik. Kenapa perlu diajarkan pedagogik? Sebab, kata dia, peserta didik memiliki waktu yang terbatas saat mengikuti pembelajaran daring tersebut. “Oleh karenanya, orang tua yang harus mengambil peran,” urai warga Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, ini.

Kombinasi antara guru dan orang tua itu diharapkan mampu mendongkrak kompetensi belajar siswa. Sebab, menurut dia, pembelajaran di tingkat sekolah dasar hingga menengah sangat perlu keterlibatan orang tua. Kondisi ini berbeda dengan level perguruan tinggi. “Orang tua harus tahu metode mendidik anak dengan cara dan suasana yang menarik, serta menyenangkan,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer :
Redaktur : Mahrus Sholih

Sebab, dia menilai, pembelajaran daring selama ini dirasa kurang maksimal, karena kualitas orang tua beraneka ragam. Terlebih, tidak semua orang tua itu berpendidikan. Jadi, mereka susah membimbing anaknya ketika belajar di rumah. Belum lagi, masalah lain yang timbul seperti ketersediaan handphone, paket data. “Atau masalah psikis yang muncul pada anak karena terlalu sering bermain ponsel,” papar Guru Besar Sosiologi Prodi Magister Pendidikan Ilmu Sosial Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Namun, jika pembelajaran masih tetap berlangsung daring, maka Dekan FKIP Unej itu menyarankan agar pemerintah merumuskan kebijakan baru terkait dengan penuntasan kompetensi belajar siswa. Sebab, sebelum pandemi berlangsung, guru bisa menuntaskan kompetensi siswa seusai kurikulum yang ada. Namun, selama pembelajaran daring, guru susah menuntaskan materi ajar karena terbatasnya ruang dan waktu. Sehingga pembelajaran yang dilakukan sebatas formalitas.

Pemerintah juga wajib membuat evaluasi sekaligus inovasi pembelajaran. Misalnya, dengan memberikan pemahaman kepada setiap wali murid tentang bagaimana caranya mengajar atau pedagogik. Kenapa perlu diajarkan pedagogik? Sebab, kata dia, peserta didik memiliki waktu yang terbatas saat mengikuti pembelajaran daring tersebut. “Oleh karenanya, orang tua yang harus mengambil peran,” urai warga Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, ini.

Kombinasi antara guru dan orang tua itu diharapkan mampu mendongkrak kompetensi belajar siswa. Sebab, menurut dia, pembelajaran di tingkat sekolah dasar hingga menengah sangat perlu keterlibatan orang tua. Kondisi ini berbeda dengan level perguruan tinggi. “Orang tua harus tahu metode mendidik anak dengan cara dan suasana yang menarik, serta menyenangkan,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer :
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/