Musik dan lagu-lagu kerap terlintas di telinga masyarakat. Namun, biasanya bukan musik lokal, karena masih dianggap kampungan. Di Kalisat ada komunitas yang gemar memproduksinya.
MEGA SILVIA, KALISAT, Radar Jember.
MALAM itu, ruang yang tak terlalu luas itu cukup gemerlap. Musik menggema, cahaya lampu warna-warni silih berganti mengikuti irama yang dimainkan empat band indie lokal. Sementara, malam di luar cukup sunyi. Ruangan itu penuh dengan keriangan para musisi dan pemain musik yang baru saja membuat pertemuan dengan cara bermusik.
Bukan hal yang wah. Namun, awal perkumpulan itu terlihat akan perlahan menjadi satu hal besar di kemudian hari. Entah, tapi keyakinan itu terlihat dan terdengar dari setiap penampilan mereka yang memukau. Bangga dengan karya musiknya masing-masing. Mulai dari genre musik pop, shoegaze, hingga garage rock.
Eksisnya band-band indie masih belum terlalu menjamur. Mungkin memang ada, tapi bisa dihitung. Apalagi jika band indie skala lokal.
Selera musik tiap generasi tentu berbeda. Tapi, mayoritas di antaranya berkiblat pada lagu, penyanyi, dan grup musik ibu kota. Sepintas alasan itulah yang membuat Muhammad Iqbal bertekad membangun grup band yang dinamainya Selokan Belakang untuk menciptakan gaya bermusiknya sendiri.
Jamet Jember Utara, salah satu lagu yang diciptakan Iqbal sebagai bentuk perlawanan dominasi musik asal Jakartaan. Yang tanpa sadar telah merasuki pikiran orang-orang sehingga menganggap musik dan lagu yang dibawa dari Jakarta itu lebih keren.
“Ada dominasi yang harus dilawan. Gak melulu dari Jakarta itu keren, sementara stempel yang gak keren dicapkan ke desa dan dianggap kampungan,” ujarnya seusai menggelar konser mini band-band indie Jember di Ruang Ingatan Sudut Kalisat.
Pekikan lagu itu mewarnai gelaran musik sederhana yang juga menghadirkan berbagai grup band indie Jember, seperti Kahlo, Grey Castle, dan Jouhatsu. Semuanya berdiri dengan wajah gembira ikut bernyanyi. Mereka menamai gelaran malam itu.
“Sepertinya Ini Bukan Waktu yang Tepat untuk Tidur”. Sebuah ruang alternatif bagi band lokal yang tengah menggarap project musik. Memilih tempat di pinggiran kota Jember pun akhirnya membuktikan bahwa gelaran musik semacam itu juga tak hanya bisa dibuat di kampus.
Single lagu ketiga yang diciptakan Iqbal itu masih bergenre sama, garage rock. Gaya musik rock and roll yang penuh enerjik. Mahasiswa Universitas Jember (Unej) itu berangkat dari genre kesukaannya itu, dia hanya ingin membuat musik lokal itu dipandang keren.
“Pengen bikin musik yang keren dan bersenang-senang dengan teman-teman,” ungkap pria asal Desa Biting, Kecamatan Arjasa, itu.
Lagu Jamet Jember Utara secara tidak langsung mengajak para pendengar dan penikmatnya untuk berbangga pada tempat asalnya, Jember, khususnya wilayah utara.
Stereotipe yang menganggap bahwa Jember utara itu kampungan, hanyalah anggapan tak berdasar belaka.
“Suatu hari nanti pengen bikin musik garage rock dan project solo pop dan menjadikan musik bisa mendekatkan pada wacana-wacana yang diperbincangkan,” ulas pria yang menyukai band The Strokes itu.
Musik menjadi cara bagi Iqbal untuk melepaskan penat dari aktivitas perkuliahan. Mempelajari banyak hal baru yang tak didapatkan di bangku kelas melalui bermusik dan budaya populer. Menurutnya, musik adalah alternatif untuk berserikat hingga belajar wacana.
Setiap lirik lagu yang diciptakan biasanya dekat dengan dirinya, lingkungan, atau perkumpulannya. Pengetahuan itu ditarik pada setiap bait menjadi sebuah lagu. Selain menjadi vokalis, dia juga sebagai salah satu gitaris di dalam grup musiknya.
Seperti lagu terbaru yang belum dirilisnya di platform-platform digital, Nyala Melakukan. Tetap bertahan pada genre yang sama, lagu tersebut sangat relate dengan kecanggihan teknologi digital hari ini.
Yaitu penggunaan ChatGBT bagi seorang mahasiswa, khususnya untuk mempermudah menyelesaikan tugas maupun sebuah artikel.
Bukan hal mustahil bagi Iqbal untuk membuat musik lokal dicintai oleh masyarakat Jember. Dia optimistis, musisi lokal akan terus bisa produktif tanpa takut tak ada yang mendengar.
Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit band lokal, dia yakin musik lokal akan menggema. Apalagi, teknologi mendukung rekaman lagu tak harus di tempat mewah dengan peralatan mahal.
Iqbal tetap berpegang bahwa orang-orang Jember harus punya rasa bangga dengan tempat kelahirannya. Tidak ada perasaan minder di tengah dominasi masyarakat kota.
“Dengan mengumpulkan band-band lokal, dan ingin melakukannya lagi, sebenarnya, ya, untuk bersenang-senang bareng dan itu keren. Dari sana pula kami ingin ada perbincangan-perbincangan yang sehat,” ucap pria yang saat ini tengah menyiapkan mini album grup musiknya itu. (c2/nur)
Editor : Radar Digital