MOJOMULYO, Radar Jember – Warga yang mempunyai warung di pinggir pantai Cemara, Dusun Getem, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger mengaku resah.
Ini setelah puluhan warung semakin lama semakin habis, karena dihantam ombak tinggi.
Bahkan, banyak warga yang awalnya mempunyai mata pencaharian dengan berjualan di sekitar Pantai Cemara, kini sudah tidak bisa.
Warung yang biasa menjadi tempat mencari nafkah, hancur akibat dihantam ombak.
Seperti diketahui, pengunjung yang datang ke pantai Cemara bukan hanya warga dari Jember.
Akan tetapi, juga datang dari luar kabupaten. Seperti Lumajang dan Bondowoso.
Sehingga warga banyak yang menjadi pedagang. Hari libur maupun hari besar kadang, pengunjung banyak yang ke pantai itu.
Kini, para pemilik warung yang warungnya rusak, harus berbenah lagi dan belum bisa jualan.
Sementara, sejumlah warung juga terancam dihantam gelombang.
Banyak posisi warung yang kini sudah dekat dengan laut, akibat pasir terkikis ombak besar.
Warga yang warungnya rusak dan kini yang warungnya terancam ombak, dulunya jauh dari laut. Namun, karena beberapa bulan terakhir kondisi ombak besar, sehingga terancam rusak. Alhasil, tak ada lagi tempat jualan di sekitar pantai.
Hal ini yang diharapkan oleh para pedagang agar ada perhatian dari pemerintah.
Sajib, 55, warga Dusun Getem, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemkab) Jember atau Bupati Jember Muhammad Fawaid hadir ke lokasi. Ini agar lokasi setempat juga menjadi perhatian pemerintah.
“Harapannya bupati bisa turun langsung melihat kondisi rakyatnya. Terutama pemilik warung di pantai Cemara,” katanya. Dia menyebut, banyak warung yang sudah ambruk dan saat ini sebagian warung terancam dihantam ombak.
Bahkan, ada juga rumah warga yang terancam ombak. Sehingga, pemilik rumah harus memasang ratusan sak di belakang rumahnya.
Ini guna mencegah agar hantaman ombak tidak mengancam bagian pondasi.
“Yang parah itu gelombang datang malam hari, pemilik warung yang awalnya pulang sore, pagi melihat warungnya sudah hancur,” kata Sajib.
Warung milik Dian, anaknya, juga hancur dihantam ombak besar. Dia bahkan sudah pindah dua kali, tetapi tetap hancur. Saat berita ini ditulis, untuk sementara waktu tidak jualan karena sudah tidak ada tempat lagi.
Sebagai informasi, ombak besar dan tinggi ini diprediksi akan terus terjadi hingga bulan September 2025.
“Warung saya sudah pindah tiga kali, kini sudah mempersiapkan lagi untuk pindah. Uang hasil jualan sedikit demi seikit dikumpulkan untuk membuat warung lagi,” ucapnya.
Saat ini, akibat ombak besar, jarak muara sungai dengan pondasi warung hanya tinggal 1 meter. Sementara tempat duduk orang konsumen raib dihantam ombak besar.
Sajib dan sejumlah pedagang berharap agar bupati, atau gubernur mendatangi lokasi sehingga tau kondisi di pantai Cemara.
“Saya hanya berharap kepada Bupati Jember maupun Gubernur Jatim untuk melihat kondisi warganya di pantai Cemara. Warga hanya mengusulkan agar di sekitar muara sungai itu dibuatkan tangkis atau tembok agar rumah warga aman,” jelasnya.
Selama ini, warung-warung milik warga sudah banyak yang rusak dan tidak pernah ada perhatian dari pemerintah paling bawah hingga paling atas. Lantas, bisakan bila ada sebagian bantuan UMKM untuk mereka yang warungnya rusak?
Bakir, Kepala Dusun Getem, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger mengatakan, puluhan warung milik warga sudah hancur. Mereka sudah tidak bisa berjualan lagi karena setiap kali pindah terus dihantam gelombang.
“Bahkan ada pemilik warung, setiap sore tempat duduknya dipindah ketempat aman. Setelah air mulai surut dipasang lagi,.” ucapnya.
Selain itu, ada juga pemilik warung yang enggan pindah lagi, karena sudah tidak ada tempat untuk membuat warung lagi.
Warga yang seperti ini, bertahan dengan memasang ratusan sak untuk pengaman warungnya agar tidak rusak dihantam ombak.
“Tetapi, banyak warung yang sudah hancur,” ucapnya.
Sementara itu, jika ombak tinggi, jalur lintas selatan (JLS) jurusan Jember – Lumajang juga terancam.
Ini karena ombak yang tinggi terus terjadi dan sudah mendekati pemukiman warga.
Di lokasi, juga ada tempat parkir mobil yang awalnya jauh dari pantai, kini tersisa dua meteran saja akibat tergerus gelombang laut. (jum/nur)
Editor : M. Ainul Budi