PAKIS , Radar Jember - Intensitas curah hujan terus terjadi di wilayah Kecamatan Panti. Sehingga proses normalisasi atau pemasangan bronjong di sungai Petung pun akhirnya terganggu.
Hampir sepekan lalu, Dinas PU BMSDA Provinsi melakukan normalisasi dengan memasang bronjong dibagian hulu sungai baru (sungai Petung).
Karena sejak terjadi banjir bandang pada akhir bulan Januari 2022 lalu, sungai Petung menjadi dua. Dengan adanta sungai baru dibagian sisi timur tersebut warga yang ada di Dusun Pertelon RT.007/RW.002, Desa Pakis, Kecamatan Panti menjadi korban.
Bebearapa minggu terakhir di bulan februari sudah terjadi dua kali banjir bandang. Hingga ada korban jiwa, warga setempat akibat terseret arus sungai petung.
Bahkan ada dua rumah rusak dan dua rumah kerap jadi langganan banjir. Dengan seringnya terjadi banjir, warga yang sering terdampak meminta kepada dinas terkait untuk mengembalikan sungai keasalnya.
Sehingga melalui kesepakatan yang dihadiri Camat, Kepala Desa, serta dari Dinas PU BMSDA Provinsi dan BMSDA Jember sepakat bila arus sungai baru dialihkan kesemula. Sehingga dengan kesepakatan itu akhirnya bagian hulu sungai baru untuk dilakukan pengalihan. Dengan dipasang bronjong dibagian aliran sungai baru.
Namun, ketika proses normalisasi dengan dipasangnya bronjong terkendala dengan cuaca. Saat proses normalisasi mulai berjalan hujan hampir setiap hari.
Sehingga bila sudah hujan, alat berat tidak berani turun karena sungai menjadi banjir. Ketika saat alat berat mulai bekerja, bila sudah mendung maka alat berat harus naik ketempat aman.
“Sehingga pemasangan bronjong yang rencana awal panjang 80 meter kebagian hulu terkendala,” kata Mistiyono, 54, warga setempat.
“Karena untuk memasang ratusan bronjong dibagian hulu untuk menutup arus air sungai, saluran harus ditutup dulu. Karena ratusan bronjong itu bagian bawahnya harus digali,” imbuh Mistiyono.
Untuk pemasangan bronjong menggunakan alat berat dibantu tenaga manusia. Awal bulan Puasa sudah mulai dilakukan, tetapi beberapa kali alat berat mengalami kerusakan.
“Sehingga pemasangan bronjong ini selain cuaca alam yakni alat berat juga sering rusak. Sebelumnya alat berat rusak hingga butuh waktu lama. Ketika alat berat rusak, maka saat masang bronjong saat menggunakan tenaga orang saja,” beber dia.
“Karena dengan ada bronjong dibagian hulu sungai kembar itu warga bisa tenang. Sehingga aliran sungai sudah kembali keasalnya,” pungkasnya.(jum/bud).
Editor : M. Ainul Budi