Radar Jember - Upaya penguatan kesiapsiagaan bencana di wilayah pesisir Jember terus dilakukan secara berkelanjutan.
Palang Merah Indonesia (PMI) Jember bersama masyarakat menyusun SOP dan Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana. Kegiatan ini menyasar desa-desa rawan bencana di Kecamatan Puger.
Tujuannya adalah mitigasi dan membangun ketangguhan warga sejak sebelum bencana terjadi.
Langkah ini dilakukan melalui pendampingan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Puger Wetan dan Puger Kulon.
Di Puger Wetan, penyusunan SOP dan rencana aksi PRB melibatkan 25 anggota SIBAT dengan dukungan PMI Jember dan Japanese Red Cross Society (JRCS).
Pendampingan ini memastikan desa memiliki panduan taktis yang jelas dalam kondisi darurat maupun upaya pencegahan sehari-hari.
“Penyusunan rencana aksi ini sangat vital agar saat terjadi bencana, relawan dan warga sudah tahu siapa melakukan apa dan lewat jalur mana,” ujar Sekretaris PMI Jember, Gufron Evyan Efendi.
Gufron menjelaskan, keterlibatan JRCS memberi nilai tambah karena menghadirkan pendekatan mitigasi bencana yang telah teruji secara internasional.
Jepang dan Indonesia dinilai memiliki kesamaan karakteristik kerawanan bencana.
Sehingga metode yang diterapkan relevan untuk konteks lokal.
Dalam proses penyusunan SOP, ada pembahasan mendalam mengenai pemetaan jalur evakuasi aman, penguatan sistem peringatan dini, hingga pembagian peran relawan.
Apalagi letak geografis Puger dinilai memiliki risiko tinggi sehingga kesiapan masyarakat tidak bisa ditunda.
“Kami ingin SOP ini menjadi instrumen penyelamat jiwa, bukan sekadar dokumen administratif,” tegasnya.
Sementara itu, di Desa Puger Kulon, PMI Jember menggelar workshop serupa dalam program School and Community Resilience (SCR).
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi agar masyarakat tidak melupakan sejarah kelam bencana.
Wakil Ketua PMI Jember, Aep Ganda Permana, mengingatkan tragedi banjir bandang Panti 2006 sebagai pelajaran berharga.
“Saat itu warga berlari tanpa arah dalam gelap dan hujan karena tidak ada kesiapan,” kenang Aep.
Pelatihan di Puger Kulon diikuti berbagai unsur, mulai dari SIBAT, guru, hingga relawan KSR Unej.
Fokus utama kegiatan meliputi penyusunan struktur organisasi tanggap darurat yang jelas serta simulasi penanganan bencana.
Koordinator Lapangan, Weni Catur, menekankan pentingnya mengulang materi dasar kebencanaan agar warga tidak gagap dalam situasi darurat.
“Materi harus terus diingat supaya respons masyarakat tetap sigap,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh