Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Hukum Pasar atau Permainan? Pakar Unmuh Jember Ungkap Mengapa Harga Sembako Gampang 'Digoyang' Jelang Ramadan!

M Adhi Surya • Senin, 16 Februari 2026 | 05:00 WIB

 

“Begitu ada konsumsi massal, harga langsung melonjak. Artinya, rantai pasok kita belum stabil dan masih mudah terguncang.” Dr Haris Hermawan, Dosen FEB Unmuh Jember.
“Begitu ada konsumsi massal, harga langsung melonjak. Artinya, rantai pasok kita belum stabil dan masih mudah terguncang.” Dr Haris Hermawan, Dosen FEB Unmuh Jember.

Radar Jember - Setiap memasuki bulan puasa hingga mendekati Lebaran, harga bahan pokok seperti daging ayam, cabai, dan tomat hampir selalu merangkak naik.

Pola ini terjadi berulang dari tahun ke tahun. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas (FEB Unmuh) Muhammadiyah Jember, Dr Haris Hermawan, menilai kenaikan harga tersebut bukan sekadar gejala musiman biasa.

Menurutnya, momentum Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha hingga Maulid Nabi memang mendorong lonjakan konsumsi, tetapi persoalan utamanya ada pada sistem distribusi yang belum kokoh.

“Begitu ada konsumsi massal, harga langsung melonjak. Artinya, rantai pasok kita belum stabil dan masih mudah terguncang,” ujarnya.

Secara teori, hukum permintaan dan penawaran memang berlaku. Saat permintaan naik, harga cenderung ikut terkerek.

Namun, Haris menegaskan, kenaikan tidak seharusnya terlalu tinggi jika ketersediaan barang dan jalur distribusi berjalan lancar.

Persoalan muncul ketika stok tidak merata atau distribusi tersendat.Di lapangan, isu permainan tengkulak atau pedagang pasar sering mencuat setiap kali harga meroket.

Haris tidak menutup kemungkinan adanya spekulasi di level tertentu. Namun, ia mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyalahkan pedagang kecil.

“Kalau sistemnya transparan dan terpantau, ruang untuk permainan akan lebih sempit. Jadi problemnya bukan semata-mata di pasar,” tegasnya.

Ia memaparkan, rantai perdagangan bahan pokok di daerah masih relatif panjang. Dari petani atau peternak, komoditas berpindah ke pengepul, lalu distributor, sebelum akhirnya sampai ke lapak pedagang.

Setiap perpindahan memunculkan biaya dan margin. Ketika permintaan melonjak, kenaikan di setiap titik itu terakumulasi hingga terasa berat di tingkat konsumen.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah lebih aktif menjaga stabilitas harga, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Koordinasi dengan peternak dan petani perlu diperkuat, termasuk mendatangkan pasokan dari daerah yang surplus. Operasi pasar juga dinilai tetap relevan untuk meredam gejolak.

“Mekanisme pasar memang bekerja, tetapi pemerintah tetap harus hadir agar masyarakat tidak dirugikan,” katanya.

Selain langkah jangka pendek, Haris menilai daerah perlu memiliki cadangan pangan yang memadai dan dikelola serius. Dengan cadangan tersebut, intervensi bisa dilakukan lebih cepat sebelum harga terlanjur melambung.

Keterbukaan data stok dan distribusi juga penting agar isu kelangkaan tidak mudah memicu kepanikan.Ia berharap pembenahan tata niaga tidak hanya dilakukan secara insidental menjelang Ramadan atau Lebaran.

Tanpa perbaikan menyeluruh pada sistem distribusi dan pengawasan, kenaikan harga bahan pokok akan terus menjadi siklus tahunan yang membebani masyarakat kecil. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Idul Fitri #bahan pokok #Ramadan #Jember #Unmuh Jember #kenaikan harga