alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Intinya, Patuhi Prokes

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir setahun berselang, proses pembelajaran di sekolah masih berlangsung daring. Argumentasi pemerintah, langkah ini untuk menekan laju penularan Covid-19. Pemerintah tidak ingin muncul klaster sekolah hingga mengancam kesehatan dan keselamatan peserta didik. Namun sejatinya, mungkin atau tidak pembelajaran tatap muka dilangsungkan di tengah pandemi ini. Syarat apa yang harus disiapkan pemerintah?

Dokter spesialis paru di RSD dr Soebandi Jember, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, pemerintah wajib menyediakan sarana penunjang protokol kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah jika mulai menggelar pembelajaran tatap muka. “Harus ada alat cuci tangan di depan kelas. Mereka wajib mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki kelas,” paparnya.

Fasilitas cek suhu sebelum masuk kelas juga harus tersedia. Guru bisa bertugas menjadi juru pengecek suhu. Kalau ada siswa dengan suhu tinggi, dia menyarankan agar dilakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, pihak sekolah juga wajib menyediakan hand sanitizer di dalam ruangan. “Tak tertutup kemungkinan, ada aktivitas di dalam kelas. Hand sanitizer berfungsi untuk menjaga tangan para peserta didik supaya tetap bersih setelah beraktivitas di dalam kelas,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak kalah penting, dokter yang menangani pasien Covid-19 ini menambahkan, ada pembatasan jumlah peserta didik di masing-masing ruang kelas. Setidaknya, jarak antarkursi tak boleh berdekatan. “Selain itu, sudah tak bisa lagi satu bangku diisi dua siswa. Harus satu siswa,” terangnya.

Semua warga di sekolah juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan face shield. Seyogianya, sekolah menyediakan APD itu untuk diberikan kepada para peserta didik yang tidak membawa masker cadangan. Mengingat, maksimal penggunaan masker adalah empat jam. “Selebihnya, malah bisa jadi sarang kuman, bakteri, bahkan virus,” paparnya.

Terakhir, sekolah juga harus rutin menyemprotkan cairan disinfektan. Setelah pembelajaran usai, kelas harus steril. Penyemprotan disinfektan dilakukan secara merata. Selain itu, dia mengimbau, sekolah tidak menggunakan ruangan ber-AC. Sebab, AC bekerja dengan cara menyerap udara dalam ruangan, mengolahnya hingga dingin, lalu mengeluarkannya lagi di ruangan yang sama. “Hal itu membuat perputaran udara menjadi kurang sehat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr Angga menerangkan, masa belajar juga perlu diperhatikan. Karena masih pandemi, dia menganjurkan agar durasi dan jumlah siswa dibatasi. Misalnya, dengan menerapkan sistem ganjil genap. “Siswa dengan absen ganjil masuk pada hari ini, sedangkan siswa dengan absen genap masuk keesokannya. Sementara untuk jam belajar, hanya beberapa jam saja,” sarannya.

Terpisah, ahli pendidikan Universitas Jember (Unej), Prof Bambang Seopeno, mewanti-wanti agar Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan merancang program pembelajaran tatap muka tersebut secara matang. Dua dinas ini harus berbagi tugas. Misalnya, Dinkes menyiapkan sarana prokes, sedangkan Dispendik melakukan evaluasi dan inovasi menyongsong pembelajaran tatap muka.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir setahun berselang, proses pembelajaran di sekolah masih berlangsung daring. Argumentasi pemerintah, langkah ini untuk menekan laju penularan Covid-19. Pemerintah tidak ingin muncul klaster sekolah hingga mengancam kesehatan dan keselamatan peserta didik. Namun sejatinya, mungkin atau tidak pembelajaran tatap muka dilangsungkan di tengah pandemi ini. Syarat apa yang harus disiapkan pemerintah?

Dokter spesialis paru di RSD dr Soebandi Jember, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, pemerintah wajib menyediakan sarana penunjang protokol kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah jika mulai menggelar pembelajaran tatap muka. “Harus ada alat cuci tangan di depan kelas. Mereka wajib mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki kelas,” paparnya.

Fasilitas cek suhu sebelum masuk kelas juga harus tersedia. Guru bisa bertugas menjadi juru pengecek suhu. Kalau ada siswa dengan suhu tinggi, dia menyarankan agar dilakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, pihak sekolah juga wajib menyediakan hand sanitizer di dalam ruangan. “Tak tertutup kemungkinan, ada aktivitas di dalam kelas. Hand sanitizer berfungsi untuk menjaga tangan para peserta didik supaya tetap bersih setelah beraktivitas di dalam kelas,” jelasnya.

Tak kalah penting, dokter yang menangani pasien Covid-19 ini menambahkan, ada pembatasan jumlah peserta didik di masing-masing ruang kelas. Setidaknya, jarak antarkursi tak boleh berdekatan. “Selain itu, sudah tak bisa lagi satu bangku diisi dua siswa. Harus satu siswa,” terangnya.

