Radar Jember – Deru ombak di pesisir Dusun Getem dan Kalimalang, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, kemarin (11/8), terdengar menggelegar.
Gelombang besar berulang kali menghantam pantai.
Menjadi ujian baru bagi para nelayan yang kembali beraktivitas setelah sempat terhenti.
Selama hampir sepekan sejak awal Agustus, plawangan, jalur keluar masuk perahu di muara Pantai Cemara, tertutup tumpukan pasir laut.
Arus pasang dan ombak tinggi membuat nelayan tak bisa berlayar.
“Nelayan yang sebelumnya telanjur berangkat, jukungnya di parkir di sekitar Sungai Bedadung, Desa Puger Kulon,” kata Pak Reni, 50, warga setempat.
Akibatnya, hasil tangkapan ikan harus diangkut dari lokasi yang jauh.
Namun, sejak Sabtu (9/8) pasir di plawangan mulai menghilang.
Arus kembali terbuka, memberi harapan baru.
Sejak itu, perahu-perahu nelayan kembali meluncur ke tengah laut.
Meski harus menunggu air pasang dan melawan ombak ganas.
Setiap jukung yang melewati plawangan bahkan terlihat meloncat-loncat akibat hantaman gelombang besar.
Beberapa perahu masih kesulitan menembus muara karena arus deras.
Bagi nelayan, lautan adalah sumber rezeki.
Mereka berangkat dengan harapan penuh, pulang dengan doa agar tangkapan melimpah.
Di situlah roda ekonomi berputar, hasil laut menjadi sumber penghidupan keluarga.
KBO Satpolair Polres Jember Aiptu Agus Riyanto mengingatkan agar nelayan tetap waspada.
“Tetap gunakan pelampung saat berangkat dan melewati plawangan Pantai Cemara,” imbaunya.
Ia juga mengingatkan agar nelayan yang sakit tidak memaksakan diri.
“Minggu (10/8) lalu ada nelayan yang ditemukan meninggal di jukung karena sakit. Kalau sakit lebih baik istirahat atau harus ada temannya saat melaut,” pungkasnya. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh