SUMBERSARI, Radar Jember – Rumor munculnya calon tunggal belakangan berembus kencang. Hal itu seiring dengan santernya perkembangan rekomendasi penugasan yang dikantongi Muhammad Fawait, anggota DPRD Jatim. Di sisi lain, lantaran rekomendasi itu belum pasti, ada potensi head to head dengan Hendy Siswanto, Bupati Jember saat ini.
Seperti diketahui, rekomendasi kepada Fawait baru sebatas penugasan untuk mencari pendampingnya. Sementara, bakal calon petahana, Bupati Hendy Siswanto, belum mendapatkan rekomendasi penugasan seperti yang diperoleh Fawait. Demikian juga Faida, Nanang Handono, maupun Achmad Sudiyono, yang belum mengantongi satupun rekom dari parpol.
Kubu bakal paslon perseorangan pun sepertinya bernasib suram. Pasangan Muhammad Jaddin Wajads dan Arismaya Parahita juga tengah terseok-seok lantaran masih dihadapkan dengan tugas berat, pada proses verifikasi faktual oleh KPU dan Bawaslu. Melihat perkembangan terakhir proses verfak pasangan ini, hanya keajaiban yang akan membuat keduanya lolos ke tahapan selanjutnya.
Direktur Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) Baihaqi Siradj menyebut, fenomena kotak kosong dalam pilkada sangat mungkin terjadi. Menurutnya, meski Fawait telah memborong rekomendasi partai hari ini, bukan berarti dukungan parpol itu bisa selaras dengan dukungan dan keinginan masyarakat. Sebab, rekom partai itu disebutnya tidak terlalu berpengaruh terhadap suara elektoral di masyarakat.
Selain itu, hasil survei elektabilitas dan popularitas Versi ARCI per 23 Juni hingga 5 Juli 2024, posisi Hendy teratas dengan 36,6 persen. Kemudian, disusul Fawait 32,3 persen, Faida 20,4 persen, dan Gus Jaddin 8,2 persen. Dari situ, Baihaqi berkeyakinan, meski parpol menghendaki dukungan itu kepada satu bacabup, atau mengarah ke calon tunggal, namun masyarakat justru sebaliknya. Menginginkan adanya calon lebih dari satu. "Saya melihatnya, bisa saja masyarakat menginginkan kontestasi pilkada ini tanpa ada calon tunggal. Bisa saja seperti itu," katanya.
Bahkan, kata Baihaqi, meski nantinya semua partai merekom Fawait, dan keluar sebagai satu-satunya calon tunggal dalam Pilkada Jember kali ini, Baihaqi meyakini Fawait bisa menang melawan kotak kosong. Namun, jika berakhir dengan kemunculan dua calon bupati, dia meyakini yang akan bersaing ketat (head to head) adalah petahana Bupati Hendy dengan Fawait. "Terkecuali Fawait menjadi calon tunggal, pasti menang, ataupun Fawait melawan Faida, dia (Fawait) pasti menang. Tapi, kalau Hendy bisa masuk ke pencalonan, Fawait harus berhati-hati," imbuhnya.
Sepanjang berjalannya pilkada atau pilbup di Jember, belum sekalipun terjadi calon tunggal atau calon bupati yang melawan kotak kosong. Terlepas dari itu, berjalannya tahapan pilkada kali ini diprediksi masih sangat dinamis. Berbagai kemungkinan bisa saja berubah dalam hitungan hari ataupun jam.
Mengenai peluang melawan kotak kosong itu, Fawait sendiri menanggapi santai. Dia cukup percaya diri. Modal elektabilitas dan dukungan parpol yang telah dikantongi hari ini dapat menjadi modal penting menenangkan suara pemilih sekitar 1,9 juta DPT di Kota Cerutu ini. "Mau lawannya banyak, mau head to head, atau bahkan lawan kotak kosong sekalipun, kami siap. Selama itu masih mengacu aturan yang ada, dan berjalan demokratis. Dan lagi, melawan kotak kosong itu kan tidak melanggar konstitusi kita," katanya.
Sementara itu, selain Hendy dan Fawait, mantan bupati Jember, Faida, juga digadang-gadang akan mungkin mendapatkan tiket. Bisa jadi, Faida akan menjadi kuda hitam dalam pencalonan Pilbup Jember 2024. Ini bisa saja terjadi karena dalam peta politik tak ada yang tak mungkin. (mau/c2/nur)
Editor : Radar Digital