Semua warga di sekolah juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan face shield. Seyogianya, sekolah menyediakan APD itu untuk diberikan kepada para peserta didik yang tidak membawa masker cadangan. Mengingat, maksimal penggunaan masker adalah empat jam. “Selebihnya, malah bisa jadi sarang kuman, bakteri, bahkan virus,” paparnya.

Terakhir, sekolah juga harus rutin menyemprotkan cairan disinfektan. Setelah pembelajaran usai, kelas harus steril. Penyemprotan disinfektan dilakukan secara merata. Selain itu, dia mengimbau, sekolah tidak menggunakan ruangan ber-AC. Sebab, AC bekerja dengan cara menyerap udara dalam ruangan, mengolahnya hingga dingin, lalu mengeluarkannya lagi di ruangan yang sama. “Hal itu membuat perputaran udara menjadi kurang sehat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr Angga menerangkan, masa belajar juga perlu diperhatikan. Karena masih pandemi, dia menganjurkan agar durasi dan jumlah siswa dibatasi. Misalnya, dengan menerapkan sistem ganjil genap. “Siswa dengan absen ganjil masuk pada hari ini, sedangkan siswa dengan absen genap masuk keesokannya. Sementara untuk jam belajar, hanya beberapa jam saja,” sarannya.

Terpisah, ahli pendidikan Universitas Jember (Unej), Prof Bambang Seopeno, mewanti-wanti agar Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan merancang program pembelajaran tatap muka tersebut secara matang. Dua dinas ini harus berbagi tugas. Misalnya, Dinkes menyiapkan sarana prokes, sedangkan Dispendik melakukan evaluasi dan inovasi menyongsong pembelajaran tatap muka.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hampir setahun berselang, proses pembelajaran di sekolah masih berlangsung daring. Argumentasi pemerintah, langkah ini untuk menekan laju penularan Covid-19. Pemerintah tidak ingin muncul klaster sekolah hingga mengancam kesehatan dan keselamatan peserta didik. Namun sejatinya, mungkin atau tidak pembelajaran tatap muka dilangsungkan di tengah pandemi ini. Syarat apa yang harus disiapkan pemerintah?

Dokter spesialis paru di RSD dr Soebandi Jember, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, pemerintah wajib menyediakan sarana penunjang protokol kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah jika mulai menggelar pembelajaran tatap muka. “Harus ada alat cuci tangan di depan kelas. Mereka wajib mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memasuki kelas,” paparnya.

Fasilitas cek suhu sebelum masuk kelas juga harus tersedia. Guru bisa bertugas menjadi juru pengecek suhu. Kalau ada siswa dengan suhu tinggi, dia menyarankan agar dilakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, pihak sekolah juga wajib menyediakan hand sanitizer di dalam ruangan. “Tak tertutup kemungkinan, ada aktivitas di dalam kelas. Hand sanitizer berfungsi untuk menjaga tangan para peserta didik supaya tetap bersih setelah beraktivitas di dalam kelas,” jelasnya.

Tak kalah penting, dokter yang menangani pasien Covid-19 ini menambahkan, ada pembatasan jumlah peserta didik di masing-masing ruang kelas. Setidaknya, jarak antarkursi tak boleh berdekatan. “Selain itu, sudah tak bisa lagi satu bangku diisi dua siswa. Harus satu siswa,” terangnya.

Semua warga di sekolah juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan face shield. Seyogianya, sekolah menyediakan APD itu untuk diberikan kepada para peserta didik yang tidak membawa masker cadangan. Mengingat, maksimal penggunaan masker adalah empat jam. “Selebihnya, malah bisa jadi sarang kuman, bakteri, bahkan virus,” paparnya.

Terakhir, sekolah juga harus rutin menyemprotkan cairan disinfektan. Setelah pembelajaran usai, kelas harus steril. Penyemprotan disinfektan dilakukan secara merata. Selain itu, dia mengimbau, sekolah tidak menggunakan ruangan ber-AC. Sebab, AC bekerja dengan cara menyerap udara dalam ruangan, mengolahnya hingga dingin, lalu mengeluarkannya lagi di ruangan yang sama. “Hal itu membuat perputaran udara menjadi kurang sehat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr Angga menerangkan, masa belajar juga perlu diperhatikan. Karena masih pandemi, dia menganjurkan agar durasi dan jumlah siswa dibatasi. Misalnya, dengan menerapkan sistem ganjil genap. “Siswa dengan absen ganjil masuk pada hari ini, sedangkan siswa dengan absen genap masuk keesokannya. Sementara untuk jam belajar, hanya beberapa jam saja,” sarannya.

Terpisah, ahli pendidikan Universitas Jember (Unej), Prof Bambang Seopeno, mewanti-wanti agar Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan merancang program pembelajaran tatap muka tersebut secara matang. Dua dinas ini harus berbagi tugas. Misalnya, Dinkes menyiapkan sarana prokes, sedangkan Dispendik melakukan evaluasi dan inovasi menyongsong pembelajaran tatap muka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/