SEMPUSARI, Radar Jember – Bagi pengguna jalan yang melintas di Jalan Hayam Wuruk, khususnya dari arah barat ke timur, sebaiknya siapkan nyali dan kesabaran ekstra. Sebab setiap sore, jalan ini berubah fungsi: dari jalur dua arah, bisa menjadi tiga jalur. Sebab, jalur ketiga adalah mereka-mereka yang melawan arus.
Fenomenanya bukan baru kemarin sore. Saat jam pulang kerja karyawan gudang di dekat t SMAN 4 Jember, iring-iringan penjemput sudah standby sejak sebelum pukul 15.00. Setia menunggu, memang. Sayangnya, kesetiaan itu tak dibarengi ketaatan.
Begitu pasangan keluar dari gudang, rombongan motor ini langsung tancap gas. Bukan mengikuti arus, melainkan menantangnya. Melawan arus jadi pilihan, seolah rambu lalu lintas hanya pajangan.
Yang lebih menggelitik, aksi ini dilakukan berjamaah. Satu melawan arus, yang lain ikut-ikutan. Mungkin pikirnya, kalau ramai-ramai pasti aman. Padahal yang ramai justru potensi celakanya.
Mayoritas pelanggar diketahui hendak pulang ke Sukorambi atau Dukuhmencek. Daripada memutar lewat depan Kantor Kecamatan Kaliwates yang dianggap “terlalu jauh”, mereka memilih potong kompas. Caranya? Melipir di sisi utara jalan double way, dari depan gudang hingga ke arah Jalan Lumba-Lumba.
Praktis memang. Cepat iya. Tapi aman? Belum tentu.
“Kalau pas jam pulang kerja gudang itu paling rawan. Pengendara dari barat sering kaget karena tiba-tiba ada motor dari depan,” ujar Suwono, warga Ajung.
Ironisnya, lokasi ini tak jauh dari Mapolsek Kaliwates. Pelanggaran terjadi terang-terangan, nyaris setiap hari, namun seperti menjadi pemandangan biasa. Seolah-olah melawan arus sudah masuk kategori kearifan lokal.
Pertanyaannya sederhana: kalau nanti benar-benar terjadi kecelakaan, siapa yang disalahkan? Pengendara yang melanggar? Atau pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun? (jum/dwi)
Editor : M. Ainul Budi