Radar Jember - Dulu di sebuah sudut Dusun Sumuran, Desa/Kecamatan Ajung, ada rumah yang atapnya ringkih.
Setelah bertahun-tahun berjibaku dan bertahan di tengah keterbatasan, kini kesabarannya berbuah manis.
Siang itu mentari di Desa Ajung terasa berbeda bagi Asmawati. Perempuan berusia 51 tahun ini berdiri di depan huniannya yang kini telah bersalin rupa.
Memorinya mendadak mundur ke masa-masa sulit, saat rumahnya masih berupa bangunan lusuh tanpa alas lantai yang layak.
Saat itu, tanah yang dingin adalah kawan setianya saat terlelap. Jika hujan datang menyapa, alih-alih memberikan kesejukan, ia justru membawa kecemasan.
Genting yang pecah di sana-sini membuat air hujan bebas menembus masuk. Membasahi setiap sudut ruangan yang mayoritas masih terbuat dari bambu dan kayu.
Kondisi itu membuat definisi "layak" adalah kemewahan yang sulit digapai oleh keluarga kecil di di Kecamata Ajung.
Bahkan saat angin kencang menerjang, bangunan itu seolah mengerang dan menebar ancaman akan ambruk sewaktu-waktu di saat penghuninya terlelap dalam lelah setelah seharian sang istri menjaga warung/toko dan si suami bekerja serabutan.
Namun, Sabtu siang, kala itu (13/9/2025) menjadi titik balik yang abadi dalam ingatan Asmawati.
Melalui program rehabilitasi Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) hasil sinergi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, TNI, dan Pemkab Jember, rumah yang dulunya tanpa alas keramik dan tanpa fasilitas MCK itu kini telah tegak berdiri dengan kokoh.
Tangis haru Asmawati pecah saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Jember Muhammad Fawait hadir langsung meresmikan hunian barunya.
"Saya bersyukur, dikasih bantuan renovasi rumah ini, terimakasih banyak," ucap Asmawati sambil menyeka air mata bahagianya.
Ia kembali mengenang betapa sulitnya hidup di bangunan lama.
"Sebelumnya kondisinya kalau hujan bocor di sana, di sini. Alas bukan keramik, langsung tanah. Tidak punya tempat untuk MCK juga. Jadi rumah ini sekarang ada ruang tamu, kamar, dan kamar mandi," kenangnya penuh haru.
Keluarga kecil ini menjadi salah satu dari tiga penerima manfaat program serupa, di lingkungan tersebut. Dan tidak ada kata-kata yang bisa terucap dari Asmawati selain terimakasih.
Ia berharap kondisi hunian yang lebih layak itu dapat memperbaiki taraf hidupnya.
"Saya tinggal sama suami dan seorang anak. Saya sehari-hari jaga warung, suami kerja serabutan," imbuh perempuan berkerudung itu.
Kini, Asmawati tak perlu lagi melirik langit dengan cemas saat hujan turun.
Rumah barunya bukan sekadar tembok dan semen, tapi wujud martabat dan rasa aman sebagai buah manis atas kesabarannya menghadapi nasib bertahun-tahun selama ini.
Kebahagiaan ini turut dirasakan oleh warga sekitar. Budi Hariyanto, salah seorang tetangga Asmawati, merasa lega melihat bantuan tersebut jatuh ke tangan yang benar-benar membutuhkan.
"Melihat kondisi rumah Bu Asmawati dulu, kami ikut khawatir. Sekarang alhamdulillah," pungkas Budi. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh